Abu Vulkanik Anak Krakatau Hujani Bandar Lampung, Warga Keluhkan Debu hingga ke Mata dan Wajah

Memuat berita

Nasional

Abu Vulkanik Anak Krakatau Hujani Bandar Lampung, Warga Keluhkan Debu hingga ke Mata dan Wajah

Fazlur Rahman · 06 September 2026 · 11:27 WIB · 2 dibaca
Abu Vulkanik Anak Krakatau Hujani Bandar Lampung, Warga Keluhkan Debu hingga ke Mata dan Wajah

Foto: CNN INDONESIA

Erupsi Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda mulai memberikan dampak langsung terhadap masyarakat di Provinsi Lampung. Sejumlah warga melaporkan paparan debu atau abu vulkanik yang terbawa angin hingga ke permukiman sejak Sabtu, 5 September 2026 malam.

Warga di Bandar Lampung menjadi salah satu kelompok yang merasakan dampak tersebut. Kota yang berjarak sekitar 80 kilometer dari Gunung Anak Krakatau itu dilaporkan mengalami hujan abu vulkanik yang terbawa oleh angin menuju wilayah Lampung.

Abu vulkanik yang jatuh ke permukiman membuat sejumlah rumah warga menjadi kotor. Partikel debu juga menimbulkan keluhan karena terasa mengenai mata dan wajah warga yang beraktivitas di luar ruangan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena material vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dapat terbawa angin dan mencapai wilayah yang berada cukup jauh dari pusat aktivitas gunung api. Jarak puluhan kilometer ternyata tidak sepenuhnya membuat masyarakat terbebas dari dampak erupsi ketika kondisi atmosfer mendukung penyebaran abu.

Paparan abu vulkanik juga dilaporkan mencapai Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Dengan demikian, dampak erupsi tidak hanya dirasakan masyarakat di pusat Kota Bandar Lampung, tetapi juga mulai menjangkau wilayah lain di Provinsi Lampung.

Bagi warga, kemunculan abu vulkanik menjadi pengalaman yang cukup mengganggu. Debu yang menempel pada rumah dan lingkungan sekitar membuat aktivitas sehari-hari harus dilakukan dengan lebih berhati-hati, terutama ketika masyarakat berada di ruang terbuka.

Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau. Gunung api yang berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra itu dilaporkan mengalami erupsi menerus sejak Jumat, 4 September 2026 sekitar pukul 23.07 WIB.

Aktivitas erupsi tersebut juga disertai fenomena lava fountain

Sebaran material vulkanik kemudian menjadi persoalan yang lebih luas karena dipengaruhi kondisi atmosfer. Abu yang terangkat dari kawasan erupsi dapat bergerak mengikuti arah angin sehingga wilayah terdampak bisa berada jauh dari lokasi Gunung Anak Krakatau.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menuju sejumlah wilayah. Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pada Minggu, 6 September 2026 pukul 04.00 WIB, terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik.

Salah satu klaster teridentifikasi bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya. Sebaran abu tersebut terpantau dari permukaan hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki.

Pergerakan abu menuju wilayah Lampung menunjukkan bahwa dinamika atmosfer di sekitar Selat Sunda juga berperan penting dalam menentukan luas wilayah yang terdampak. Arah dan kecepatan angin dapat membuat material vulkanik berpindah dari kawasan gunung api menuju permukiman maupun wilayah lain.

Bagi masyarakat yang mengalami paparan abu, kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya memperhatikan informasi resmi mengenai perkembangan erupsi. Ketika abu vulkanik mulai turun di permukiman, masyarakat perlu membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan yang sesuai untuk mengurangi paparan debu, khususnya pada mata dan saluran pernapasan.

Warga juga perlu memperhatikan kebersihan lingkungan. Abu vulkanik yang menempel di permukaan rumah, kendaraan, maupun fasilitas umum dapat kembali beterbangan ketika terkena angin atau aktivitas manusia.

Erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini masih menjadi perhatian karena aktivitasnya dapat berubah sewaktu-waktu. Status gunung api tersebut berada pada Level III atau Siaga

Dampak erupsi juga telah dirasakan sektor transportasi. Sebaran abu vulkanik sebelumnya menyebabkan sejumlah bandar udara melakukan penutupan sementara, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Raden Inten II di Lampung, dan Bandara Budiarto Curug.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa erupsi Anak Krakatau tidak hanya berdampak pada kawasan sekitar gunung. Material vulkanik yang terbawa atmosfer dapat memengaruhi kehidupan masyarakat, kebersihan lingkungan, hingga operasional transportasi udara di wilayah yang berada jauh dari sumber erupsi.

Bagi masyarakat Lampung, terutama warga Bandar Lampung dan Lampung Selatan, kemunculan hujan abu menjadi perkembangan terbaru yang perlu diwaspadai. Pemantauan terhadap arah pergerakan abu dan perkembangan aktivitas gunung api menjadi penting untuk mengetahui potensi dampak lanjutan.

Gunung Anak Krakatau kembali memperlihatkan bahwa aktivitas vulkanik tidak mengenal batas wilayah administratif. Ketika material erupsi terbawa angin, masyarakat yang tinggal puluhan kilometer dari pusat letusan pun dapat merasakan dampaknya secara langsung.

Dari rumah yang tiba-tiba dipenuhi debu hingga partikel yang terasa di mata dan wajah, erupsi Anak Krakatau kini bukan lagi sekadar fenomena yang terlihat dari kejauhan. Bagi warga Lampung, dampaknya telah hadir di depan mata dan menjadi pengingat bahwa kewaspadaan tetap diperlukan selama aktivitas gunung api masih berlangsung.