Aktivis Dihentikan Militer Israel Saat Coba Antar Makanan dan Air ke Rumah Warga Palestina yang Dikepung Pemukim di Desa Qusra

Memuat berita

Berita International

Aktivis Dihentikan Militer Israel Saat Coba Antar Makanan dan Air ke Rumah Warga Palestina yang Dikepung Pemukim di Desa Qusra

Devi Sry Atmaja · 20 Agustus 2026 · 18:24 WIB · 3 dibaca
Aktivis Dihentikan Militer Israel Saat Coba Antar Makanan dan Air ke Rumah Warga Palestina yang Dikepung Pemukim di Desa Qusra

Foto: AFP

Sejumlah aktivis kemanusiaan mendatangi Desa Qusra di Tepi Barat yang diduduki untuk mengantarkan bantuan makanan dan air kepada warga Palestina yang rumahnya dikepung pemukim Israel. Namun, upaya tersebut dihentikan oleh militer Israel. Kejadian ini berlangsung di tengah pengepungan yang sudah berlangsung beberapa hari terhadap sejumlah rumah warga Palestina di kawasan Ras al-Ain, Desa Qusra, selatan Nablus. Menurut laporan, para pemukim memblokir akses jalan, memutus pasokan listrik dan air, serta membatasi pergerakan penghuni rumah.

Aktivis yang terdiri dari warga lokal, internasional, dan sebagian warga Israel berusaha membawa bantuan logistik berupa makanan dan air minum ke lokasi. Mereka bermaksud langsung menyerahkan bantuan kepada keluarga yang terjebak di dalam rumah. Namun, pasukan militer Israel menghentikan rombongan tersebut di jalan menuju rumah-rumah yang dikepung. Menurut keterangan warga yang berada di dalam rumah, bantuan akhirnya hanya bisa diletakkan di luar dan tidak langsung diserahkan kepada mereka. Pihak militer Israel menyatakan kawasan itu ditetapkan sebagai zona militer tertutup sehingga warga sipil Israel di antara aktivis tidak diizinkan masuk. Mereka membantah mencegah transfer bantuan sepenuhnya.

Situasi di Qusra memanas sejak sekitar 9 Agustus 2026, ketika sekelompok pemukim mulai mengepung tiga rumah milik keluarga Abu Rida dan Hassan. Sekitar 15 warga Palestina, termasuk anak-anak, dilaporkan terjebak di dalam. Pasokan kebutuhan pokok semakin menipis, sementara gempa susulan kekerasan dan ketegangan terus berlanjut.

Wali Kota Qusra, Abdul Azim Wadi, mengatakan militer Israel menggunakan beberapa rumah Palestina yang dikosongkan sebagai pos. Pihak militer Israel menyatakan operasi dilakukan untuk melindungi warga dan menginstruksikan agar penduduk Qusra tetap tinggal di rumah mereka. Aktivis dan kelompok hak asasi manusia mengecam pengepungan tersebut sebagai tindakan tidak manusiawi. Mereka mencatat bahwa upaya bantuan berulang kali terhambat, sementara pemukim masih berada di sekitar lokasi. Beberapa laporan menyebutkan pemukim sempat kembali mendirikan tenda di dekat rumah setelah sempat dibubarkan.

Pengepungan di Qusra menjadi salah satu contoh ketegangan yang terus meningkat di Tepi Barat. Kekerasan yang melibatkan pemukim dan pembatasan pergerakan warga Palestina kerap memicu kecaman internasional. Organisasi hak asasi manusia dan badan PBB menyerukan perlindungan terhadap warga sipil serta akses bantuan kemanusiaan yang tidak terhambat. Hingga berita ini diturunkan, situasi di Desa Qusra masih tegang. Keluarga yang dikepung terus bertahan di dalam rumah, sementara upaya penyaluran bantuan dan penyelesaian situasi masih berlangsung di tengah kehadiran militer dan pemukim.