Detik-detik Gunung Anak Krakatau Erupsi, Nelayan Saksikan Semburan Material dari Laut
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali meningkat. Detik-detik erupsi gunung api yang berada di perairan Selat Sunda itu bahkan disaksikan langsung oleh sejumlah nelayan yang tengah berada di sekitar kawasan gunung.
Erupsi tersebut terjadi pada Sabtu (5/9/2026) dan terekam dalam sejumlah video yang memperlihatkan aktivitas vulkanik dari arah Gunung Anak Krakatau. Dari tengah perairan, para nelayan melihat kilatan cahaya, semburan material panas, hingga mendengar suara dentuman yang berasal dari arah kawah aktif.
Salah seorang warga yang berada di sekitar perairan, Eghie Febriansyah, menceritakan pengalaman saat menyaksikan erupsi tersebut. Ia bersama sejumlah rekannya sedang memancing ketika aktivitas vulkanik mulai terlihat.
Menurut Eghie, sebelum erupsi terjadi, kawasan gunung masih diselimuti kabut. Namun, beberapa saat kemudian aktivitas vulkanik mulai terlihat dan disertai suara dentuman. Ia memperkirakan terdengar sekitar tiga kali dentuman dari arah Gunung Anak Krakatau.
Momen tersebut berlangsung dalam suasana yang cukup menegangkan. Dari kejauhan, semburan material panas terlihat keluar dari kawasan gunung, sementara kilatan cahaya tampak menerangi sekitar lokasi. Para nelayan yang berada di laut kemudian berupaya menjauh dari kawasan tersebut untuk menghindari potensi bahaya dari material vulkanik.
Aktivitas itu bukan sekadar erupsi sesaat. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB. Erupsi disertai suara gemuruh dan fenomena semburan lava yang menyerupai lava fountain atau air mancur lava.
Fenomena lava fountain terjadi ketika material magma panas terdorong keluar dari kawah dan membentuk semburan pijar. Dalam kondisi tertentu, aktivitas tersebut dapat disertai lontaran batu pijar dan abu vulkanik sehingga kawasan di sekitar kawah menjadi zona berbahaya.
Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. Pemerintah melalui Badan Geologi dan PVMBG meminta masyarakat maupun wisatawan tidak mendekati kawasan gunung dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif karena masih terdapat potensi lontaran material vulkanik.
Peringatan tersebut menjadi penting bagi nelayan yang beraktivitas di perairan sekitar Selat Sunda. Aktivitas erupsi yang terjadi dari tubuh gunung dapat disertai lontaran material panas dan abu vulkanik yang membahayakan apabila kapal berada terlalu dekat dengan sumber erupsi.
Di sisi lain, masyarakat pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang serta mengikuti perkembangan informasi dari otoritas terkait. Badan Geologi juga mengimbau masyarakat tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau hanya untuk menyaksikan atau merekam aktivitas erupsi.
Kekhawatiran mengenai potensi tsunami juga sempat muncul mengingat sejarah Gunung Anak Krakatau. Namun, berdasarkan evaluasi PVMBG, kondisi tubuh Gunung Anak Krakatau yang tumbuh kembali setelah peristiwa 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan saat ini tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Aktivitas vulkaniknya terus dipantau melalui Pos Pengamatan Gunung Api di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.
Erupsi terbaru ini kembali mengingatkan bahwa keindahan Gunung Anak Krakatau menyimpan potensi bahaya yang tidak dapat diabaikan. Bagi masyarakat yang beraktivitas di laut, keselamatan harus menjadi prioritas dengan menjaga jarak dari kawasan terlarang dan tidak memaksakan diri mendekati lokasi erupsi demi mendapatkan rekaman.
Informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau sebaiknya hanya mengacu pada keterangan resmi Badan Geologi, PVMBG, MAGMA Indonesia, serta pemerintah daerah dan lembaga penanggulangan bencana. Masyarakat juga diimbau tidak menyebarkan video atau informasi yang belum terverifikasi untuk menghindari kepanikan.