Cak Imin Singgung NU Dipimpin Alumni HMI, Anas Urbaningrum Balas dengan Guyonan “Haji Muhaimin Iskandar”
Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menjadi sorotan setelah melontarkan pernyataan mengenai kondisi Nahdlatul Ulama (NU) yang dikaitkan dengan latar belakang organisasi sejumlah tokoh yang memimpin.
Dalam sebuah mimbar, Cak Imin menyampaikan pernyataan, “NU terpuruk karena dipimpin alumni HMI.” Pernyataan tersebut kemudian mendapat respons dari mantan politikus Partai Demokrat Anas Urbaningrum melalui akun X miliknya.
Anas menyayangkan pernyataan tersebut. Ia menilai Cak Imin yang memiliki pengalaman panjang sebagai politisi, aktivis, sekaligus pemimpin organisasi seharusnya dapat memilih diksi yang lebih tepat ketika menyampaikan pandangan mengenai dinamika NU dan organisasi kemahasiswaan.
“Kalau kayak kekurangan kosa kalimat aja sampeyan,” tulis Anas merespons pernyataan Cak Imin.
Cak Imin kemudian membalas komentar tersebut dengan nada bercanda. “Ampuuuuun..,” tulisnya, sembari menjelaskan bahwa pernyataannya mengenai alumni HMI merupakan bagian dari gojlokan
Penjelasan tersebut membuat percakapan keduanya bergeser dari kritik menjadi saling melempar gurauan. Anas pun kemudian ikut meredakan suasana dan menegaskan bahwa pernyataan Cak Imin tidak perlu menjadi awal permusuhan antara HMI dan PMII.
Anas memilih menanggapi polemik tersebut dengan humor. Ia mengubah kepanjangan HMI menjadi “Haji Muhaimin Iskandar”, yang merupakan permainan kata dengan mengambil nama Cak Imin.
“Santai aja. HMI itu bisa kok dipanjangkan menjadi Haji Muhaimin Iskandar,” ujar Anas dalam responsnya.
Gurauan tersebut sekaligus menjadi upaya untuk mencairkan ketegangan yang muncul setelah pernyataan Cak Imin ramai diperbincangkan. Alih-alih memperpanjang perdebatan mengenai latar belakang organisasi, Anas justru mengarahkan percakapan ke candaan yang lebih ringan.
Polemik ini muncul ketika perhatian publik tengah tertuju pada Muktamar ke-35 NU di Jombang. Forum besar organisasi tersebut menjadi ruang bagi berbagai pembahasan mengenai masa depan NU, termasuk dinamika kepemimpinan dan arah organisasi.
Dalam situasi seperti itu, pernyataan mengenai latar belakang organisasi seseorang dapat dengan mudah menjadi bahan perdebatan, terlebih HMI dan PMII merupakan dua organisasi mahasiswa Islam yang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan sosial, intelektual, dan politik Indonesia.
Namun, respons Anas menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang organisasi tidak semestinya berkembang menjadi pertentangan antarkelompok. Ia secara eksplisit menyampaikan bahwa komentar Cak Imin tidak perlu dijadikan pemicu permusuhan antara HMI dan PMII.
Cak Imin sendiri telah memberikan konteks atas pernyataannya dengan menyebut ucapan tersebut sebagai bagian dari candaan internal PMII. Dengan penjelasan itu, polemik yang sempat muncul di ruang publik kemudian diwarnai dengan saling melempar humor antara kedua tokoh.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana pernyataan bernuansa kritik atau candaan dalam forum tertentu dapat memperoleh tafsir berbeda ketika beredar luas di media sosial. Kalimat yang disampaikan dalam konteks internal dapat menjadi bahan perdebatan ketika dipisahkan dari situasi dan latar belakang saat pernyataan itu disampaikan.
Pada akhirnya, percakapan antara Cak Imin dan Anas berujung pada suasana yang lebih cair. Anas tidak hanya mengkritik pilihan kata Cak Imin, tetapi juga memilih menutup polemik dengan gurauan “Haji Muhaimin Iskandar”.
Di tengah dinamika Muktamar ke-35 NU, perdebatan tersebut menjadi salah satu percakapan yang menarik perhatian publik. Namun, pesan yang disampaikan Anas cukup jelas: perbedaan sejarah dan latar belakang HMI maupun PMII tidak seharusnya menjadi alasan untuk membangun permusuhan di antara kedua organisasi.