Duka Venezuela Belum Usai: Korban Gempa Kembar Terus Bertambah, Ribuan Penyelamat Masih Berpacu dengan Waktu

Memuat berita

Berita International

Duka Venezuela Belum Usai: Korban Gempa Kembar Terus Bertambah, Ribuan Penyelamat Masih Berpacu dengan Waktu

Devi Sry Atmaja · 03 Juli 2026 · 17:22 WIB · 2 dibaca
Duka Venezuela Belum Usai: Korban Gempa Kembar Terus Bertambah, Ribuan Penyelamat Masih Berpacu dengan Waktu

Foto: REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria

CARACAS – Sembilan hari telah berlalu sejak gempa kembar berkekuatan besar mengguncang Venezuela. Namun, bagi ribuan keluarga, waktu seolah berhenti pada hari ketika bumi berguncang dan meluluhlantakkan rumah, sekolah, rumah sakit, hingga pusat-pusat kehidupan masyarakat.

Harapan untuk menemukan lebih banyak korban selamat kini semakin menipis. Di balik gunungan beton yang runtuh, tim penyelamat masih bekerja siang dan malam, menyisir setiap celah reruntuhan dengan keyakinan bahwa masih ada nyawa yang dapat diselamatkan.

Berdasarkan pembaruan terbaru, jumlah korban jiwa akibat gempa kembar yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026 telah mencapai 2.595 orang. Selain itu, lebih dari 11.000 orang mengalami luka-luka, sementara puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di tenda-tenda pengungsian maupun tempat penampungan darurat. Proses identifikasi korban dan pencarian orang hilang masih terus berlangsung sehingga angka korban diperkirakan masih dapat berubah.

Gempa berkekuatan Magnitudo 7,2 yang disusul gempa Magnitudo 7,5 hanya dalam hitungan detik menciptakan kerusakan luar biasa di berbagai wilayah, terutama di negara bagian La Guaira dan kawasan sekitar ibu kota Caracas. Ribuan bangunan roboh, jalan-jalan retak, jaringan listrik sempat lumpuh, sementara sejumlah fasilitas publik tidak lagi dapat beroperasi.

Citra kehancuran di sejumlah kota bahkan disebut menyerupai kawasan pascaperang. Hamparan puing memenuhi jalan, kendaraan tertimbun reruntuhan, dan bangunan yang dulunya menjadi pusat aktivitas masyarakat kini hanya menyisakan rangka beton yang rapuh.

Di tengah keputusasaan, secercah harapan masih sempat muncul. Seorang petugas keamanan berusia 43 tahun berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup setelah terjebak selama delapan hari di bawah reruntuhan sebuah pusat perbelanjaan di La Guaira. Penyelamatan dramatis tersebut menjadi salah satu kisah yang menguatkan semangat para petugas untuk terus melanjutkan operasi pencarian, meski peluang menemukan korban selamat semakin kecil.

Pemerintah Venezuela mengerahkan sekitar 19.000 personel gabungan untuk mempercepat operasi pencarian, evakuasi, dan distribusi bantuan. Berbagai negara juga mengirimkan tim penyelamat, tenaga medis, rumah sakit lapangan, serta bantuan logistik guna membantu penanganan salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah modern Venezuela.

Meski demikian, respons pemerintah menuai kritik dari sebagian warga dan organisasi kemanusiaan. Sejumlah penyintas mengaku bantuan dan alat berat datang terlambat, sehingga pada hari-hari pertama pascagempa banyak proses evakuasi dilakukan secara mandiri oleh warga yang menggali reruntuhan dengan peralatan seadanya. Pemerintah membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa seluruh prosedur tanggap darurat telah dijalankan sejak awal bencana.

Di sisi lain, tantangan kemanusiaan terus membesar. Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal, rumah sakit bekerja melampaui kapasitas, sementara kebutuhan akan air bersih, makanan, obat-obatan, dan layanan kesehatan meningkat dari hari ke hari. Organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa fase pemulihan akan berlangsung panjang, mengingat luasnya kerusakan infrastruktur dan besarnya jumlah penyintas yang membutuhkan bantuan.

Lembaga pemodelan risiko bencana Verisk bahkan memperkirakan nilai kerugian ekonomi akibat gempa kembar tersebut dapat melampaui US$10 miliar. Selain ribuan korban jiwa, puluhan ribu bangunan dilaporkan mengalami kerusakan berat hingga hancur total, menjadikan proses rekonstruksi diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun.

Kini, ketika sirene ambulans mulai berganti dengan suara alat berat yang membersihkan puing-puing, Venezuela memasuki babak baru: bukan lagi sekadar menyelamatkan korban, melainkan membangun kembali kehidupan. Namun, bagi ribuan keluarga yang masih menanti kabar orang-orang tercinta, setiap bongkahan beton yang diangkat masih menyimpan satu harapan—bahwa keajaiban bisa saja datang, meski waktu terus berjalan.