Modal Cuma Rp3,2 Juta, Koperasi Merah Putih Banjarsari Solo Kini Raup Omzet Rp300 Juta dalam 6 Bulan
Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Solo, tengah menjadi sorotan publik setelah berhasil mengantongi omzet sekitar Rp300 juta sepanjang Januari hingga Juni 2026. Capaian ini menarik perhatian karena koperasi tersebut memulai operasionalnya dengan keterbatasan modal, sumber daya manusia, bahkan jam layanan yang hanya buka dua jam sehari. Modal awal pendiriannya pun sangat minim, hanya berasal dari simpanan pokok 32 anggota pendiri sebesar Rp100.000 per orang, atau setara total Rp3,2 juta.
Ketua KKMP Banjarsari, Budi Agung Setyowicoyo, mengungkapkan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari sejumlah strategi yang diterapkan sejak awal koperasi berdiri, mulai dari penentuan harga kompetitif hingga pengaturan jam operasional. "Ya, kami berangkat dari situ dan menyiasatinya uang yang sedikit ini diputar cepat supaya produknya bisa beragam," ujar Budi. KKMP Banjarsari resmi berbadan hukum sejak 25 Juni 2025 dan mulai beroperasi efektif pada Agustus tahun yang sama, sempat memulai usaha dari garasi milik Budi sebelum akhirnya berpindah ke rumah dinas kelurahan setempat karena belum mendapat bantuan dana maupun bangunan dari pemerintah pusat.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, KKMP Banjarsari mencatat rata-rata omzet harian sekitar Rp2 juta, dengan capaian tertinggi menyentuh Rp3,5 juta dalam sehari. Jumlah anggota koperasi pun tumbuh signifikan dari semula hanya 32 orang menjadi sekitar 130 anggota. Untuk semakin memaksimalkan pelayanan, mulai Agustus ini jam operasional gerai ditambah menjadi dua sesi, yakni pukul 09.00-11.00 dan 16.00-18.00, agar warga yang bekerja di pagi maupun siang hari tetap bisa berbelanja sepulang kerja.
Di sisi lain, KKMP Banjarsari terus mengembangkan layanan digital melalui aplikasi buatan sendiri bernama MyKopKel, yang diinisiasi dan dikembangkan langsung oleh Budi bersama tim teknis internal berisikan empat orang. Aplikasi ini hadir dalam dua versi, yakni versi web bagi pengelola koperasi untuk manajemen anggota, simpanan, unit usaha, hingga laporan keuangan sesuai standar akuntansi entitas privat, serta versi mobile bagi anggota yang dilengkapi fitur pencatatan simpanan, top up dompet digital, transaksi belanja online di fitur gerai, hingga pemantauan riwayat transaksi secara real time.
Kehadiran aplikasi MyKopKel ini pun menjadi pembeda dibanding koperasi lain yang masih mengandalkan pencatatan manual, sekaligus membuat masyarakat lebih percaya untuk berbelanja dan bergabung sebagai anggota. Tak heran, inovasi digital ini mulai menarik perhatian koperasi lain, dengan sekitar 30 Koperasi Merah Putih di Solo telah menyatakan minat menggunakan aplikasi tersebut. Proses integrasi MyKopKel dengan Sistem Informasi Manajemen Koperasi Desa (Simkopdes) milik Kementerian Koperasi pun tengah dipersiapkan dalam waktu dekat.
Keberhasilan KKMP Banjarsari ini menjadi bukti bahwa koperasi kelurahan mampu berkembang pesat meski dengan modal dan sumber daya terbatas, asalkan dikelola dengan strategi tepat dan pemanfaatan teknologi digital yang optimal. Kisah sukses ini berpotensi menjadi model pengelolaan koperasi modern di tingkat kelurahan yang dapat direplikasi oleh Koperasi Merah Putih lain di berbagai daerah di Indonesia.