Noussair Mazraoui: Dari Bintang Manchester United yang Bersinar di Piala Dunia 2026 Menuju Panggilan Spiritual sebagai Hafiz dan Imam Masjid
Jakarta – Di tengah gemerlapnya sorotan lampu stadion dan gaji miliaran rupiah di Premier League, seorang pesepakbola profesional berusia 28 tahun justru memilih jalan yang jarang diambil banyak atlet: melepaskan segalanya demi mendekatkan diri kepada Tuhan. Noussair Mazraoui, bek sayap Manchester United dan pilar Timnas Maroko, menggemparkan dunia sepak bola dengan pengakuannya yang mengejutkan selama Piala Dunia 2026.
Dalam wawancara dengan media Spanyol AS, Mazraoui menyatakan: “Saya mungkin memutuskan untuk pensiun setelah Piala Dunia. Hidup ini singkat. Saya ingin menghafal Al-Quran dan suatu hari nanti menjadi imam di sebuah masjid.” Pernyataan ini langsung menjadi viral, memicu reaksi luas dari komunitas sepak bola hingga umat Muslim di seluruh dunia.
Lahir di Leiderdorp, Belanda, dari orang tua asal Maroko, Mazraoui dikenal sebagai pemain serba bisa yang tangguh. Ia meniti karier profesional di Ajax Amsterdam, di mana ia menjadi salah satu bek sayap paling menjanjikan di Eropa. Kesuksesannya membawa ia ke Bayern Munich, sebelum akhirnya bergabung dengan Manchester United pada 2024 dengan nilai transfer yang signifikan. Kontraknya dengan Setan Merah berlaku hingga Juni 2028.
Di level internasional, Mazraoui turut membawa Maroko mencapai prestasi bersejarah, termasuk posisi keempat di Piala Dunia 2022. Kini, di Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, ia kembali menjadi andalan “Singa Atlas” dengan penampilan impresif yang disebut-sebut “gacor” oleh fans. Usianya yang masih muda dan performa konsisten membuat keputusannya ini semakin mengejutkan. Banyak yang bertanya: mengapa meninggalkan puncak karier saat sedang digaji mahal dan dicintai fans?
Bagi Mazraoui, keputusan ini bukanlah hal baru. Sejak masa di Bayern Munich, ia telah terbuka tentang keinginannya menghafal Al-Quran. Ia pernah merasa kurang puas dengan bacaan shalatnya yang hanya terbatas pada surah-surah pendek. Dengan bantuan seorang guru bernama Syeikh Ayoub, ia mulai serius mempelajari tajwid, hafalan, dan makna ayat-ayat suci.
“Saya bercita-cita untuk menghafal Al-Quran, memahaminya, dan menjadikannya bagian dari hidup saya. Saya juga ingin berbagi ilmu ini dengan orang-orang terkasih. Pada akhirnya, saya berharap bisa menjadi seorang imam,” ujarnya dalam pernyataan sebelumnya.
Mazraoui dikenal sebagai Muslim yang taat. Ia konsisten menjalankan ibadah, termasuk puasa Ramadan meski harus bermain di level tertinggi Eropa. Bagi dia, kesuksesan duniawi—trofi, popularitas, dan kekayaan—hanyalah sementara. “Hidup ini singkat,” katanya, mengingatkan bahwa akhirat adalah tujuan utama.
Kisah Mazraoui menjadi pengingat kuat di era di mana banyak orang rela mengorbankan waktu ibadah demi karir dan materi. Pernyataannya menyentuh hati jutaan orang, terutama umat Muslim yang melihatnya sebagai teladan. Banyak yang memuji keberaniannya memilih jalan spiritual di usia emas, sementara sebagian fans MU berharap ia masih melanjutkan karier klub setidaknya hingga akhir kontrak.
Apakah ia benar-benar akan “logout” total dari sepak bola setelah Piala Dunia 2026? Hingga kini, itu masih pertimbangan pribadi. Yang jelas, keputusan ini mencerminkan prioritas hidup yang jarang ditemui di kalangan selebriti olahraga: mencari ketenangan jiwa di atas segalanya.
Noussair Mazraoui bukan hanya bek tangguh di lapangan, tapi juga sosok yang mengingatkan kita semua: di balik gemerlap dunia, ada panggilan yang lebih abadi. Wallahu a’lam.