Penutupan Bandara Soekarno-Hatta Diperpanjang hingga 09.30 WIB, Abu Vulkanik Anak Krakatau Masih Jadi Ancaman

Memuat berita

Nasional

Penutupan Bandara Soekarno-Hatta Diperpanjang hingga 09.30 WIB, Abu Vulkanik Anak Krakatau Masih Jadi Ancaman

Fazlur Rahman · 06 September 2026 · 11:27 WIB · 2 dibaca
Penutupan Bandara Soekarno-Hatta Diperpanjang hingga 09.30 WIB, Abu Vulkanik Anak Krakatau Masih Jadi Ancaman

Foto: IDX channel

Penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, kembali diperpanjang pada Minggu, 6 September 2026. Bandara yang menjadi salah satu pintu utama transportasi udara Indonesia tersebut sebelumnya dijadwalkan kembali beroperasi pada pukul 05.30 WIB, namun hingga pagi hari operasional masih dihentikan.

Berdasarkan perkembangan terbaru, penutupan Bandara Soekarno-Hatta diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB

Branch Communication Bandara Soekarno-Hatta, Aziz Harahap, membenarkan adanya perpanjangan penutupan tersebut.

"Perpanjang Mas, hingga 09.30 WIB," tutur Aziz Harahap.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menetapkan penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta mulai pukul 01.30 WIB hingga 05.30 WIB

Indikasi tersebut diketahui melalui pemeriksaan atau paper test

Temuan tersebut menjadi dasar bagi otoritas untuk menghentikan sementara aktivitas penerbangan. Langkah ini dilakukan dengan pertimbangan utama keselamatan penerbangan, mengingat keberadaan abu vulkanik di atmosfer dapat menimbulkan risiko terhadap operasional pesawat.

Penutupan kemudian diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB seiring masih berlangsungnya pemantauan kondisi abu vulkanik. Otoritas penerbangan perlu memastikan kondisi lingkungan di sekitar bandara benar-benar aman sebelum operasional kembali dibuka.

Gangguan terhadap Bandara Soekarno-Hatta ini terjadi setelah Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas erupsi di kawasan Selat Sunda. Gunung api tersebut dilaporkan mengalami erupsi menerus sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB.

Aktivitas erupsi Anak Krakatau juga disertai fenomena lava fountain

Dampak erupsi kemudian meluas seiring sebaran abu vulkanik bergerak mengikuti kondisi atmosfer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mengidentifikasi adanya sebaran abu vulkanik menuju wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pada Minggu pukul 04.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Salah satu klaster terpantau bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.

Sebaran abu tersebut dilaporkan berada dari permukaan hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki

Bandara Soekarno-Hatta bukan satu-satunya bandar udara yang terdampak. Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga menyebabkan sejumlah bandara melakukan penutupan sementara, termasuk Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Raden Inten II di Lampung, dan Bandara Budiarto Curug.

Bandara Halim Perdanakusuma pada Minggu pagi juga dijadwalkan ditutup sementara hingga pukul 10.00 WIB berdasarkan NOTAM Nomor A3345/26. Kondisi tersebut menunjukkan luasnya dampak sebaran abu vulkanik terhadap aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan menyebut sebanyak 33 penerbangan terdampak

Dalam menghadapi kondisi tersebut, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus melakukan koordinasi dengan operator penerbangan, pengelola bandara, penyelenggara layanan navigasi penerbangan, serta BMKG. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan sebaran abu sekaligus menentukan langkah operasional yang paling aman.

Bagi calon penumpang, perpanjangan penutupan berpotensi menyebabkan keterlambatan maupun perubahan jadwal penerbangan. Masyarakat yang memiliki jadwal keberangkatan maupun kedatangan melalui Bandara Soekarno-Hatta diimbau terus memantau informasi resmi dari maskapai dan pengelola bandara.

Penutupan sementara ini juga menjadi gambaran bagaimana erupsi gunung api dapat memberikan dampak jauh di luar kawasan sumber letusan. Abu vulkanik yang terbawa angin dapat mencapai wilayah perkotaan dan jalur penerbangan, sehingga aktivitas transportasi udara harus menyesuaikan kondisi tersebut.

Gunung Anak Krakatau sendiri masih berstatus Level III atau Siaga

Perpanjangan penutupan Bandara Soekarno-Hatta hingga pukul 09.30 WIB menjadi perkembangan terbaru di tengah pemantauan intensif terhadap sebaran abu vulkanik Anak Krakatau. Keputusan mengenai pembukaan kembali bandara akan sangat bergantung pada hasil pemantauan kondisi abu dan pertimbangan keselamatan penerbangan.

Bagi dunia penerbangan, keselamatan menjadi prioritas yang tidak dapat ditawar. Ketika abu vulkanik terdeteksi di sekitar bandara, penghentian sementara operasional menjadi langkah pencegahan untuk menghindari risiko yang lebih besar. Kini, seluruh perhatian tertuju pada perkembangan sebaran abu vulkanik dan kondisi atmosfer sebelum Bandara Soekarno-Hatta dapat kembali melayani penerbangan secara normal.