Prabowo Sentil Birokrasi Berbelit dan Korup: Negara Harus Memudahkan Rakyat, Bukan Mempersulit

Memuat berita

Nasional

Prabowo Sentil Birokrasi Berbelit dan Korup: Negara Harus Memudahkan Rakyat, Bukan Mempersulit

Rizqi Akbar Sadly · 14 Agustus 2026 · 20:32 WIB · 2 dibaca
Prabowo Sentil Birokrasi Berbelit dan Korup: Negara Harus Memudahkan Rakyat, Bukan Mempersulit

Foto: CNN

Presiden Prabowo Subianto menyoroti persoalan birokrasi di Indonesia yang dinilai masih berbelit-belit dan tidak bekerja secara efisien, sebuah persoalan klasik yang menurutnya harus segera dibenahi demi kepentingan rakyat. Sorotan tegas ini disampaikan Prabowo dalam pidato kenegaraannya pada Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI sekaligus Sidang Bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Tahun 2026, yang digelar di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menegaskan bahwa birokrasi seharusnya berfungsi sebagai alat untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, bukan justru menjadi penghambat yang mempersulit kepentingan rakyat.

Prabowo secara terbuka mengakui bahwa persoalan birokrasi yang berbelit-belit merupakan salah satu masalah mendasar bangsa Indonesia yang harus dihadapi secara jujur. "Kita harus mengakui masalah bangsa kita adalah antara lain masalah birokrasi yang berbelit-belit, birokrasi yang tidak bekerja dengan efisien," kata Prabowo di hadapan seluruh anggota parlemen dan tamu undangan yang hadir. Ia menegaskan bahwa pengakuan atas persoalan ini bukan dimaksudkan untuk mencari kambing hitam atau menyalahkan pihak tertentu, melainkan sebagai langkah awal untuk mencari solusi konkret. "Walaupun kita tidak menyalahkan siapa pun, kita melangkah dengan mencari solusi. Birokrasi tidak boleh menghambat keputusan yang baik," ucapnya.

Lebih jauh, Prabowo turut menyoroti praktik penyalahgunaan jabatan yang kerap terjadi di kalangan birokrat, di mana sebagian aparatur negara menggunakan kewenangan yang dimilikinya untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun kelompoknya sendiri. Pernyataan tegas ini langsung disambut riuh tepuk tangan dari seluruh peserta sidang yang hadir di ruangan. "Para birokrat yang sering menggunakan jabatan dan wewenangnya untuk memperkaya diri, memperkaya keluarganya, dan memperkaya kelompoknya, ini harus kita berantas!" tegas Prabowo, menegaskan komitmennya untuk memberantas praktik-praktik penyalahgunaan wewenang yang selama ini merugikan kepentingan masyarakat luas.

Kepala Negara juga mengingatkan bahwa upaya menutup-nutupi berbagai persoalan birokrasi tidak lagi dapat dilakukan di era digital dan keterbukaan informasi seperti sekarang ini. Menurutnya, alih-alih menyembunyikan persoalan, pemerintah dan seluruh elemen bangsa justru harus bersatu padu menyelesaikan berbagai kelemahan sistem birokrasi yang ada. "Bukan kita tutup-tutupi. Era sekarang era digital, era informasi, tidak ada gunanya kita tutup-tutupi, justru kita harus selesaikan masalah ini dan ini membutuhkan persatuan di antara semua pemimpin dan kelompok politik," ujarnya, menegaskan bahwa penyelesaian persoalan birokrasi memerlukan kolaborasi lintas kelompok politik dan seluruh pemangku kepentingan bangsa.

Prabowo menegaskan bahwa birokrasi yang tidak efisien dan diwarnai praktik korupsi berpotensi menjadi ancaman serius bagi kelangsungan sebuah bangsa. "Karena birokrasi yang tidak efisien, birokrasi yang korup akan menghancurkan suatu bangsa. Negara harus memudahkan rakyat bukan mempersulit," tegas Prabowo dengan nada penuh keyakinan. Pernyataan ini menegaskan pandangan Prabowo bahwa fungsi utama negara adalah memberikan kemudahan bagi warganya dalam mengakses berbagai layanan publik, bukan justru menciptakan hambatan-hambatan administratif yang menyulitkan masyarakat dalam kesehariannya.

Sebagai contoh konkret dari dampak birokrasi yang berbelit-belit, Prabowo menyinggung persoalan yang selama ini dihadapi para petani, mulai dari sulitnya memperoleh pupuk hingga aturan-aturan rumit yang menghambat proses distribusi hasil panen. Ia menegaskan bahwa ketika pemerintahannya mulai bertugas, para petani masih menghadapi berbagai persoalan tersebut, termasuk harga gabah yang kerap anjlok setiap musim panen tiba akibat tata kelola distribusi yang belum optimal. Kondisi ini, menurut Prabowo, menjadi salah satu bukti nyata bagaimana birokrasi yang tidak efisien dapat berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat di sektor-sektor strategis seperti pertanian.

Menutup bagian tersebut dari pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa pembenahan birokrasi bukan semata tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan juga menjadi tugas seluruh jajaran pemerintah daerah, mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota. Ia meminta agar pemerintah daerah turun langsung mendengarkan suara masyarakat, memastikan berbagai program yang dijalankan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat di lapangan. Pesan ini menegaskan bahwa upaya reformasi birokrasi harus dilakukan secara menyeluruh dan berjenjang, sehingga perbaikan tata kelola pemerintahan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di seluruh pelosok negeri, tidak hanya terpusat di tingkat pemerintahan nasional semata.

Sorotan Prabowo terhadap persoalan birokrasi ini menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian Pidato Kenegaraan yang disampaikannya dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk terus melakukan reformasi struktural dalam tata kelola pemerintahan. Ke depan, publik tentu menantikan langkah konkret yang akan diambil pemerintah dalam menindaklanjuti pernyataan tegas ini, khususnya menyangkut penyederhanaan prosedur birokrasi serta pemberantasan praktik penyalahgunaan wewenang oleh aparatur negara, agar cita-cita menghadirkan pelayanan publik yang cepat, efisien, dan berpihak kepada rakyat dapat benar-benar terwujud secara nyata di seluruh tingkatan pemerintahan Indonesia.