Raja Charles III Putuskan Tak Menjadikan Buckingham Palace sebagai Kediaman Utama, Akhiri Tradisi Hampir Dua Abad

Memuat berita

Berita International

Raja Charles III Putuskan Tak Menjadikan Buckingham Palace sebagai Kediaman Utama, Akhiri Tradisi Hampir Dua Abad

Devi Sry Atmaja · 29 Juni 2026 · 18:18 WIB · 2 dibaca
Raja Charles III Putuskan Tak Menjadikan Buckingham Palace sebagai Kediaman Utama, Akhiri Tradisi Hampir Dua Abad

Foto: REUTERS/Dylan Martinez

London

Buckingham Palace selama ini bukan sekadar istana kerajaan biasa. Dibangun pada abad ke-19 dan menjadi kediaman resmi Ratu Victoria mulai tahun 1837, istana ini telah menjadi pusat segala aktivitas monarki Britania Raya. Selain sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan, Buckingham Palace juga menjadi lokasi penyelenggaraan acara kenegaraan, jamuan resmi, pergantian penjaga istana, serta daya tarik wisata utama bagi jutaan pengunjung setiap tahunnya.

Menurut sumber istana, Raja Charles III lebih memilih untuk tinggal di kediaman lain yang selama ini ia huni, seperti Highgrove House di Gloucestershire atau Clarence House di London. Pertimbangan utama keputusan ini antara lain efisiensi biaya perawatan istana yang sangat mahal, kebutuhan akan ruang yang lebih nyaman dan privat, serta visi modernisasi monarki yang ingin lebih hemat dan sesuai dengan tantangan zaman. Buckingham Palace sendiri akan tetap berfungsi sebagai pusat kegiatan resmi kerajaan, termasuk audiensi, acara kenegaraan, dan tur publik.

Keputusan ini menuai berbagai reaksi dari masyarakat Inggris. Sebagian mendukung langkah Raja Charles yang dianggap lebih realistis dan hemat, sementara sebagian lain merasa kehilangan karena Buckingham Palace telah menjadi ikon identitas nasional selama puluhan tahun. Para ahli monarki menilai langkah ini sebagai bagian dari adaptasi kerajaan terhadap era modern, di mana citra monarki tidak lagi bergantung semata pada kemegahan fisik sebuah istana, melainkan pada relevansi dan peran publik yang lebih substantif.

Meski demikian, Buckingham Palace dipastikan akan tetap menjadi salah satu simbol paling penting dari Kerajaan Inggris. Perubahan ini menandai babak baru dalam sejarah panjang monarki Britania di bawah kepemimpinan Raja Charles III.