Rencana FIFA Libatkan Investor Swasta di Piala Dunia Tuai Penolakan Global, UEFA hingga AFC Kompak Bersuara
ZURICH – Rencana Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) untuk membuka kepemilikan komersial Piala Dunia kepada investor swasta memicu gelombang penolakan dari sejumlah konfederasi sepak bola dunia. Tiga konfederasi besar, yakni UEFA, Concacaf, dan AFC, secara terbuka menyatakan keberatan terhadap gagasan tersebut karena dinilai berpotensi mengubah arah pengelolaan sepak bola dunia yang selama ini berorientasi pada kepentingan olahraga.
Usulan FIFA tersebut berkaitan dengan pembentukan unit komersial baru yang akan mengelola hak-hak bisnis berbagai kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia. Melalui skema tersebut, FIFA sempat mempertimbangkan pelepasan sebagian kepemilikan kepada investor swasta untuk menghimpun dana miliaran dolar guna mendukung pengembangan sepak bola global. Namun, rencana itu justru memicu reaksi keras dari berbagai konfederasi yang menilai langkah tersebut dilakukan tanpa konsultasi yang memadai dengan para pemangku kepentingan.
UEFA menjadi pihak pertama yang menyampaikan penolakan secara terbuka. Organisasi yang membawahi sepak bola Eropa itu menilai Piala Dunia bukanlah aset investasi yang dapat diperjualbelikan kepada pihak swasta. Dalam pernyataan resminya, UEFA menegaskan bahwa Piala Dunia merupakan warisan sepak bola dunia yang dibangun oleh para pemain, federasi, klub, dan suporter selama puluhan tahun. UEFA juga mengkritik proses penyusunan proposal yang dinilai tidak transparan dan minim komunikasi dengan konfederasi anggota. Bahkan, UEFA sempat mengancam akan memboikot kompetisi FIFA apabila rencana tersebut tetap dijalankan. Penolakan kemudian meluas setelah Concacaf dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menyatakan solidaritas dengan UEFA.
AFC menilai pengelolaan kompetisi paling bergengsi di dunia seharusnya tetap berada di bawah kendali penuh FIFA dan tidak dipengaruhi kepentingan investor yang berorientasi pada keuntungan finansial. Konfederasi Asia juga menyoroti pentingnya tata kelola yang transparan serta keterlibatan seluruh konfederasi dalam pengambilan keputusan strategis. Dengan bergabungnya AFC dan Concacaf, tekanan terhadap FIFA semakin besar karena mayoritas konfederasi utama dunia kini berada dalam barisan yang sama untuk menolak skema investasi tersebut.
Sejumlah pihak menilai masuknya investor swasta berpotensi menggeser orientasi penyelenggaraan Piala Dunia dari kepentingan olahraga menuju kepentingan bisnis. Kekhawatiran tersebut mencakup kemungkinan meningkatnya pengaruh pemegang saham terhadap kebijakan komersial, hak siar, sponsor, hingga pengelolaan turnamen. Bagi UEFA, Concacaf, maupun AFC, keuntungan ekonomi yang dihasilkan dari Piala Dunia seharusnya tetap digunakan untuk pengembangan sepak bola di seluruh dunia tanpa harus melibatkan kepemilikan pihak luar.