Saham Wall Street Melemah, Harga Minyak Naik ke US$83 per Barel Imbas Kebuntuan Selat Hormuz
Para trader di Wall Street menahan diri untuk mengambil posisi yang lebih berisiko menjelang rilis data inflasi penting Amerika Serikat. Sentimen pasar semakin tertekan setelah belum adanya kesepakatan untuk memulihkan arus energi melalui Selat Hormuz, yang mendorong harga minyak naik dan menekan bursa saham.
Saham-saham utama di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan terbaru. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang membuat investor bersikap hati-hati. Ketiadaan kemajuan dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz—jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia—memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi yang berkepanjangan.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup di sekitar US$83 per barel. Penguatan ini terjadi setelah Iran kembali menegaskan rencananya untuk tetap menutup jalur perairan tersebut hingga tuntutannya dipenuhi. Pejabat senior Iran, termasuk Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali selama Amerika Serikat tidak mengubah perilakunya dan menerima syarat-syarat Teheran untuk mengakhiri konflik, termasuk pencairan aset yang dibekukan.
Sebelumnya, harga minyak sempat mengalami tekanan turun setelah Pakistan menyampaikan optimisme mengenai kemungkinan tercapainya suatu bentuk kesepakatan terkait Hormuz. Menteri Pertahanan Pakistan sempat menyebutkan bahwa situasi mulai “membentuk kembali ke arah pengaturan damai atau kesepakatan.” Namun, pernyataan tegas Iran segera membalikkan sentimen pasar dan mengembalikan premi risiko geopolitik ke harga minyak.
Data pelayaran menunjukkan lalu lintas di Selat Hormuz masih sangat terbatas, hanya sekitar 6–10 kapal per hari dibandingkan rata-rata 125–140 kapal sebelum konflik meletus. Kondisi ini memperpanjang kekhawatiran pasar akan pasokan energi global yang terganggu, meskipun ada upaya mediasi melalui Oman dan pihak lain.
Di sisi lain, pasar keuangan AS kini menanti data inflasi konsumen (CPI) yang akan segera dirilis. Trader cenderung menghindari posisi agresif karena data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve. Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan berisiko menambah tekanan inflasi, sehingga menambah lapisan ketidakpastian bagi pasar saham.
Analis mencatat bahwa pasar minyak saat ini sangat dipengaruhi oleh berita-berita geopolitik. Setiap sinyal kemajuan atau kemunduran dalam pembicaraan AS-Iran mampu menggerakkan harga secara signifikan dalam waktu singkat. Selama kebuntuan di Selat Hormuz berlanjut, harga minyak diperkirakan tetap berada di kisaran tinggi dengan volatilitas yang meningkat.
Dengan latar belakang tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan diplomatik di Timur Tengah sekaligus data ekonomi AS dalam beberapa hari ke depan. Kombinasi risiko pasokan energi dan data inflasi menjadi dua faktor kunci yang menentukan arah pergerakan saham dan komoditas dalam jangka pendek.