Stetoskop, Obat Seadanya, dan Ratusan Harapan: Perjuangan Dokter Melinda di Tengah Gempa NTT

Memuat berita

Nasional

Stetoskop, Obat Seadanya, dan Ratusan Harapan: Perjuangan Dokter Melinda di Tengah Gempa NTT

Devi Sry Atmaja · 20 Agustus 2026 · 18:19 WIB · 2 dibaca
Stetoskop, Obat Seadanya, dan Ratusan Harapan: Perjuangan Dokter Melinda di Tengah Gempa NTT

Foto: RRI/Epy Wahab

NTT — Di tengah kepanikan pascagempa, sebuah posko darurat berubah menjadi tempat bergantung bagi ratusan warga yang membutuhkan pertolongan. Di sana, Dokter Melinda bekerja tanpa kemewahan fasilitas rumah sakit. Yang ada hanya peralatan medis terbatas, obat-obatan seadanya, dan pasien yang terus berdatangan. Hari-hari setelah bencana menjadi ujian tersendiri bagi tenaga kesehatan. Ketika bangunan rumah sakit dan fasilitas kesehatan terdampak, pelayanan medis harus berpindah ke ruang-ruang darurat yang jauh dari kondisi ideal. Dokter Melinda menjadi salah satu tenaga medis yang berada di garis depan situasi tersebut. Ia memeriksa pasien satu demi satu dengan peralatan yang tersedia. Stetoskop menjadi salah satu alat penting yang selalu berada dalam jangkauannya. Sementara persediaan obat harus digunakan seefisien mungkin karena kebutuhan terus bertambah.

Pasien yang datang ke posko memiliki kondisi yang beragam. Ada yang mengalami luka akibat tertimpa material bangunan, cedera pada bagian tubuh, patah tulang, hingga mengalami kesulitan bernapas. Tidak semua pasien dapat langsung memperoleh penanganan seperti di rumah sakit dengan fasilitas lengkap. Dalam kondisi tersebut, kemampuan memilah kondisi pasien menjadi sangat penting. Mana yang masih dapat ditangani di posko, mana yang membutuhkan pemantauan lebih lanjut, dan mana yang harus segera dirujuk menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi. Setiap kedatangan pasien berarti satu keputusan medis harus dibuat.

Bagi korban bencana, tempat sederhana yang dipenuhi tenaga medis dapat terasa seperti rumah sakit ketika tidak ada pilihan lain. Posko darurat bukan hanya tempat memberikan obat. Di tempat itu, warga datang membawa rasa sakit sekaligus kecemasan tentang kondisi keluarga dan masa depan mereka setelah bencana. Lebih dari 200 pasien yang ditangani Dokter Melinda menunjukkan betapa besar kebutuhan layanan kesehatan di tengah situasi darurat. Bencana tidak berhenti ketika gempa utama selesai. Setelah guncangan berlalu, muncul persoalan lain yang tak kalah berat: korban luka, kebutuhan obat, keterbatasan tenaga medis, serta akses menuju fasilitas kesehatan. Di tengah semua itu, tenaga kesehatan harus tetap bekerja.

Tugas Dokter Melinda di posko darurat bukan sekadar mengobati luka. Ia juga menjadi bagian dari upaya menjaga agar warga tetap mendapatkan akses kesehatan ketika sistem pelayanan belum sepenuhnya kembali normal. Satu pemeriksaan, satu obat, hingga satu keputusan untuk merujuk pasien bisa menjadi sangat berarti bagi korban. Keterbatasan fasilitas memang membuat pekerjaan semakin berat. Namun, kondisi tersebut tidak menghapus kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan pertolongan. Di antara antrean pasien, suara warga, dan suasana darurat, Dokter Melinda terus menjalankan tugasnya. Stetoskop di tangan, obat-obatan yang terbatas, dan pengalaman medis menjadi bekal untuk menghadapi ratusan korban.

Lebih dari 200 korban yang datang ke posko bukan sekadar angka. Di balik setiap pasien terdapat cerita tentang luka, ketakutan, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, dan harapan untuk segera pulih. Bagi Dokter Melinda, setiap pasien membutuhkan perhatian. Di tengah bencana yang merenggut rasa aman masyarakat, kehadiran tenaga medis menjadi salah satu bentuk nyata bahwa pertolongan masih ada. Dengan fasilitas seadanya, mereka tetap bekerja. Dengan obat yang terbatas, mereka tetap memberikan pelayanan. Dan dengan segala keterbatasan yang ada, mereka berusaha memastikan tidak ada korban yang merasa sendirian menghadapi masa sulit setelah gempa.