Terumbu Karang Indo-Pasifik Terancam Bom Ikan, Penelitian Ungkap Ledakan Terjadi Tiap 62 Menit

Memuat berita

Nasional

Terumbu Karang Indo-Pasifik Terancam Bom Ikan, Penelitian Ungkap Ledakan Terjadi Tiap 62 Menit

Devi Sry Atmaja · 20 Agustus 2026 · 18:15 WIB · 2 dibaca
Terumbu Karang Indo-Pasifik Terancam Bom Ikan, Penelitian Ungkap Ledakan Terjadi Tiap 62 Menit

Foto: Dok. Greenpeace Indonesia

SULAWESI — Ancaman terhadap ekosistem terumbu karang di kawasan Indo-Pasifik kembali menjadi sorotan. Penelitian terbaru mengungkap praktik penangkapan ikan menggunakan bom atau blast fishing masih terjadi dalam intensitas yang mengkhawatirkan. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Remote Sensing in Ecology and Conservation itu menemukan aktivitas ledakan bom ikan di kawasan Kepulauan Spermonde, Sulawesi, dengan frekuensi yang jika diekstrapolasi mencapai sekitar satu ledakan setiap 62 menit. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak blast fishing terhadap ekosistem laut berpotensi jauh lebih besar daripada perkiraan sebelumnya.

Penelitian dilakukan oleh tim peneliti dari Inggris dan Indonesia dengan memasang mikrofon bawah laut di sejumlah titik di kawasan Kepulauan Spermonde. Perangkat tersebut digunakan untuk merekam suara yang muncul dari ekosistem terumbu karang. Selain suara alami berbagai organisme laut, mikrofon juga mampu menangkap suara ledakan yang berasal dari aktivitas penangkapan ikan menggunakan bom. Wilayah pemantauan mencakup area sekitar 900 kilometer persegi.

Teknologi tersebut memberikan cara baru bagi peneliti untuk memantau aktivitas ilegal di laut yang selama ini sulit terdeteksi hanya dengan pengamatan langsung. Setelah rekaman dikumpulkan, para peneliti menggunakan algoritma machine learning untuk memilah dan mengidentifikasi karakteristik suara ledakan bom ikan. Hasil analisis menunjukkan angka yang cukup mengejutkan.

Selama periode perekaman selama 3.650 jam, mikrofon mendeteksi sebanyak 3.570 ledakan yang diduga berkaitan dengan aktivitas blast fishing. Jika angka tersebut diekstrapolasi untuk menggambarkan aktivitas selama satu tahun penuh, jumlah ledakan diperkirakan mencapai sekitar 8.500 kali. Artinya, secara rata-rata terdapat satu ledakan setiap 62 menit. Angka tersebut menjadi peringatan serius bagi keberlangsungan ekosistem terumbu karang di kawasan tersebut. Ledakan yang terjadi di bawah laut tidak hanya membunuh ikan target, tetapi juga dapat menghancurkan struktur terumbu karang yang membutuhkan waktu sangat lama untuk tumbuh kembali.

Ahli biologi kelautan Dr. Ben Williams dari University College London dan Institute of Zoology mengatakan dampak blast fishing dapat berlangsung dalam jangka panjang. Populasi ikan yang terdampak aktivitas penangkapan menggunakan bahan peledak membutuhkan waktu puluhan tahun untuk kembali pulih. Kerusakan juga tidak berhenti pada ekosistem bawah laut. Terumbu karang merupakan habitat penting bagi berbagai jenis ikan dan organisme laut yang menjadi bagian dari rantai kehidupan sekaligus sumber penghidupan masyarakat pesisir. Ketika terumbu karang rusak, populasi ikan dapat ikut menurun. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi memengaruhi nelayan dan masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari sektor perikanan.

Blast fishing dikenal sebagai salah satu metode penangkapan ikan yang memiliki dampak sangat merusak. Ledakan dapat menghancurkan karang dalam radius tertentu dan menyebabkan kematian berbagai organisme laut. Dalam jangka panjang, hilangnya terumbu karang berarti berkurangnya tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi berbagai spesies ikan. Dampaknya dapat menjalar ke kehidupan masyarakat pesisir. Ketika ekosistem laut kehilangan kemampuan untuk menopang populasi ikan, nelayan dapat menghadapi hasil tangkapan yang semakin menurun. Pada saat yang sama, pemulihan terumbu karang membutuhkan waktu jauh lebih lama dibandingkan waktu yang diperlukan untuk menghancurkannya.

Praktik penangkapan ikan menggunakan bom telah dilarang. Namun, menghentikan aktivitas tersebut di lapangan bukan perkara mudah. Luas wilayah laut, keterbatasan pengawasan, serta sulitnya mendeteksi aktivitas yang berlangsung secara cepat membuat penegakan aturan menjadi tantangan tersendiri. Oleh Karena itu, penggunaan teknologi pemantauan suara bawah laut dinilai dapat membuka peluang baru dalam pengawasan. Data akustik yang dikumpulkan secara terus-menerus dapat membantu mengidentifikasi lokasi dan frekuensi aktivitas ledakan tanpa harus mengandalkan kehadiran petugas secara langsung di setiap titik.