72,8 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG Catat Puluhan Lokasi Alami Lebih dari 60 Hari Tanpa Hujan

Memuat berita

Nasional

72,8 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG Catat Puluhan Lokasi Alami Lebih dari 60 Hari Tanpa Hujan

Devi Sry Atmaja · 02 Agustus 2026 · 14:41 WIB · 2 dibaca
72,8 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG Catat Puluhan Lokasi Alami Lebih dari 60 Hari Tanpa Hujan

Foto: Istimewa

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa 72,8 persen wilayah Indonesia kini telah memasuki kondisi musim kemarau dengan peluang curah hujan yang sangat minim. Seiring berkurangnya intensitas hujan di berbagai daerah, sebagian besar wilayah Tanah Air mulai mengalami musim kering yang ditandai dengan meningkatnya Hari Tanpa Hujan (HTH).

Berdasarkan analisis BMKG untuk periode 24 hingga 31 Juli 2026, kondisi tanpa hujan dalam waktu yang cukup panjang terjadi di ribuan titik pengamatan di Indonesia. Situasi ini menjadi indikasi bahwa musim kemarau tahun ini telah berlangsung di sebagian besar wilayah, terutama di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Data BMKG menunjukkan sebanyak 1.366 titik pengamatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori panjang, yakni selama 21 hingga 30 hari berturut-turut. Sementara itu, 943 titik lainnya tercatat mengalami HTH kategori sangat panjang, yaitu selama 31 hingga 60 hari tanpa hujan.

Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi di 70 titik pengamatan yang mengalami HTH ekstrem panjang, dengan durasi lebih dari 60 hari tanpa hujan. Wilayah-wilayah tersebut terkonsentrasi di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara yang memang memasuki puncak musim kemarau. BMKG juga mencatat Purworejo, Jawa Tengah, sebagai daerah dengan rekor terlama tanpa hujan pada periode ini, yakni mencapai 80 hari berturut-turut. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya debit sumber air, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Meski sebagian besar Indonesia telah memasuki musim kemarau, BMKG menyebut peluang hujan masih tetap ada di beberapa daerah. Kondisi ini dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer serta keberadaan bibit siklon tropis yang mampu membawa massa udara lembap ke sejumlah wilayah. Potensi hujan diperkirakan masih dapat terjadi terutama di kawasan Sumatera dan Sulawesi Utara, meskipun secara umum curah hujan diprediksi tidak setinggi pada musim penghujan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau di Indonesia tidak selalu identik dengan kondisi tanpa hujan sepenuhnya. Faktor dinamika atmosfer masih dapat memicu hujan lokal dengan intensitas yang bervariasi di beberapa daerah. Seiring meningkatnya suhu udara dan berkurangnya curah hujan, BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan selama musim kemarau. Warga disarankan menggunakan tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi, serta mengurangi paparan sinar matahari secara langsung pada siang hari.

Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG mengingatkan agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya titik api, seperti membakar lahan atau membuang puntung rokok sembarangan di kawasan yang kering. Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga diharapkan melakukan langkah antisipasi, terutama di wilayah yang telah mengalami Hari Tanpa Hujan ekstrem, guna meminimalkan dampak kekeringan terhadap sektor pertanian, ketersediaan air bersih, serta keselamatan masyarakat.

Musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Oleh karena itu, masyarakat diminta terus memantau informasi dan prakiraan cuaca resmi dari BMKG sebagai acuan dalam beraktivitas maupun melakukan langkah mitigasi menghadapi kondisi cuaca ekstrem.