Badai Debu Terjang Homs, Langit Suriah Berubah Merah dan Jarak Pandang Nyaris Nol

Memuat berita

Berita International

Badai Debu Terjang Homs, Langit Suriah Berubah Merah dan Jarak Pandang Nyaris Nol

Devi Sry Atmaja · 01 September 2026 · 22:21 WIB · 2 dibaca
Badai Debu Terjang Homs, Langit Suriah Berubah Merah dan Jarak Pandang Nyaris Nol

Foto: Instagram @thenationalnews.com

Homs, Suriah – Badai debu dahsyat menerjang Kota Homs, Suriah, pada Sabtu (29/8), menyebabkan langit berubah menjadi merah pekat dan jarak pandang menurun drastis hingga nyaris nol. Fenomena cuaca ekstrem tersebut membuat aktivitas warga terganggu dan memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan serta keselamatan di jalan raya. Sejak siang hingga sore hari, angin kencang membawa material debu dalam jumlah besar dari wilayah gurun yang berada di sekitar kawasan tengah Suriah. Debu yang beterbangan menutupi sebagian besar wilayah Homs dan sekitarnya, menciptakan suasana mencekam dengan langit berwarna kemerahan yang tidak biasa.

Sejumlah foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan jalanan kota diselimuti kabut debu tebal. Bangunan, kendaraan, hingga pepohonan tampak samar karena tertutup partikel debu yang beterbangan di udara. Dalam beberapa rekaman, pengendara terlihat memperlambat laju kendaraan mereka karena jarak pandang yang sangat terbatas. Kondisi tersebut mempersulit mobilitas masyarakat. Banyak warga memilih tetap berada di dalam rumah untuk menghindari paparan debu yang berpotensi mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Sementara itu, aktivitas di sejumlah ruas jalan utama juga dilaporkan melambat akibat menurunnya visibilitas.

Para ahli cuaca menyebut badai debu merupakan fenomena yang cukup sering terjadi di kawasan Timur Tengah, terutama saat kondisi atmosfer tidak stabil dan angin bertiup kencang dari wilayah gurun. Namun, intensitas badai yang melanda Homs kali ini dinilai cukup signifikan karena mampu mengubah warna langit menjadi merah dan menutupi sebagian besar wilayah kota dalam waktu singkat. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, badai debu juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Partikel debu berukuran kecil dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu iritasi mata, batuk, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru-paru kronis.

Otoritas setempat mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan selama badai berlangsung. Warga juga disarankan menggunakan masker dan menutup rapat pintu maupun jendela rumah guna mengurangi paparan debu yang masuk ke dalam ruangan. Fenomena langit merah akibat badai debu ini kembali menjadi pengingat akan dampak perubahan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia. Selain memengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari, peristiwa semacam ini juga menunjukkan tingginya kerentanan kawasan kering dan gurun terhadap gangguan cuaca yang dapat muncul sewaktu-waktu.

Meski badai debu akhirnya berangsur mereda, warga Homs masih harus menghadapi sisa debu yang menutupi berbagai sudut kota. Petugas setempat terus memantau kondisi cuaca guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya badai susulan dalam beberapa hari ke depan.