China Desak Konflik AS-Iran Diselesaikan Lewat Diplomasi, Seruan Muncul Jelang Sanksi Ekonomi Washington

Memuat berita

Berita International

China Desak Konflik AS-Iran Diselesaikan Lewat Diplomasi, Seruan Muncul Jelang Sanksi Ekonomi Washington

Fazlur Rahman · 26 Agustus 2026 · 11:33 WIB · 2 dibaca
China Desak Konflik AS-Iran Diselesaikan Lewat Diplomasi, Seruan Muncul Jelang Sanksi Ekonomi Washington

Foto: IndonesiaInside

China kembali menegaskan dukungannya terhadap penyelesaian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran melalui jalur diplomatik. Pernyataan tersebut disampaikan Beijing ketika Washington bersiap mengumumkan langkah baru untuk menekan mitra ekonomi Teheran.

Dukungan China disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Miao Deyu dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi di Beijing pada 17 Agustus. Namun, informasi mengenai pertemuan tersebut baru dipublikasikan Kementerian Luar Negeri China pada Minggu, hampir sepekan setelah pertemuan berlangsung.

Dalam pernyataannya, Miao mengatakan China terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah dan secara aktif mendorong terciptanya perundingan damai. Beijing menilai penyelesaian melalui diplomasi menjadi jalan penting untuk menghentikan konflik dan mencegah situasi keamanan di kawasan semakin memburuk.

“Kami terus memantau situasi di Timur Tengah dan secara aktif berkomitmen mendorong perundingan damai,” ujar Miao, seperti dikutip dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri China.

Pertemuan antara pejabat tinggi China dan Iran tersebut berlangsung di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat terhadap Teheran. Washington disebut tengah menyiapkan langkah untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap negara-negara dan pihak yang masih memiliki hubungan ekonomi dengan Iran.

Waktu publikasi pernyataan Beijing pun menjadi perhatian. Informasi mengenai pertemuan 17 Agustus baru diumumkan ketika AS dijadwalkan mengambil langkah lebih lanjut untuk mengubah pendekatan terhadap konflik, dari konfrontasi militer menuju tekanan ekonomi yang lebih luas.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan mengumumkan rencana tersebut sehari setelah pernyataan China dipublikasikan. Kebijakan itu diarahkan untuk meningkatkan isolasi ekonomi terhadap Iran dengan memberikan tekanan kepada mitra ekonomi Teheran.

Situasi tersebut menempatkan China dalam posisi yang cukup strategis. Sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia sekaligus mitra penting Iran, Beijing memiliki hubungan perdagangan dan diplomatik yang signifikan dengan Teheran. Pada saat yang sama, China juga berkepentingan menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah yang memiliki peran penting bagi ekonomi dan perdagangan global.

Bagi Beijing, eskalasi konflik AS-Iran berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas daripada sekadar persoalan keamanan di Timur Tengah. Gangguan terhadap jalur perdagangan dan energi dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian global, termasuk negara-negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari kawasan tersebut.

Karena itu, China secara konsisten mendorong penyelesaian konflik melalui dialog. Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari posisi diplomatik Beijing yang menekankan pentingnya penghentian permusuhan dan penyelesaian perselisihan melalui negosiasi.

Namun, seruan diplomasi China muncul ketika hubungan AS dan Iran berada dalam tekanan. Washington berencana memperluas tekanan ekonomi terhadap Teheran, sementara konflik bersenjata di kawasan masih menjadi sumber ketidakpastian.

Keterlambatan China dalam mengumumkan pertemuan dengan pejabat Iran juga menjadi perhatian. Kementerian Luar Negeri China sebelumnya tidak mengungkapkan pertemuan tersebut dan tidak memberikan penjelasan mengenai alasan informasi itu baru disampaikan hampir sepekan kemudian.

Meski demikian, publikasi pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Beijing ingin menegaskan keterlibatannya dalam upaya diplomatik terkait konflik. China tidak hanya menyampaikan dukungan terhadap perundingan, tetapi juga mempertahankan komunikasi langsung dengan pemerintah Iran.

Langkah tersebut menjadi penting karena tekanan ekonomi dari Washington berpotensi memengaruhi hubungan dagang negara-negara yang memiliki kepentingan ekonomi dengan Iran. Jika AS benar-benar memperluas sanksi terhadap mitra ekonomi Teheran, negara-negara seperti China akan menghadapi tantangan dalam menjaga kepentingan ekonominya sekaligus mengelola hubungan diplomatik dengan Washington.

Di tengah situasi tersebut, China tampaknya memilih jalur diplomasi sebagai pendekatan utama. Beijing mendorong agar konflik tidak berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas dan meminta seluruh pihak membuka ruang bagi penyelesaian melalui perundingan.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa perang AS-Iran tidak hanya menjadi persoalan bilateral, tetapi telah menarik perhatian kekuatan besar dunia. Sikap China akan menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan, terutama jika tekanan ekonomi Washington terhadap Iran dan para mitra ekonominya semakin meningkat.

Dengan seruan terbaru tersebut, Beijing menegaskan kembali posisinya: penyelesaian konflik melalui diplomasi tetap menjadi pilihan utama. Namun, efektivitas dorongan tersebut akan sangat bergantung pada respons Washington dan Teheran serta kemampuan kedua pihak membuka kembali ruang negosiasi di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dan keamanan.