Bahlil Sindir Elit yang Dorong Kenaikan Harga BBM, JK Sebelumnya Soroti Beban APBN

Memuat berita

Nasional

Bahlil Sindir Elit yang Dorong Kenaikan Harga BBM, JK Sebelumnya Soroti Beban APBN

Fazlur Rahman · 24 Agustus 2026 · 11:09 WIB · 4 dibaca
Bahlil Sindir Elit yang Dorong Kenaikan Harga BBM, JK Sebelumnya Soroti Beban APBN

Foto: CNBC INDONESIA

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melontarkan sindiran terhadap kelompok yang dinilainya mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat menghadiri acara Sinergi Alumni IPB untuk Bangsa pada Minggu (3/5/2026).

Dalam pidatonya, Bahlil menyinggung adanya kelompok elite yang menginginkan harga BBM dinaikkan. Menurutnya, kebijakan terkait harga energi tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi, tetapi harus mempertimbangkan kondisi masyarakat serta dampaknya terhadap perekonomian secara keseluruhan.

Sindiran tersebut muncul di tengah perdebatan mengenai kebijakan subsidi energi dan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Harga BBM memiliki keterkaitan erat dengan berbagai sektor ekonomi karena perubahan harga energi dapat memengaruhi biaya transportasi, distribusi barang, hingga daya beli masyarakat.

Bahlil tidak menyebut secara langsung nama tokoh yang menjadi sasaran sindirannya dalam kesempatan tersebut. Namun, pernyataannya menjadi perhatian karena pada kesempatan berbeda Wakil Presiden RI ke-12 Jusuf Kalla (JK) pernah menyampaikan pandangan mengenai perlunya menaikkan harga BBM sebagai salah satu opsi untuk menekan tekanan terhadap APBN.

JK menilai kenaikan harga BBM dapat menjadi bagian dari langkah untuk mengurangi beban anggaran negara. Dengan menekan defisit APBN, pemerintah diharapkan memiliki ruang fiskal yang lebih besar dan kebutuhan pembiayaan utang dapat dikendalikan.

Perbedaan pandangan tersebut menggambarkan adanya perdebatan mengenai bagaimana pemerintah seharusnya mengelola kebijakan energi di tengah kebutuhan menjaga stabilitas fiskal. Di satu sisi, kenaikan harga BBM dapat membantu mengurangi beban subsidi dan tekanan terhadap anggaran. Di sisi lain, kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan biaya hidup masyarakat apabila tidak diikuti dengan langkah perlindungan yang memadai.

Bagi pemerintah, penentuan harga BBM juga tidak semata-mata berkaitan dengan perhitungan harga minyak dunia. Kebijakan tersebut harus mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional, daya beli masyarakat, inflasi, nilai tukar rupiah, serta kemampuan APBN dalam menanggung subsidi dan kompensasi energi.

Karena itu, pernyataan Bahlil mengenai kelompok elite yang mendorong kenaikan harga BBM menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai arah kebijakan energi nasional. Pemerintah dituntut mencari titik keseimbangan antara menjaga kesehatan fiskal dan memastikan harga energi tetap terjangkau bagi masyarakat.

Sementara itu, pandangan JK mengenai kenaikan harga BBM lebih menekankan aspek fiskal, khususnya upaya mengurangi defisit dan menekan kebutuhan pembiayaan negara. Perbedaan sudut pandang tersebut menunjukkan bahwa kebijakan harga BBM selalu memiliki konsekuensi ekonomi dan sosial yang perlu diperhitungkan secara matang.