Gempa NTT Belum Reda, 1.624 Gempa Susulan Tercatat dan 68 Orang Meninggal
KUPANG — Situasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih dalam kondisi darurat setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026). Hingga Senin (17/8), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 1.624 gempa susulan terjadi di wilayah tersebut. Rangkaian gempa susulan tersebut membuat masyarakat dan petugas di wilayah terdampak harus tetap meningkatkan kewaspadaan. Dari ribuan aktivitas gempa susulan yang tercatat, sejumlah gempa memiliki kekuatan yang cukup signifikan dan dapat dirasakan masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, jumlah korban jiwa juga terus menjadi perhatian. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 68 orang meninggal dunia dan 213 lainnya mengalami luka-luka akibat bencana tersebut. Dampak gempa tidak hanya dirasakan masyarakat yang kehilangan anggota keluarga maupun tempat tinggal. Aktivitas pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah juga ikut terdampak.
Guncangan berulang membuat sejumlah fasilitas kesehatan harus melakukan penyesuaian untuk menjaga keselamatan pasien. Sebagian pasien terpaksa dipindahkan dari ruang perawatan ke area yang lebih aman, termasuk selasar rumah sakit dan tenda darurat. Kondisi tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi apabila bangunan rumah sakit mengalami kerusakan atau masih berisiko terhadap guncangan susulan. Dalam situasi darurat, tenaga kesehatan tetap berupaya memberikan pelayanan kepada pasien meski fasilitas dan ruang perawatan terbatas.
Pemandangan pasien yang dirawat di luar gedung rumah sakit menggambarkan beratnya kondisi yang dihadapi masyarakat NTT. Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi pasien justru harus menyesuaikan pola pelayanan akibat ancaman gempa susulan.
Salah satu situasi yang menyentuh terjadi ketika seorang ibu yang baru saja melahirkan harus berada di luar ruangan bersama bayinya. Bayi tersebut masih membutuhkan perawatan menggunakan inkubator. Namun, demi mengurangi risiko akibat guncangan susulan, perawatan dilakukan di area luar bangunan rumah sakit. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana bencana memaksa pasien dengan kebutuhan medis khusus untuk menjalani perawatan dalam situasi yang jauh dari kondisi ideal. Bagi bayi yang baru lahir, keberadaan inkubator sangat penting untuk menjaga kondisi tubuh dan menunjang proses perawatan. Karena itu, tenaga medis harus bekerja ekstra untuk memastikan kebutuhan ibu dan bayi tetap terpenuhi meski berada di tengah situasi darurat.
Catatan 1.624 gempa susulan menunjukkan bahwa aktivitas seismik di wilayah terdampak masih tinggi. BMKG juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan gempa dan kondisi di lapangan. Pemantauan gempa susulan menjadi penting karena masyarakat masih berada dalam kondisi rentan. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan harus mempertimbangkan keselamatan sebelum kembali ke dalam bangunan. Selain ancaman guncangan, kondisi psikologis warga juga menjadi tantangan tersendiri. Gempa berulang dapat menimbulkan rasa takut dan trauma, terutama bagi masyarakat yang mengalami langsung kerusakan rumah maupun kehilangan anggota keluarga.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah bersama unsur terkait terus melakukan penanganan terhadap masyarakat terdampak. BNPB menyatakan tim Basarnas masih disiagakan di sejumlah wilayah terdampak, meskipun hingga 17 Agustus sudah tidak terdapat laporan warga yang hilang. Penanganan tidak hanya difokuskan pada pencarian dan pertolongan korban, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, evakuasi, serta pemulihan berbagai fasilitas yang terdampak. BMKG juga mengerahkan tim untuk melakukan survei makroseismik, pengukuran karakteristik respons tanah, pemantauan gempa susulan, serta verifikasi dampak tsunami di lapangan. Bagi masyarakat NTT, masa pemulihan masih panjang. Di tengah duka akibat puluhan korban meninggal dunia dan ratusan warga yang terluka, ancaman gempa susulan membuat aktivitas sehari-hari belum sepenuhnya kembali normal.
Kondisi pasien yang harus dirawat di selasar dan tenda, hingga seorang ibu bersama bayi yang masih berada dalam inkubator harus menjalani perawatan di luar ruangan, menjadi gambaran nyata betapa berat situasi yang dihadapi masyarakat dan tenaga kesehatan di wilayah terdampak.