Hamas Bubarkan Badan Pemerintahan Setelah Hampir Dua Dekade Berkuasa

Memuat berita

Berita International

Hamas Bubarkan Badan Pemerintahan Setelah Hampir Dua Dekade Berkuasa

Devi Sry Atmaja · 07 Juli 2026 · 21:05 WIB · 2 dibaca
Hamas Bubarkan Badan Pemerintahan Setelah Hampir Dua Dekade Berkuasa

Foto: REUTERS/Ramadan Abed

Gaza – Kelompok Hamas secara resmi mengumumkan pembubaran badan pemerintahan yang telah memimpin Jalur Gaza selama hampir dua dekade. Keputusan ini membuka jalan bagi terbentuknya komite teknokrat Palestina untuk mengambil alih pemerintahan sipil di wilayah yang selama ini terkepung tersebut.

Pengumuman tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Media Hamas, Ismail al-Thawabta, pada Senin (6/7/2026). Langkah ini menjadi pergeseran politik yang sangat signifikan dalam sejarah pergerakan Hamas.

Hamas telah memerintah Gaza sejak tahun 2007, setelah kelompok tersebut merebut kendali wilayah dari gerakan Fatah menyusul kemenangan mereka dalam pemilihan legislatif Palestina pada 2006. Selama hampir 19 tahun, Hamas menjadi kekuatan dominan yang mengatur kehidupan sehari-hari masyarakat Gaza, termasuk di tengah blokade yang panjang dan berbagai konflik bersenjata.

Dengan dibubarkannya badan pemerintahan Hamas, komite teknokrat Palestina kini diharapkan dapat menjalankan roda pemerintahan sipil secara lebih netral dan profesional. Langkah ini dinilai sebagai upaya rekonsiliasi internal Palestina serta respons terhadap tekanan internasional dan kondisi kemanusiaan di Gaza yang semakin memprihatinkan.

Ismail al-Thawabta menyatakan bahwa keputusan ini diambil untuk kepentingan rakyat Palestina secara keseluruhan. “Kami berkomitmen untuk mendukung upaya pembentukan pemerintahan yang lebih inklusif dan mampu melayani masyarakat Gaza dengan lebih baik,” katanya.

Keputusan Hamas ini disambut beragam oleh berbagai pihak. Beberapa kelompok Palestina melihatnya sebagai langkah positif menuju persatuan nasional, sementara pengamat internasional menilai ini sebagai perubahan strategi politik Hamas di tengah situasi yang semakin sulit.

Pembentukan komite teknokrat diharapkan dapat membawa angin segar bagi rekonstruksi Gaza, peningkatan pelayanan publik, serta membuka peluang dialog antar-faksi Palestina yang lebih produktif.

Perkembangan ini menjadi salah satu momen penting dalam dinamika politik Palestina kontemporer yang patut dicermati ke depannya.