Ngeri! Pendaki Terjebak di Celah Mont Blanc Saat Berton-ton Batu Menghujani Lereng

Memuat berita

Berita International

Ngeri! Pendaki Terjebak di Celah Mont Blanc Saat Berton-ton Batu Menghujani Lereng

Fazlur Rahman · 27 Agustus 2026 · 14:15 WIB · 2 dibaca
Ngeri! Pendaki Terjebak di Celah Mont Blanc Saat Berton-ton Batu Menghujani Lereng

Foto: Showbrain

Momen menegangkan terjadi di Grand Couloir du Goûter, salah satu jalur menuju Mont Blanc yang dikenal memiliki risiko runtuhan batu. Seorang pendaki asal Prancis berusia 22 tahun, Loris Bianco, nyaris tertimpa material batu yang meluncur deras dari lereng pegunungan.

Bianco tiba-tiba terjebak di sebuah celah sempit ketika runtuhan batu terjadi tepat di atas posisinya. Dalam situasi yang sangat berbahaya, material batu dalam jumlah besar meluncur melewati area tempat ia berlindung.

Alih-alih dapat segera melarikan diri, Bianco hanya bisa bertahan di celah tersebut sambil merekam detik-detik ketika batu-batu berukuran besar jatuh dan bergemuruh di sekelilingnya. Rekaman tersebut memperlihatkan betapa cepatnya kondisi berubah dari perjalanan pendakian menjadi situasi yang mengancam keselamatan jiwa.

Beruntung, Bianco berhasil selamat dari peristiwa tersebut. Ia memang mengalami cedera pada bagian tangan, tetapi tidak mengalami nasib lebih buruk setelah berhasil keluar dari lokasi runtuhan.

Grand Couloir du Goûter merupakan bagian dari jalur pendakian populer menuju Mont Blanc. Namun, kawasan tersebut juga dikenal memiliki bahaya objektif berupa jatuhan batu yang dapat terjadi secara tiba-tiba, sehingga pendaki harus sangat memperhatikan kondisi medan dan cuaca sebelum melintas.

Ancaman tersebut menjadi semakin diperhatikan dalam beberapa tahun terakhir seiring perubahan kondisi lingkungan di kawasan Alpen. Gelombang panas dan periode kekeringan dapat memengaruhi kestabilan lereng serta kondisi batuan di wilayah pegunungan tinggi.

Salah satu faktor yang dikaitkan dengan meningkatnya ketidakstabilan tersebut adalah mencairnya permafrost. Lapisan tanah dan batuan yang selama bertahun-tahun berada dalam kondisi beku berperan sebagai salah satu pengikat alami di kawasan pegunungan.

Ketika suhu meningkat dan permafrost mencair, ikatan pada material di lereng dapat melemah. Kondisi itu dapat meningkatkan risiko batuan terlepas dan jatuh, terutama pada kawasan dengan kemiringan lereng yang curam.

Peristiwa yang dialami Bianco menjadi gambaran nyata mengenai bahaya tersebut. Runtuhan batu dapat terjadi tanpa banyak waktu bagi pendaki untuk bereaksi, terlebih ketika mereka berada di jalur sempit dan tidak memiliki banyak pilihan tempat berlindung.

Bagi pendaki, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa jalur pendakian yang populer sekalipun tetap memiliki risiko alam yang tidak dapat sepenuhnya diprediksi. Persiapan, pemantauan kondisi cuaca, serta pemilihan waktu melintas menjadi faktor penting ketika menghadapi kawasan dengan potensi jatuhan batu.

Keselamatan pendaki juga sangat bergantung pada kemampuan mengenali kondisi medan. Suara retakan, batu kecil yang mulai berjatuhan, perubahan permukaan lereng, maupun kondisi cuaca ekstrem dapat menjadi tanda yang perlu diwaspadai.

Kisah Loris Bianco memperlihatkan betapa tipisnya jarak antara perjalanan pendakian dan situasi darurat di kawasan pegunungan tinggi. Dalam hitungan detik, berton-ton material dapat meluncur dari lereng dan mengubah jalur yang sebelumnya dilewati pendaki menjadi zona berbahaya.

Ia akhirnya berhasil selamat dari insiden tersebut dengan cedera pada tangan. Namun, kejadian itu kembali menyoroti tantangan keselamatan di Mont Blanc, khususnya di tengah perubahan kondisi iklim yang berpotensi memperbesar risiko ketidakstabilan medan pegunungan.