Pemerintah Terbitkan Panda Bond di China, Diversifikasi Pembiayaan dan Kurangi Ketergantungan Dolar AS

Memuat berita

Nasional

Pemerintah Terbitkan Panda Bond di China, Diversifikasi Pembiayaan dan Kurangi Ketergantungan Dolar AS

Fazlur Rahman · 25 Juli 2026 · 00:45 WIB · 2 dibaca
Pemerintah Terbitkan Panda Bond di China, Diversifikasi Pembiayaan dan Kurangi Ketergantungan Dolar AS

Foto: Bloomberg technoz

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan penerbitan Panda Bond di pasar obligasi China yang dilakukan pada Kamis (23 Juli 2026). Dana hasil penerbitan obligasi berdenominasi yuan ini akan menjadi bagian penting strategi pembiayaan pemerintah, termasuk menutup sebagian defisit anggaran negara.

“Itu untuk nutup defisit sebagian,” ujar Purbaya seusai acara di Istana Kepresidenan, Kamis (23/7/2026).

Penerbitan Panda Bond ini bukan sekadar mencari sumber dana baru. Menurut Purbaya, langkah tersebut merupakan upaya strategis melakukan diversifikasi basis investor sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasar dolar Amerika Serikat.

“Ini diversifikasi sumber pendanaan kita. Sebelumnya kan lebih banyak global bond, dolar. Sekarang kita diversifikasi ke Jepang, Australia, dan China,” jelasnya.

Purbaya menilai pasar keuangan China menawarkan potensi yang sangat besar. Meski kepemilikan obligasi berdenominasi dolar oleh investor China sempat mengalami penurunan, kapasitas serap pasar keuangan negara tersebut tetap kuat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pemerintah Indonesia.

“Daya serap investor masih kuat. Kapasitas pasar keuangan China tetap besar,” katanya.

Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah memperluas akses pembiayaan ke berbagai mata uang dan yurisdiksi. Dengan menerbitkan instrumen utang di pasar domestik China (Panda Bond), Indonesia tidak hanya mendapatkan pendanaan dengan suku bunga yang kompetitif, tetapi juga membuka pintu bagi investor institusi China yang selama ini memiliki likuiditas tinggi.

Penerbitan Panda Bond menjadi bagian dari strategi pembiayaan APBN yang lebih matang di tengah dinamika ekonomi global. Ketergantungan berlebih pada satu mata uang, khususnya dolar AS, dinilai berisiko mengingat fluktuasi nilai tukar dan gejolak geopolitik yang kerap memengaruhi pasar keuangan internasional.


Melalui diversifikasi ke yen Jepang, dolar Australia, dan yuan China, pemerintah berharap dapat menyeimbangkan portofolio utang, menekan risiko nilai tukar, serta memperkuat ketahanan fiskal jangka panjang.

Panda Bond sendiri merupakan obligasi yang diterbitkan oleh entitas non-China di pasar obligasi China Daratan, dengan denominasi mata uang renminbi (yuan). Instrumen ini semakin populer di kalangan pemerintah emerging markets yang ingin menjajaki investor Asia Timur.

Keberhasilan penerbitan Panda Bond kali ini diharapkan menjadi sinyal positif bagi kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia, sekaligus membuka jalan bagi penerbitan serupa di masa mendatang dengan skala yang lebih besar.

Pemerintah akan terus memantau respons pasar dan memastikan dana yang diperoleh digunakan secara efektif untuk mendukung program-program prioritas nasional serta menjaga disiplin fiskal.