Trump Bantah AS Kehabisan Amunisi, Namun Militer Akui Stok Senjata Presisi Mulai Menipis

Memuat berita

Berita International

Trump Bantah AS Kehabisan Amunisi, Namun Militer Akui Stok Senjata Presisi Mulai Menipis

Devi Sry Atmaja · 06 Agustus 2026 · 19:34 WIB · 2 dibaca
Trump Bantah AS Kehabisan Amunisi, Namun Militer Akui Stok Senjata Presisi Mulai Menipis

Foto: DW News

Washington, D.C. – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, membantah keras kabar yang menyebut negaranya mulai kehabisan amunisi di tengah operasi militer melawan Iran. Trump menegaskan bahwa militer AS masih memiliki persediaan senjata yang memadai dan tetap berada dalam kondisi siap tempur untuk menghadapi berbagai ancaman. Pernyataan tersebut muncul setelah sejumlah laporan media internasional mengungkap bahwa stok amunisi presisi jarak jauh milik Amerika Serikat mengalami penurunan signifikan akibat intensitas operasi militer yang berlangsung selama berbulan-bulan. Meski demikian, Trump menepis seluruh spekulasi tersebut. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat masih memiliki persenjataan yang jauh lebih besar dibandingkan negara mana pun dan tidak mengalami krisis amunisi sebagaimana diberitakan.

Isu mengenai menipisnya persediaan amunisi mulai mencuat sejak 26 Juli 2026. Saat itu, militer AS secara mengejutkan menghentikan serangan intensif terhadap Iran setelah melancarkan operasi selama 13 hari berturut-turut. Keputusan tersebut memunculkan berbagai spekulasi, salah satunya terkait dugaan bahwa stok rudal dan amunisi presisi mulai berkurang sehingga memengaruhi kemampuan tempur Amerika dalam mempertahankan operasi dengan intensitas tinggi.

Berbeda dengan pernyataan Presiden Trump, sejumlah pejabat tinggi militer AS mengakui bahwa penggunaan amunisi dalam konflik melawan Iran berlangsung sangat cepat. Laporan Reuters menyebutkan bahwa persediaan rudal presisi jarak jauh, termasuk ATACMS, Precision Strike Missile (PrSM), hingga rudal jelajah Tomahawk, telah terkuras dalam jumlah besar selama konflik berlangsung. Bahkan, penggunaan sistem pertahanan udara seperti Patriot dan THAAD juga meningkat drastis untuk menghadapi serangan rudal dan drone dari Iran. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai kesiapan militer AS apabila harus menghadapi konflik berkepanjangan atau krisis keamanan lain di kawasan Indo-Pasifik maupun Eropa.

Tak hanya Amerika Serikat, sejumlah negara sekutu di kawasan Teluk juga mulai menyuarakan kekhawatiran terhadap menurunnya stok sistem pertahanan udara. Negara-negara mitra AS bergantung pada pasokan rudal pencegat Patriot dan THAAD untuk melindungi wilayah mereka dari ancaman rudal balistik maupun drone. Menipisnya stok sistem tersebut dikhawatirkan dapat mengurangi efektivitas pertahanan regional apabila konflik terus berlanjut.

Untuk mengantisipasi berkurangnya persediaan, pemerintah AS bersama perusahaan industri pertahanan dikabarkan mempercepat produksi berbagai jenis rudal presisi dan sistem pertahanan udara. Langkah tersebut dilakukan guna mengisi kembali stok nasional sekaligus memastikan kesiapan militer Amerika Serikat menghadapi potensi eskalasi konflik di masa mendatang.

Meski terdapat sinyal diplomasi antara Washington dan Teheran, situasi di Timur Tengah masih dinilai sangat dinamis. Para pengamat menilai kemampuan logistik dan pasokan amunisi akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberlanjutan operasi militer apabila konflik kembali meningkat. Sementara itu, Trump tetap optimistis bahwa militer AS memiliki kemampuan penuh untuk mempertahankan kepentingan nasionalnya dan menegaskan bahwa kabar mengenai Amerika Serikat kehabisan amunisi tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.