Trump Klaim Kim Jong Un Balas Ajakan Dialog, Latihan Militer AS-Korsel Dipangkas
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan terbukanya kembali jalur dialog dengan Korea Utara setelah mengatakan bahwa pemimpin negara tersebut, Kim Jong Un, telah merespons ajakan Washington untuk menggelar pembicaraan.
Pernyataan itu disampaikan Trump di Oval Office pada Senin (17/8/2026), hanya sehari setelah ia memerintahkan Pentagon untuk “secara substansial mengurangi”
Ketika ditanya wartawan apakah Kim telah memberikan tanggapan atas permintaannya untuk berbicara, Trump menjawab singkat, “Ya, sudah.”
Trump menyebut perkembangan itu sebagai sesuatu yang “sangat positif”
“Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan rasa hormat yang besar,” kata Trump. Ia juga mengatakan bahwa dirinya memahami Kim dan sebaliknya.
Pernyataan tersebut menghidupkan kembali spekulasi mengenai kemungkinan pertemuan Trump dan Kim, setelah diplomasi personal kedua pemimpin pada periode pertama pemerintahan Trump menghasilkan sejumlah pertemuan tingkat tinggi, tetapi belum menghasilkan kesepakatan denuklirisasi yang bertahan lama.
Langkah Trump terhadap latihan militer bersama dengan Korsel menjadi bagian penting dari perkembangan terbaru tersebut.
Pada Minggu (16/8), Trump memerintahkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk mengurangi secara signifikan latihan militer gabungan AS-Korsel. Trump menyebut latihan tersebut mahal dan menilai kegiatan itu dapat mengirimkan sinyal yang tidak tepat kepada Korea Utara.
Keputusan tersebut diumumkan ketika latihan tahunan Ulchi Freedom Shield (UFS)
Latihan gabungan itu bukan semata-mata kegiatan militer rutin. UFS dirancang untuk meningkatkan koordinasi dan kesiapan pasukan kedua negara menghadapi berbagai skenario ancaman, termasuk serangan dari Korea Utara. Dalam pelaksanaannya, latihan melibatkan ribuan personel militer Korea Selatan serta pasukan AS.
Bagi Korea Utara, latihan militer AS-Korsel selama bertahun-tahun dipandang sebagai latihan untuk mempersiapkan serangan terhadap Pyongyang. Sebaliknya, Washington dan Seoul menyatakan latihan tersebut bersifat defensif dan diperlukan untuk mempertahankan kesiapan militer.
Trump secara terbuka mengaitkan keputusan mengurangi latihan militer tersebut dengan hubungannya dengan Kim Jong Un.
Dalam pernyataannya, Trump menggambarkan Kim sebagai pemimpin yang selama pemerintahannya bersikap “tidak mengancam”
Trump bahkan menolak kekhawatiran bahwa pengurangan latihan akan melemahkan posisi AS terhadap Korea Utara.
“Anda tahu, dia tidak menyukai Biden. Dia tidak menyukai Obama,” ujar Trump, merujuk pada hubungan Kim dengan para presiden AS sebelumnya. “Dia tidak menyukai siapa pun. Tetapi saya berhubungan sangat baik dengannya.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan kembali pendekatan Trump yang menempatkan hubungan personal dengan Kim sebagai salah satu instrumen diplomasi dalam menghadapi Korea Utara.
Keputusan Washington tersebut berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam hubungan AS-Korsel.
Aliansi militer kedua negara selama ini menjadi fondasi utama keamanan Korea Selatan. Karena Seoul tidak memiliki senjata nuklir sendiri, keberadaan pasukan AS dan kemampuan militer gabungan dipandang sebagai bagian penting dari strategi pencegahan terhadap Korea Utara.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan kembali pentingnya aliansi dengan AS setelah keputusan Trump memangkas latihan militer gabungan. Pada saat yang sama, Lee juga mendorong penguatan kemampuan pertahanan Korea Selatan dan percepatan proses menuju pengambilalihan kendali operasional masa perang oleh Seoul.
Sejumlah pengamat memperingatkan bahwa pengurangan latihan dapat berdampak terhadap kesiapan pasukan dan kemampuan kedua negara untuk beroperasi secara terpadu jika terjadi krisis militer.
Latihan gabungan berfungsi untuk memastikan ribuan personel dari dua negara dapat bekerja dengan prosedur, sistem komando, dan komunikasi yang terkoordinasi. Jika frekuensi atau skala latihan terus dikurangi, kemampuan tersebut dikhawatirkan ikut terpengaruh.
Hubungan Washington dan Seoul juga tengah menghadapi persoalan lain.
Trump sebelumnya mengkritik Korea Selatan karena dinilai tidak memberikan dukungan terhadap upaya AS dalam konflik dengan Iran. Dalam pernyataan yang mengiringi keputusan pengurangan latihan militer, Trump mengatakan dirinya sempat meminta Presiden Korea Selatan untuk membantu upaya AS terkait denuklirisasi Iran, tetapi Seoul menolak.
Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan Trump terhadap aliansi AS di Asia tidak hanya dipengaruhi oleh pertimbangan keamanan regional, tetapi juga oleh ekspektasi Washington terhadap dukungan sekutunya dalam konflik di luar kawasan.
Situasi ini membuat Seoul berada dalam posisi yang sulit. Korea Selatan harus mempertahankan hubungan strategis dengan Washington, sementara pada saat yang sama menghadapi ketidakpastian mengenai seberapa jauh komitmen militer AS di Semenanjung Korea akan dipertahankan.
Pengurangan latihan militer juga menimbulkan kekhawatiran mengenai efeknya terhadap keseimbangan kekuatan di Asia Timur.
Korea Utara terus mengembangkan kemampuan militernya, sementara China memperkuat pengaruh strategisnya di kawasan. Dalam kondisi tersebut, latihan gabungan AS-Korsel selama ini dipandang sebagai salah satu cara Washington menunjukkan komitmennya terhadap keamanan regional.
Karena itu, keputusan untuk memangkas latihan dapat dibaca dengan dua cara.
Bagi Trump, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mengurangi biaya, menurunkan ketegangan dengan Pyongyang, sekaligus membuka ruang diplomasi dengan Kim.
Namun bagi sebagian pengkritik, langkah itu justru berisiko mengurangi daya tangkal AS dan menimbulkan pertanyaan mengenai keteguhan komitmen Washington terhadap sekutunya.
Reuters mencatat bahwa para analis meragukan apakah pendekatan personal Trump kali ini akan segera menghasilkan terobosan. Korea Utara kini memiliki hubungan yang semakin erat dengan Rusia dan China, sementara pengalaman diplomasi Trump-Kim pada periode sebelumnya belum menghasilkan kemajuan permanen dalam isu nuklir.
Pertanyaan terbesar setelah pernyataan Trump adalah apakah respons Kim benar-benar menjadi awal dari proses diplomasi baru.
Untuk saat ini, belum ada rincian publik mengenai isi respons pemimpin Korea Utara tersebut. Belum jelas pula apakah komunikasi yang disebut Trump itu akan berkembang menjadi pembicaraan resmi, pertemuan tingkat tinggi, atau sekadar pertukaran pesan diplomatik.
Sejarah hubungan Trump dan Kim menunjukkan bahwa keduanya pernah membangun hubungan personal yang tidak biasa bagi dua negara yang secara teknis masih berada dalam konflik.
Pada 2018 dan 2019, Trump dan Kim bertemu dalam rangkaian pertemuan tingkat tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, proses tersebut akhirnya terhenti tanpa kesepakatan menyeluruh mengenai denuklirisasi Korea Utara.
Kini, Trump kembali mencoba mengandalkan hubungan personal tersebut.
Bedanya, lanskap geopolitik Asia Timur telah berubah. Korea Utara semakin memperkuat hubungan dengan Rusia dan China, sementara Seoul menghadapi ketidakpastian baru mengenai arah kebijakan pertahanan Washington.
Perkembangan terbaru ini menempatkan Trump pada persimpangan antara dua kepentingan: membuka kembali komunikasi dengan Pyongyang dan mempertahankan kepercayaan sekutu utama AS di kawasan.
Jika dialog dengan Kim benar-benar berlanjut, pengurangan latihan militer dapat menjadi salah satu langkah yang digunakan Washington untuk menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi perundingan.
Namun, bagi Seoul, setiap pengurangan kehadiran dan kesiapan militer AS juga membawa konsekuensi tersendiri.
Inilah dilema terbesar dari pendekatan terbaru Trump.
Washington berharap hubungan personal dengan Kim dapat membuat Semenanjung Korea lebih aman. Tetapi pada saat yang sama, sekutu terdekatnya di kawasan justru harus menghadapi pertanyaan mengenai seberapa kuat komitmen pertahanan AS tetap bertahan.
Untuk saat ini, satu hal yang sudah jelas: pintu dialog antara Trump dan Kim kembali terbuka, setidaknya menurut klaim Presiden AS.
Apakah pintu tersebut akan mengarah pada pertemuan baru dan terobosan diplomatik, atau kembali berakhir tanpa kesepakatan, masih menjadi pertanyaan.
Yang pasti, setiap langkah Trump berikutnya akan diawasi bukan hanya oleh Pyongyang, tetapi juga oleh Seoul, Beijing, Moskow, dan negara-negara lain yang berkepentingan terhadap stabilitas keamanan di Asia Timur.