Trump Ungkap Operasi Rahasia Keluar dari Turkiye, Dipindahkan dari Air Force One karena Ancaman Iran

Memuat berita

Nasional

Trump Ungkap Operasi Rahasia Keluar dari Turkiye, Dipindahkan dari Air Force One karena Ancaman Iran

Rizqi Akbar Sadly · 13 Agustus 2026 · 17:40 WIB · 3 dibaca
Trump Ungkap Operasi Rahasia Keluar dari Turkiye, Dipindahkan dari Air Force One karena Ancaman Iran

Foto: Kompas

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap operasi keamanan rahasia yang membuatnya diam-diam dipindahkan dari Air Force One saat meninggalkan Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. Pemindahan tersebut dilakukan setelah aparat keamanan Amerika Serikat menerima informasi mengenai ancaman yang dinilai kredibel dan mendesak terhadap keselamatan Trump di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Dalam operasi itu, Trump keluar dari pesawat melalui truk katering bandara dan kemudian dipindahkan ke pesawat pemerintah yang lebih kecil. Informasi mengenai operasi tersebut baru terungkap kepada publik sekitar satu bulan kemudian melalui laporan media.

Trump mengonfirmasi keberadaan operasi tersebut kepada wartawan pada Selasa (11/8/2026). Ia mengatakan keputusan untuk memindahkannya dari pesawat dilakukan atas arahan Secret Service dan militer Amerika Serikat yang bertanggung jawab terhadap keamanan perjalanan presiden. “Mereka ingin saya terbang dengan penerbangan lain, pesawat yang berbeda,” ujar Trump ketika menjelaskan perubahan penerbangannya. Ia mengatakan dirinya mengikuti arahan aparat keamanan dan tidak banyak mempertanyakan ancaman yang menjadi dasar keputusan tersebut.

Peristiwa itu berlangsung setelah Trump menghadiri pertemuan tingkat tinggi NATO di Ankara. Sebelum keberangkatan, Trump sebelumnya diketahui akan menggunakan pesawat kepresidenan baru yang merupakan hadiah dari Qatar. Namun, rencana tersebut berubah dan Trump secara terbuka menaiki Air Force One versi lama yang menjadi pesawat kepresidenan Amerika Serikat sebelumnya. Pada saat itu, Trump memberikan penjelasan bahwa pesawat baru tersebut akan diterbangkan terlebih dahulu ke Pangkalan Udara Mildenhall di Inggris agar personel militer Amerika Serikat dapat melihat pesawat tersebut. Alasan tersebut kemudian diketahui hanya menjadi bagian dari rangkaian situasi yang jauh lebih kompleks.

Setelah Trump terlihat menaiki Air Force One lama di Ankara, sebuah operasi tertutup dilakukan untuk mengeluarkannya dari pesawat tanpa diketahui sebagian besar rombongan. Trump bersama sejumlah pembantu dekatnya dipindahkan menggunakan kendaraan katering bandara yang diangkat hingga sejajar dengan pintu pesawat. Dari kendaraan tersebut, Trump kemudian dibawa menuju sebuah pesawat C-32A yang berukuran lebih kecil dan memiliki tampilan yang jauh lebih tidak mencolok. Pesawat tersebut kemudian membawa Trump menuju Inggris tanpa menarik perhatian seperti yang kemungkinan terjadi apabila pesawat kepresidenan digunakan secara terbuka.

Pada saat yang sama, Air Force One tetap meninggalkan Ankara dan membawa sejumlah pejabat pemerintahan serta rombongan wartawan yang mengikuti perjalanan presiden. Pesawat tersebut pada praktiknya berfungsi sebagai pengalih perhatian untuk menyamarkan keberadaan Trump di pesawat lain. Menteri Luar Negeri Marco Rubio disebut mengetahui adanya operasi tersebut, sementara Menteri Keuangan Scott Bessent dan sebagian staf serta wartawan dilaporkan tetap berada di pesawat yang dianggap membawa presiden. Rombongan pers baru mengetahui bahwa Trump sebenarnya tidak berada di pesawat tersebut setelah rangkaian perjalanan itu terungkap kemudian.

Ancaman yang menjadi latar belakang operasi tersebut berkaitan dengan meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran. Sumber yang mengetahui operasi itu mengatakan aparat keamanan menerima informasi mengenai kemungkinan serangan menggunakan rudal yang diluncurkan dari darat dan dapat menargetkan pesawat Trump. Salah satu kemungkinan yang dikaji adalah penggunaan rudal pencari panas yang dapat mengincar sumber panas dari mesin pesawat. Namun, sumber Reuters menekankan bahwa tidak terdapat rencana serangan yang jelas dari pihak yang dianggap mengancam Trump, melainkan adanya indikasi niat dan ancaman yang dinilai cukup serius untuk memicu tindakan pengamanan luar biasa.

Keputusan tersebut juga berkaitan dengan karakteristik pesawat yang digunakan dalam perjalanan Trump. Pesawat baru yang diberikan Qatar memang telah menjalani proses modifikasi, tetapi pada saat itu masih menjadi perhatian karena sejumlah aspek keamanan dan perlengkapannya belum sepenuhnya sama dengan pesawat kepresidenan lama. Trump sebelumnya tiba di Ankara menggunakan pesawat baru tersebut untuk menghadiri pertemuan NATO. Dalam perjalanan pulang, ia justru memilih menggunakan pesawat lama untuk sebagian rute, sebelum kemudian kembali bergabung dengan pesawat baru di Inggris. Rangkaian pergantian pesawat itu pada awalnya menimbulkan pertanyaan karena alasan keamanan belum disampaikan secara terbuka.

Situasi tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai keselamatan orang-orang yang tetap berada di pesawat yang berfungsi sebagai pengalih perhatian. Sejumlah pejabat, staf Gedung Putih, petugas keamanan, serta wartawan mengikuti penerbangan Air Force One lama dengan keyakinan bahwa Trump berada di dalamnya. Beberapa pihak kemudian mempertanyakan apakah operasi tersebut berpotensi meningkatkan risiko bagi mereka yang berada di pesawat tersebut apabila ancaman memang diarahkan kepada pesawat yang diyakini membawa presiden. Di sisi lain, sumber yang mengetahui operasi mengatakan keputusan tersebut dibuat karena aparat keamanan menilai perlindungan terhadap presiden harus menjadi prioritas dalam situasi yang dianggap mendesak.

Pengungkapan operasi tersebut juga kembali menyoroti praktik perjalanan rahasia presiden Amerika Serikat dalam situasi berisiko tinggi. Presiden Amerika Serikat sebelumnya pernah melakukan perjalanan yang dirahasiakan secara ketat, termasuk ketika George W. Bush mengunjungi Baghdad pada 2003 dan ketika Barack Obama melakukan kunjungan mendadak ke Afghanistan pada 2014. Namun, dalam sejumlah perjalanan tersebut, informasi mengenai operasi biasanya dikelola dengan protokol kerahasiaan yang melibatkan sebagian rombongan pers. Kasus Trump di Turkiye menjadi perhatian karena sebagian besar wartawan dan sejumlah staf yang berada dalam rombongan tidak mengetahui bahwa presiden telah meninggalkan pesawat mereka.

Trump sendiri mengatakan dirinya tidak merasa takut meskipun mengetahui adanya ancaman. Ia menyebut dirinya memang menghadapi ancaman secara rutin dan menyerahkan keputusan teknis mengenai keselamatan kepada Secret Service serta militer. “Saya mengikuti apa yang mereka inginkan,” kata Trump, seraya menjelaskan bahwa ia tidak perlu mengetahui seluruh rincian ancaman untuk menjalankan keputusan pengamanan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa operasi pemindahan pesawat dilakukan sebagai bagian dari prosedur perlindungan presiden, meskipun rincian mengenai sumber informasi intelijen dan bentuk ancaman yang sebenarnya masih dirahasiakan.

Operasi rahasia di Ankara tersebut akhirnya menjadi publik setelah laporan media mengungkap bahwa penerbangan Air Force One yang terlihat membawa Trump ternyata merupakan bagian dari pengelabuan keamanan. Setelah tiba di Inggris, Trump kembali bergabung dengan rombongan dan kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat kepresidenan baru menuju Amerika Serikat. Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana aparat keamanan dapat mengubah rencana perjalanan presiden secara mendadak ketika muncul informasi mengenai ancaman yang dianggap kredibel. Hingga kini, rincian mengenai sumber ancaman dan pihak yang diduga berada di baliknya belum seluruhnya dibuka kepada publik.