152 Pendaki Dievakuasi Imbas Kebakaran di Lereng Gunung Sumbing

Memuat berita

Nasional

152 Pendaki Dievakuasi Imbas Kebakaran di Lereng Gunung Sumbing

Devi Sry Atmaja · 20 Oktober 2026 · 22:13 WIB · 4 dibaca
152 Pendaki Dievakuasi Imbas Kebakaran di Lereng Gunung Sumbing

Foto: Kumparan News

Tim penyelamat gabungan berhasil mengevakuasi 152 pendaki dari lereng Gunung Sumbing. Kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, memaksa proses evakuasi dilakukan pada Senin (19/10/2026). Para pendaki yang dievakuasi sebelumnya naik melalui Basecamp Garung dan Basecamp Gajahmungkur. Keselamatan pendaki menjadi prioritas utama tim gabungan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Wonosobo, Sumekto Hendro, membenarkan jumlah pendaki yang berhasil dievakuasi.

“Tim basecamp bersama tim gabungan telah melakukan evakuasi 152 pendaki yang terdata sesuai registrasi,” ujar Sumekto kepada kumparan. Data registrasi menjadi acuan dalam proses pencatatan dan evakuasi. Koordinasi antar tim berjalan cukup baik di lapangan.

Lokasi hutan yang terbakar berada di ketinggian 2.500 hingga 2.709 meter di atas permukaan laut. Titik kebakaran berada pada petak 29 RPH Kleseman, BKPH Wonosobo, KPH Kedu Utara. Medan yang cukup tinggi dan berkontur membuat upaya pemadaman menjadi tidak mudah. Akses menuju lokasi juga menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Berdasarkan laporan dari porter pendakian via Gajah Mungkur, kebakaran mulai terjadi sekitar pukul 15.00 WIB.

“Berdasarkan laporan dari porter pendakian via Gajah Mungkur kebakaran terjadi di hutan Gunung Sumbing sekitar pukul 15.00 WIB,” jelas Sumekto. Informasi awal dari porter menjadi penentu cepatnya respons tim. Evakuasi segera dilakukan untuk menghindari risiko terhadap pendaki.

Kebakaran tersebut sudah dicoba dipadamkan secara manual oleh tim gabungan. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil hingga laporan terakhir. Api di kawasan hutan pegunungan kerap sulit dikendalikan karena faktor angin dan material organik yang mudah terbakar. Kondisi cuaca dan medan menjadi kendala utama. Evakuasi 152 pendaki dilakukan secara bertahap dengan melibatkan tim basecamp dan petugas gabungan. Pendaki yang berasal dari jalur Garung dan Gajahmungkur diarahkan turun menuju area yang lebih aman. Proses registrasi ulang dilakukan untuk memastikan tidak ada pendaki yang tertinggal. Keselamatan jiwa menjadi fokus utama operasi.

Gunung Sumbing merupakan salah satu destinasi pendakian favorit di Jawa Tengah. Keindahan alamnya menarik minat banyak pendaki dari berbagai daerah. Namun, risiko kebakaran hutan di kawasan pegunungan tetap menjadi ancaman, terutama pada musim kemarau. Kewaspadaan pendaki dan pengelola basecamp menjadi penting. BPBD Wonosobo terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan kebakaran. Upaya pemadaman manual masih dilakukan sambil menunggu kemungkinan dukungan tambahan. Medan yang curam dan ketinggian di atas 2.500 MDPL membuat operasional tidak sederhana. Keselamatan petugas pemadam juga menjadi perhatian.

Para pendaki yang berhasil dievakuasi umumnya dalam kondisi aman. Mereka diarahkan untuk tidak kembali ke jalur pendakian hingga situasi benar-benar terkendali. Imbauan ini disampaikan untuk mencegah risiko lebih lanjut. Pengelola basecamp juga diminta memperketat registrasi dan pengawasan. Kebakaran di petak 29 RPH Kleseman menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan hutan dan kewaspadaan dini. Api yang muncul di ketinggian 2.500–2.709 MDPL menunjukkan bahwa kawasan tersebut rawan. Laporan cepat dari porter membantu mempercepat respons. Komunikasi di lapangan menjadi kunci keberhasilan evakuasi.

Tim gabungan yang terlibat terdiri dari petugas BPBD, pengelola basecamp, serta unsur terkait lainnya. Kerja sama antar pihak mempercepat proses penurunan pendaki. Tanpa koordinasi yang baik, evakuasi dalam jumlah besar akan lebih sulit dilakukan. Solidaritas di lapangan terlihat jelas selama operasi. Sumekto Hendro menekankan bahwa data registrasi menjadi acuan utama dalam evakuasi. Dengan terdata sebanyak 152 pendaki, proses pencarian dan penurunan dapat lebih terarah. Tidak ada laporan pendaki yang hilang hingga saat ini. Kondisi tersebut menjadi kabar baik di tengah situasi darurat.

Upaya pemadaman masih terus dilakukan meski belum menunjukkan hasil maksimal. Tim di lapangan berupaya membatasi perluasan api dengan keterbatasan peralatan di medan tinggi. Dukungan logistik dan personel tambahan masih menjadi kebutuhan. Pemantauan situasi dilakukan secara berkala.