AHY Ingatkan Ancaman AI terhadap Dunia Kerja: 92 Juta Pekerjaan Hilang pada 2030, Pekerja Diminta Siapkan Keterampilan Baru

Memuat berita

Nasional

AHY Ingatkan Ancaman AI terhadap Dunia Kerja: 92 Juta Pekerjaan Hilang pada 2030, Pekerja Diminta Siapkan Keterampilan Baru

Fazlur Rahman · 13 Oktober 2026 · 14:17 WIB · 2 dibaca
AHY Ingatkan Ancaman AI terhadap Dunia Kerja: 92 Juta Pekerjaan Hilang pada 2030, Pekerja Diminta Siapkan Keterampilan Baru

Foto: Investortrust.id

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan tenaga kerja Indonesia agar bersiap menghadapi perubahan besar dalam dunia kerja akibat perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Berdasarkan proyeksi World Economic Forum (WEF) dalam laporan 2025, sekitar 92 juta pekerjaan diperkirakan tergeser atau hilang secara global hingga 2030. Namun, pada periode yang sama, perubahan teknologi dan transformasi industri diproyeksikan menciptakan sekitar 170 juta pekerjaan baru.

Peringatan tersebut disampaikan AHY dalam acara Digital Infrastructure Summit 2026 di Jakarta, Senin (12/10/2026). Ia menilai perkembangan AI dan digitalisasi akan mengubah kebutuhan industri, jenis pekerjaan yang tersedia, serta keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Karena itu, tenaga kerja tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan yang dimiliki saat ini, tetapi perlu terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan.

AHY menekankan bahwa perubahan teknologi seharusnya tidak hanya dipandang sebagai ancaman terhadap pekerjaan yang sudah ada. Menurutnya, perkembangan tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat untuk memasuki bidang pekerjaan baru yang membutuhkan kemampuan berbeda dari sebelumnya.

“Kita harus masuk ke wilayah pekerjaan barunya, jangan kemudian kita menjadi korban, masuk ke wilayah pekerjaan yang hilang dan tidak lagi diperlukan,” kata AHY.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan dunia kerja tidak bisa dihindari. Otomatisasi dan penggunaan AI dapat mengambil alih sejumlah tugas yang bersifat rutin, berulang, dan dapat diproses dengan pola tertentu. Di sisi lain, perkembangan teknologi juga memunculkan kebutuhan baru, mulai dari pengembangan sistem digital, pengelolaan data, keamanan siber, hingga pekerjaan yang menggabungkan kemampuan teknologi dengan pengetahuan khusus di berbagai sektor.

Meski demikian, perubahan tersebut tidak berarti seluruh pekerjaan akan hilang begitu saja. Dampaknya dapat berbeda-beda bergantung pada bidang industri, jenis tugas, tingkat penerapan teknologi, dan kemampuan pekerja untuk beradaptasi. Sebagian pekerjaan mungkin mengalami pengurangan kebutuhan tenaga kerja, sementara pekerjaan lainnya berubah dengan menggabungkan keterampilan manusia dan dukungan teknologi.

Dalam konteks tersebut, AHY menyoroti pentingnya peningkatan dan pembaruan keterampilan melalui program reskillingupskilling

Reskillingupskilling

Kedua pendekatan tersebut dinilai semakin penting ketika perusahaan mulai menerapkan AI dalam kegiatan operasional, pelayanan pelanggan, analisis data, administrasi, hingga proses produksi. Pekerja yang mampu memahami teknologi dan menggunakannya untuk mendukung pekerjaan berpeluang lebih siap menghadapi perubahan dibandingkan mereka yang tidak memperoleh kesempatan belajar.

AHY juga menekankan pentingnya memperkuat kemampuan digital, berpikir kritis, analisis, dan pemecahan masalah. Menurutnya, keterampilan tersebut perlu menjadi bagian dari persiapan tenaga kerja menghadapi masa depan, karena kemampuan menggunakan teknologi saja tidak selalu cukup untuk menyelesaikan persoalan yang kompleks.

Kemampuan berpikir kritis diperlukan agar pekerja dapat mengevaluasi informasi dan hasil yang dihasilkan AI, termasuk mengenali kemungkinan kesalahan atau informasi yang tidak akurat. Kemampuan analisis membantu seseorang memahami data dan mengambil keputusan berdasarkan bukti, sedangkan keterampilan pemecahan masalah dibutuhkan untuk mencari solusi yang sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

Selain kemampuan teknis, pekerja juga perlu mengembangkan keterampilan komunikasi, kolaborasi, kreativitas, serta kemampuan menyesuaikan diri. Dalam banyak situasi, teknologi dapat membantu mempercepat proses kerja, tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk menentukan tujuan, mempertimbangkan konteks, memahami kebutuhan orang lain, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.

AHY turut menyoroti empat fondasi utama yang diperlukan untuk menghadapi perkembangan AI, yakni konektivitas, kemampuan komputasi, konteks lokal, dan kompetensi sumber daya manusia. Keempat aspek tersebut dinilai saling berkaitan dalam membangun ekosistem digital yang mampu mendukung pemanfaatan teknologi secara produktif.

Konektivitas menjadi fondasi pertama karena akses internet yang andal diperlukan untuk mendukung kegiatan ekonomi digital, pembelajaran jarak jauh, layanan publik, dan penggunaan berbagai aplikasi berbasis AI. Tanpa jaringan yang memadai, masyarakat di wilayah tertentu berisiko tertinggal dalam mengakses peluang ekonomi maupun program peningkatan keterampilan.

Kemampuan komputasi juga menjadi unsur penting karena pengembangan dan pemanfaatan AI membutuhkan infrastruktur teknologi untuk memproses data. Ketersediaan pusat data, kapasitas komputasi, dan sistem digital yang memadai dapat mendukung pengembangan layanan berbasis teknologi sekaligus memperkuat kemampuan industri dalam berinovasi.

Fondasi berikutnya adalah konteks lokal. Menurut pendekatan ini, penerapan teknologi perlu memperhatikan kebutuhan masyarakat, karakteristik industri, kondisi geografis, serta bahasa dan budaya setempat. Penggunaan AI di Indonesia tidak cukup hanya mengadopsi teknologi yang dikembangkan di negara lain, tetapi juga perlu memastikan bahwa penerapannya relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha di dalam negeri.

Sementara itu, kompetensi sumber daya manusia menjadi faktor penentu agar infrastruktur dan teknologi yang tersedia benar-benar menghasilkan manfaat. Konektivitas dan kemampuan komputasi yang baik tidak akan memberikan dampak maksimal apabila pekerja, pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara tepat.

Karena itu, peningkatan keterampilan perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak. Pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, serta penyelenggara pelatihan memiliki peran dalam menyiapkan program yang sesuai dengan kebutuhan industri. Pelatihan juga perlu dirancang agar dapat diakses oleh pekerja yang ingin meningkatkan kemampuan maupun mereka yang harus beralih ke bidang pekerjaan baru.

Dunia pendidikan pun menghadapi tantangan untuk menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan teknologi. Selain memberikan pengetahuan dasar, pendidikan dan pelatihan vokasi perlu memperkuat keterampilan praktis, literasi digital, kemampuan analitis, serta pengalaman menggunakan perangkat dan sistem yang relevan dengan kebutuhan perusahaan.

Di tingkat perusahaan, penerapan AI juga perlu diikuti dengan strategi pengembangan tenaga kerja. Penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas idealnya disertai pemetaan keterampilan yang dibutuhkan, pelatihan bagi karyawan, serta kesempatan untuk mengisi peran baru yang muncul. Langkah ini penting agar transformasi digital tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga memperhatikan kesiapan pekerja menghadapi perubahan.

Proyeksi WEF mengenai 92 juta pekerjaan yang diperkirakan tergeser dan 170 juta pekerjaan baru yang berpotensi tercipta menunjukkan besarnya pergeseran dalam pasar tenaga kerja global. Secara agregat, angka tersebut menggambarkan potensi pertumbuhan bersih sekitar 78 juta pekerjaan. Namun, peluang pekerjaan baru tidak otomatis dapat menggantikan pekerjaan yang hilang bagi setiap individu, karena keterampilan, lokasi, dan bidang pekerjaan yang dibutuhkan bisa berbeda.

Dengan demikian, tantangan utama bukan hanya mengenai berapa banyak pekerjaan yang hilang atau tercipta, melainkan bagaimana memastikan tenaga kerja memiliki akses terhadap keterampilan dan kesempatan untuk berpindah ke pekerjaan yang berkembang. Tanpa persiapan yang memadai, perubahan kebutuhan industri berisiko memperlebar kesenjangan antara kemampuan pekerja dan kompetensi yang dicari perusahaan.

Pesan AHY menegaskan bahwa adaptasi menjadi salah satu kunci menghadapi transformasi dunia kerja. Perkembangan AI tidak harus dipandang semata-mata sebagai ancaman, tetapi perlu diimbangi dengan investasi pada keterampilan manusia, infrastruktur digital, dan pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nasional.

Di tengah perubahan yang berlangsung cepat, pekerja dituntut untuk terus belajar, memperbarui kemampuan, dan terbuka terhadap bidang pekerjaan baru. Sementara itu, pemerintah dan dunia usaha perlu memastikan bahwa proses transformasi digital berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar manfaat teknologi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat Indonesia.