Asap Karhutla Kalimantan dan Papua Selimuti Gorontalo, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

Memuat berita

Nasional

Asap Karhutla Kalimantan dan Papua Selimuti Gorontalo, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

Fazlur Rahman · 15 Oktober 2026 · 00:13 WIB · 6 dibaca
Asap Karhutla Kalimantan dan Papua Selimuti Gorontalo, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

Foto: AFU.ID

Kualitas udara di Provinsi Gorontalo memburuk akibat sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berasal dari sejumlah wilayah, terutama Papua dan Kalimantan. Kondisi ini membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan karena paparan asap dapat mengganggu kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan. <Cite refs={["turn990671news10","turn990671search1"]}/>

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Djalaluddin Gorontalo, Satria Topan Primadi, menjelaskan bahwa kondisi cuaca di wilayah Gorontalo sebenarnya relatif cerah hingga cerah berawan. Namun, suasana langit yang tampak berkabut dipengaruhi oleh asap karhutla, baik yang berasal dari kebakaran lokal maupun yang terbawa dari luar daerah.

Berdasarkan pemantauan karbon monoksida dan partikel halus PM2.5 yang dilakukan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Palu, kualitas udara di Gorontalo dilaporkan berada dalam kategori tidak sehat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun cuaca terlihat cerah, udara yang dihirup masyarakat belum tentu berada dalam kondisi aman.

Pantauan citra satelit pada Selasa (13/10/2026) sekitar pukul 11.00 WITA menunjukkan sebaran asap dari Papua telah mencapai wilayah Gorontalo. Satria menjelaskan bahwa asap kiriman tersebut menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kualitas udara di daerah itu. Selain itu, sejumlah titik panas masih terpantau di beberapa wilayah sehingga potensi tambahan asap dari sumber kebakaran lokal juga perlu diwaspadai.

Asap dari Kalimantan sebelumnya turut terpantau mencapai Gorontalo pada periode 8–10 Oktober 2026. Namun, menurut BMKG, kontribusi asap dari wilayah tersebut saat ini diperkirakan lebih kecil karena arah angin dominan bertiup dari timur. Dengan kondisi tersebut, sebaran asap yang berasal dari Papua dan sumber lokal lebih mendominasi situasi di Gorontalo. 

Memburuknya kualitas udara ini menjadi perhatian karena partikel halus PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparan asap berpotensi memicu iritasi mata dan tenggorokan, batuk, serta memperburuk gangguan pernapasan yang sudah dialami seseorang. Risiko dampak kesehatan dapat lebih tinggi pada kelompok rentan, termasuk penderita asma serta penyakit paru-paru dan jantung. 

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi udara yang memburuk. Warga diminta menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar rumah, mengurangi kegiatan di luar ruangan yang tidak mendesak, serta sebisa mungkin menghindari paparan asap secara langsung.

Anang juga mengingatkan pentingnya perlindungan bagi kelompok rentan. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan riwayat gangguan pernapasan perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara menurun. Masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, atau keluhan lain setelah terpapar asap sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Gorontalo turut meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak sebaran asap. Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memimpin rapat koordinasi pada Selasa (13/10/2026) untuk membahas dampak kabut asap terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan aktivitas transportasi. Pemerintah meminta seluruh pihak terkait memperbarui informasi secara berkala agar langkah antisipasi dapat dilakukan sesuai perkembangan kondisi di lapangan. 

Masyarakat juga disarankan memantau informasi kualitas udara dan mengikuti imbauan resmi dari BMKG maupun dinas kesehatan. Ketika asap semakin pekat, warga dapat membatasi aktivitas fisik di luar ruangan serta menutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya asap ke dalam rumah.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak selalu terbatas pada wilayah tempat kebakaran terjadi. Asap dapat terbawa angin hingga mencapai daerah lain dan memengaruhi kualitas udara serta kesehatan masyarakat yang tinggal jauh dari sumber api.

Hingga perkembangan kondisi udara membaik, kewaspadaan dan langkah perlindungan diri menjadi hal penting bagi masyarakat Gorontalo. Pengendalian sumber kebakaran, pemantauan sebaran asap, dan penyampaian informasi yang cepat diharapkan dapat membantu menekan risiko kesehatan serta dampak lanjutan terhadap aktivitas masyarakat.