Bayi 24 Hari di Surabaya Meninggal Dunia Diduga usai Diberi Telur Mentah

Memuat berita

Nasional

Bayi 24 Hari di Surabaya Meninggal Dunia Diduga usai Diberi Telur Mentah

Devi Sry Atmaja · 12 Oktober 2026 · 15:00 WIB · 2 dibaca
Bayi 24 Hari di Surabaya Meninggal Dunia Diduga usai Diberi Telur Mentah

Foto: suarasurabaya.net

SURABAYA - Bayi berusia 24 hari berinisial A di Surabaya, Jawa Timur, meninggal dunia. Dugaan sementara mengarah pada pemberian telur mentah oleh neneknya. Kasus ini kemudian menjadi perhatian publik setelah diungkap oleh keluarga. Proses perawatan intensif yang dijalani tidak berhasil menyelamatkan nyawa sang bayi. Kasus tersebut mencuat ketika tante korban, Calista Arisha, membuat utas di platform Threads. Ia membutuhkan ruang Unit Perawatan Intensif Neonatal atau NICU untuk keponakannya. Kondisi bayi A saat itu sudah kritis dan membutuhkan perawatan khusus. Permintaan tersebut menjadi awal perhatian publik terhadap kasus ini.

Pada Minggu (11/10/2026) sekitar pukul 09.00 WIB, Calista menyampaikan kabar duka. Bayi A dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif. Upaya medis yang dilakukan tim dokter tidak mampu mempertahankan nyawa sang bayi. Keluarga diliputi kesedihan mendalam atas kepergian tersebut. Calista Arisha tidak menjelaskan secara rinci ketika ditanya mengenai rencana laporan ke pihak kepolisian. Ia memilih untuk tidak membuka detail langkah hukum yang akan diambil. Namun, ia menegaskan bahwa pihak keluarga sudah melakukan tindak lanjut. Proses internal keluarga berjalan sesuai keputusan bersama. Dalam pernyataannya, Calista menyampaikan apresiasi kepada pihak rumah sakit. 

“Buat kasus ini sudah ditindaklanjuti. Kami berterima kasih kepada tim medis yang sudah berusaha keras untuk adik A,” ujarnya. Ucapan terima kasih tersebut ditujukan atas kerja keras para tenaga kesehatan. Keluarga menghargai seluruh upaya yang telah dilakukan.

Bayi A yang baru berusia 24 hari sempat mengalami kondisi kritis. Kebutuhan akan ruang NICU menunjukkan betapa beratnya kondisi yang dialami. Perawatan intensif dijalani sebelum akhirnya nyawa tidak tertolong. Insiden ini meninggalkan duka mendalam bagi seluruh keluarga. Pemberian telur mentah oleh nenek menjadi dugaan awal yang beredar. Praktik tersebut kemudian dikaitkan dengan memburuknya kondisi bayi. Keluarga melalui Calista memilih untuk menindaklanjuti kasus ini secara internal. Tidak ada penjelasan lebih detail yang disampaikan kepada publik.

Utas di Threads yang dibuat Calista menjadi sarana untuk mencari bantuan ruang NICU. Kondisi kritis keponakannya mendorongnya untuk membuka informasi. Setelah bayi A meninggal, ia kembali memberikan kabar melalui platform yang sama. Transparansi terbatas tetap dijaga oleh pihak keluarga. Tim medis yang menangani bayi A telah berupaya semaksimal mungkin. Calista secara khusus menyampaikan terima kasih atas kerja keras mereka. Perawatan intensif yang diberikan tidak berhasil mengubah kondisi. Keluarga menerima kenyataan tersebut dengan berat hati.

Kematian bayi berusia 24 hari selalu menjadi tragedi yang menyentuh. Kasus di Surabaya ini menambah daftar kejadian serupa yang melibatkan praktik pemberian makanan tidak tepat pada bayi. Edukasi mengenai asupan untuk bayi baru lahir kembali menjadi penting. Kewaspadaan keluarga sangat diperlukan. Calista Arisha sebagai tante korban menjadi pihak yang paling aktif memberikan informasi. Ia tidak membuka detail rencana laporan polisi secara terbuka. Yang ditegaskan hanyalah bahwa kasus sudah ditindaklanjuti. Keluarga memilih jalur yang dianggap paling sesuai. Proses perawatan intensif yang dijalani bayi A berlangsung sebelum Minggu pagi. Kabar meninggal dunia disampaikan sekitar pukul 09.00 WIB. Waktu tersebut menjadi momen duka bagi seluruh kerabat. Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai pihak.

Dugaan pemberian telur mentah oleh nenek menjadi narasi yang berkembang. Namun, pihak keluarga tidak memberikan konfirmasi detail mengenai kronologi tersebut. Fokus utama diarahkan pada proses tindak lanjut yang sudah dilakukan. Terima kasih kepada tim medis menjadi penutup pernyataan Calista. Kasus ini mengingatkan pentingnya pengetahuan tentang gizi dan keamanan pangan untuk bayi. Bayi berusia di bawah satu bulan memiliki sistem pencernaan yang masih sangat rentan. Pemberian makanan di luar rekomendasi medis berisiko tinggi. Edukasi kepada keluarga, termasuk generasi yang lebih tua, perlu terus dilakukan.