Bayi 28 Hari di Surabaya Meninggal Usai Dirawat di NICU, Emil Dardak Berduka dan Soroti Bahaya Penanganan Demam yang Keliru
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya bayi berusia 28 hari berinisial A di Surabaya. Bayi tersebut sebelumnya menjadi perhatian luas masyarakat setelah beredar kabar di media sosial bahwa dirinya diduga diberi telur mentah oleh sang nenek ketika mengalami demam. Peristiwa tragis ini memunculkan keprihatinan publik sekaligus mengingatkan pentingnya penanganan kesehatan yang tepat, terutama bagi bayi baru lahir yang masih sangat rentan terhadap gangguan kesehatan.
Emil mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memantau kondisi bayi A sejak mendapatkan perawatan medis hingga akhirnya meninggal dunia. Menurutnya, bayi tersebut telah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo, Surabaya, termasuk di unit perawatan intensif neonatal atau Neonatal Intensive Care Unit
“Kami sangat berduka, kami intensif memantau sejak beberapa hari terakhir, ananda A meninggal dunia di unit perawatan NICU. Saya meyakini tim RSUD Soetomo telah memberikan pelayanan semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa ananda A sejak dirujuk dalam kondisi yang sangat memprihatinkan saat tiba di RSUD Soetomo,” kata Emil saat dikonfirmasi wartawan, Senin (12/10/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan perhatian pemerintah daerah terhadap penanganan medis yang telah diberikan kepada bayi A. Emil menyampaikan keyakinannya bahwa tim medis RSUD Dr. Soetomo telah berupaya memberikan pelayanan terbaik untuk menyelamatkan nyawa pasien, meskipun kondisi bayi saat tiba di rumah sakit dilaporkan sudah sangat memprihatinkan.
Meninggalnya bayi A menjadi kabar duka bagi keluarga sekaligus menyita perhatian masyarakat karena usianya yang masih 28 hari. Pada usia tersebut, bayi masih berada dalam tahap awal kehidupan dan membutuhkan perawatan khusus. Setiap perubahan kondisi kesehatan, termasuk munculnya demam, perlu mendapatkan perhatian serius dari orang tua maupun pengasuh.
Peristiwa ini bermula ketika bayi A dilaporkan mengalami demam. Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, nenek bayi tersebut diduga memberikan telur mentah dengan maksud membantu menurunkan suhu tubuhnya. Cara tersebut kemudian menjadi sorotan setelah kondisi bayi dilaporkan memburuk dan ia harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Namun, informasi mengenai pemberian telur mentah tersebut perlu ditempatkan secara hati-hati. Dugaan yang beredar di media sosial tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa tindakan tersebut merupakan penyebab langsung kondisi kritis maupun kematian bayi A. Penetapan penyebab medis membutuhkan penjelasan dari tenaga kesehatan berdasarkan hasil pemeriksaan dan informasi klinis yang relevan.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa yang melibatkan kesehatan bayi dapat berkembang menjadi perhatian publik dalam waktu singkat. Di satu sisi, perhatian masyarakat menunjukkan kepedulian terhadap keselamatan anak. Di sisi lain, informasi yang belum terverifikasi berisiko menimbulkan kesimpulan terburu-buru, terutama ketika menyangkut penyebab penyakit dan kematian seseorang.
Karena itu, penting untuk membedakan kronologi yang telah disampaikan, dugaan yang beredar, dan kesimpulan medis yang dapat dipertanggungjawabkan. Keluarga yang sedang berduka juga perlu mendapatkan ruang dan privasi agar dapat menghadapi kehilangan tanpa harus menghadapi tekanan tambahan akibat spekulasi di ruang publik.