Bocah di Pontianak Jalan Kaki 2 Kilometer ke Kantor Polisi demi Selamatkan Ibu yang Diduga Jadi Korban KDRT

Memuat berita

Nasional

Bocah di Pontianak Jalan Kaki 2 Kilometer ke Kantor Polisi demi Selamatkan Ibu yang Diduga Jadi Korban KDRT

Fazlur Rahman · 22 Oktober 2026 · 17:21 WIB · 2 dibaca

Aksi berani seorang anak laki-laki di Pontianak Barat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, menjadi sorotan setelah ia berjalan kaki sejauh sekitar dua kilometer menuju kantor polisi untuk melaporkan dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan ayahnya terhadap sang ibu. Di tengah situasi yang sulit, bocah tersebut berusaha mencari pertolongan demi menyelamatkan ibunya.

Peristiwa itu terjadi pada Senin (19/10/2026). Berdasarkan informasi yang beredar, anak tersebut memutuskan mendatangi kantor polisi setelah menyaksikan dugaan penganiayaan terhadap ibunya di rumah. Ia tidak berangkat sendirian, melainkan ditemani seorang sahabat yang turut mendampinginya mencari bantuan.

Langkah yang diambil bocah tersebut menjadi perhatian karena ia harus menempuh perjalanan sekitar dua kilometer dengan berjalan kaki untuk menyampaikan laporan kepada petugas. Di usianya yang masih belia, ia berusaha mencari pertolongan melalui jalur yang dianggapnya dapat membantu menghentikan kekerasan yang diduga dialami sang ibu.

Setelah menerima laporan tersebut, polisi bergerak menuju rumah korban untuk memeriksa situasi dan memberikan pertolongan. Petugas kemudian menemukan ibu anak tersebut dalam kondisi wajah lebam yang diduga akibat penganiayaan.

Temuan itu menjadi bagian dari penanganan awal kepolisian terhadap laporan dugaan KDRT tersebut. Berdasarkan keterangan korban, ia mengaku telah mengalami penyiksaan dan disekap oleh suaminya selama semalaman. Kondisi yang dialaminya membuat petugas mengambil langkah untuk mengamankan korban agar mendapatkan perlindungan.

Saat ini, korban telah berada dalam penanganan pihak kepolisian untuk memperoleh perlindungan dan tindak lanjut sesuai prosedur. Sementara itu, penanganan lebih lanjut diperlukan untuk mendalami kronologi kejadian, memeriksa keterangan pihak-pihak terkait, serta memastikan langkah hukum yang dapat diambil berdasarkan hasil pemeriksaan.

Aksi bocah tersebut menuai pujian dari masyarakat karena keberaniannya mencari pertolongan di tengah situasi yang berpotensi membahayakan dirinya maupun sang ibu. Keputusannya berjalan kaki sejauh dua kilometer bersama seorang sahabat menunjukkan upaya seorang anak untuk mencari bantuan ketika melihat orang terdekatnya berada dalam kondisi yang diduga tidak aman.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam rumah tangga bukan persoalan yang boleh dianggap sepele. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh korban secara fisik dan psikologis, tetapi juga dapat membekas pada anak-anak yang menyaksikan atau mengetahui kekerasan tersebut.

Anak yang berada di lingkungan penuh kekerasan juga membutuhkan perhatian dan perlindungan agar tidak menanggung beban psikologis berkepanjangan. Karena itu, selain memastikan keselamatan korban, pendampingan yang tepat bagi anak juga penting untuk membantu memulihkan rasa aman dan kondisi emosionalnya.

Keberanian bocah di Pontianak Barat itu menjadi kisah tentang upaya mencari pertolongan di tengah keadaan sulit. Namun, penanganan kasus ini tetap harus mengutamakan keselamatan korban, perlindungan terhadap anak, serta proses pemeriksaan yang cermat untuk memastikan fakta dan pertanggungjawaban hukum atas dugaan kekerasan yang terjadi.