Bogor Uji Coba MBG Prasmanan, Diklaim Kurangi Sisa Makanan dan Jaga Kualitas Sajian
Pemerintah mulai menguji coba model penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di sejumlah sekolah. Salah satu lokasi pelaksanaannya berada di SDN Cibalagung 5, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat. Metode ini diharapkan menjadi alternatif penyajian makanan bagi siswa, sekaligus membantu mengurangi sisa makanan dan menjaga kualitas hidangan sebelum dikonsumsi.
Di SDN Cibalagung 5, sekitar 110 hingga 150 porsi makanan disiapkan setiap hari untuk siswa kelas 5 dan 6. Berbeda dengan sistem makanan yang dibagikan dalam wadah atau ompreng, metode prasmanan memungkinkan makanan dibawa ke kelas dan disajikan langsung kepada para siswa. Dengan cara tersebut, makanan diharapkan dapat disantap dalam kondisi lebih hangat dan segar.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Bogor, Haidir, menyebut tingkat sisa makanan dalam uji coba tersebut relatif kecil. Menurutnya, sebagian besar siswa menghabiskan makanan yang mereka ambil. Sistem ini juga memberi kesempatan kepada siswa untuk mengambil makanan sesuai kebutuhan, sehingga potensi makanan terbuang dapat ditekan.
Model prasmanan menjadi salah satu upaya untuk memperpendek jeda waktu antara makanan selesai dimasak dan saat dikonsumsi. Dalam sistem pembagian menggunakan wadah, makanan biasanya disiapkan lebih dahulu dan menunggu hingga waktu makan tiba. Sementara itu, penyajian langsung di kelas diharapkan dapat membantu mempertahankan suhu serta kualitas hidangan.
Badan Gizi Nasional (BGN) menilai pendekatan tersebut berpotensi mendukung kualitas dan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Makanan yang disajikan lebih dekat dengan waktu konsumsi diharapkan dapat mengurangi risiko penurunan kualitas akibat terlalu lama menunggu. Meski demikian, keamanan pangan tetap bergantung pada proses pengolahan, kebersihan peralatan, penyimpanan, distribusi, serta tata cara penyajian yang sesuai standar.
Selain soal kualitas makanan, sistem prasmanan juga dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi siswa. Mereka dilatih untuk mencuci tangan sebelum makan, mengantre dengan tertib, mengambil makanan secukupnya, dan menjaga kebersihan selama kegiatan berlangsung. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat membentuk kedisiplinan sekaligus menanamkan pemahaman mengenai pentingnya kebersihan dan tidak membuang makanan.
Dalam pelaksanaannya, sejumlah siswa juga dilibatkan untuk membantu proses penyajian, seperti membagikan lauk dan menghitung buah pelengkap bagi teman-temannya. Kegiatan itu dilakukan dengan pendampingan agar pembagian berjalan tertib dan setiap siswa memperoleh makanan sesuai kebutuhan. Melalui pengalaman tersebut, siswa tidak hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi juga belajar bekerja sama, berbagi tugas, dan memperhatikan kebutuhan orang lain.
Meski menawarkan sejumlah manfaat, penerapan sistem prasmanan juga memiliki tantangan. Proses pengambilan dan pembagian makanan dapat memerlukan waktu lebih lama dibandingkan pembagian makanan dalam wadah yang sudah disiapkan. Karena itu, sekolah dan petugas penyelenggara perlu mengatur alur antrean, jumlah petugas, serta jadwal makan agar kegiatan tidak mengganggu waktu belajar.
Kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting. Petugas dapur dan pihak sekolah perlu memahami prosedur penyajian, kebersihan, serta pengawasan selama makanan dibagikan. Pengaturan yang baik diperlukan agar makanan tetap terlindungi dari kontaminasi dan seluruh siswa dapat memperoleh porsi secara tertib.
BGN menyatakan uji coba model prasmanan telah dilakukan di lebih dari 60 dapur pada awal Oktober 2026. Pelaksanaan di sejumlah lokasi tersebut menjadi bagian dari evaluasi untuk melihat efektivitas metode penyajian, termasuk dalam menjaga kualitas makanan, mengurangi jeda antara proses memasak dan konsumsi, serta menekan jumlah makanan yang terbuang.
Pemerintah juga menargetkan penerapan model MBG prasmanan dapat diperluas hingga 5.000 lokasi sekolah di seluruh Indonesia pada akhir 2026. Target tersebut disampaikan dalam konteks pengembangan dan evaluasi model penyajian baru, sehingga keberhasilan penerapannya akan bergantung pada kesiapan masing-masing sekolah, dapur penyedia makanan, petugas, dan sistem pengawasan.
Uji coba di SDN Cibalagung 5 menjadi salah satu contoh upaya mencari pola penyajian MBG yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga memperhatikan kualitas makanan, pengurangan limbah pangan, dan pendidikan kebiasaan hidup bersih di lingkungan sekolah.
Ke depan, efektivitas sistem prasmanan perlu dinilai melalui pemantauan yang berkelanjutan, mulai dari jumlah makanan yang tersisa, ketepatan waktu penyajian, kebersihan proses distribusi, hingga pengalaman siswa saat makan. Dengan evaluasi yang terukur, pemerintah dapat menentukan apakah metode ini layak diperluas dan penyesuaian apa saja yang dibutuhkan agar pelaksanaan MBG berjalan aman, tertib, dan efisien.