Di Usia 65 Tahun, Mbah Waryanah Berjuang Rawat Cucu Lumpuh Selama 13 Tahun, Penghasilan Hanya Rp35 Ribu Sehari

Memuat berita

Nasional

Di Usia 65 Tahun, Mbah Waryanah Berjuang Rawat Cucu Lumpuh Selama 13 Tahun, Penghasilan Hanya Rp35 Ribu Sehari

Devi Sry Atmaja · 26 Oktober 2026 · 14:17 WIB · 2 dibaca
Di Usia 65 Tahun, Mbah Waryanah Berjuang Rawat Cucu Lumpuh Selama 13 Tahun, Penghasilan Hanya Rp35 Ribu Sehari

Foto: Kumparan/Arfiansyah Panji Purnadaru

Di usia yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat, Mbah Waryanah (65) justru masih harus berjuang keras demi merawat sang cucu, Cahyo Agung Wibowo (18), yang mengalami kelumpuhan akibat polio sejak bayi. Tinggal di Kedung Buweng 4, Wukirsari, Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, perempuan lanjut usia itu menjalani hari-hari dengan keterbatasan ekonomi dan tanggung jawab besar yang tak pernah ia tinggalkan. Di tengah kondisi fisik yang semakin menua, kasih sayangnya kepada Cahyo menjadi alasan untuk terus bertahan. Selama 13 tahun terakhir, Mbah Waryanah menjadi sosok yang merawat Cahyo setelah kedua orang tuanya pergi merantau ke Jakarta dan Palembang ketika sang cucu masih berusia lima tahun. Sejak saat itu, kedua orang tua Cahyo disebut tak pernah kembali. Mbah Waryanah pun mengambil tanggung jawab untuk mengasuh dan memenuhi kebutuhan cucunya, meski dirinya sendiri harus menghadapi kesulitan hidup dengan penghasilan yang sangat terbatas.

Cahyo kini berusia 18 tahun dan membutuhkan pendampingan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Polio yang dideritanya sejak bayi menyebabkan tubuhnya lumpuh dan membuatnya tidak bisa berkomunikasi. Kondisi tersebut membuat Cahyo bergantung pada perawatan orang lain, mulai dari kebutuhan dasar hingga pendampingan sehari-hari. Bagi Mbah Waryanah, merawat sang cucu bukan sekadar kewajiban keluarga, melainkan bagian dari perjuangan panjang yang dijalaninya dengan penuh kasih sayang. Setiap pagi, Mbah Waryanah berusaha mencari penghasilan dengan berjualan jajanan pasar. Ia berjalan kaki lebih dari dua kilometer untuk menjajakan dagangannya. Aktivitas tersebut harus dilakukannya meski usia dan kondisi fisiknya tidak lagi muda. Setiap langkah menjadi bagian dari perjuangannya agar tetap memiliki uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari, termasuk memenuhi keperluan perawatan Cahyo.

Dari hasil berjualan, Mbah Waryanah hanya memperoleh sekitar Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per hari. Penghasilan tersebut harus dibagi untuk membeli makanan, kebutuhan rumah tangga, serta popok atau pampers bagi Cahyo. Dengan pemasukan yang terbatas, ia harus mengatur pengeluaran sehemat mungkin agar kebutuhan paling mendasar tetap terpenuhi. Tidak banyak pilihan yang dimilikinya ketika uang yang diperoleh harus mencukupi kebutuhan dua orang dalam sehari. Keterbatasan ekonomi bahkan membuat Mbah Waryanah harus mengesampingkan keinginannya untuk menyajikan makanan yang layak dan beragam. Baginya, yang terpenting adalah tetap ada makanan yang bisa dikonsumsi dan kebutuhan perawatan sang cucu terpenuhi. Dalam keadaan sulit, ia berusaha menerima apa pun yang tersedia di rumah, selama masih bisa digunakan untuk bertahan hidup.

“Kalau makan, lauknya seadanya yang penting ada kecap mau. Garam sama air putih ya nggak papa. Yang penting ada pampers,” kata Mbah Waryanah. 

Namun, perjuangan Mbah Waryanah tidak berhenti pada mencari uang. Ia juga harus membagi waktu antara berjualan dan memastikan sang cucu tidak terlalu lama ditinggalkan sendirian. Rasa khawatir membuatnya tidak tega berlama-lama berada di luar rumah. Akibatnya, waktu berjualan menjadi terbatas, sementara kebutuhan sehari-hari terus berjalan dan harus tetap dipenuhi. Di rumah, Cahyo menghabiskan sebagian besar waktunya di sebuah kamar kecil. Dengan keterbatasan fisik dan kemampuan berkomunikasi, aktivitasnya sangat bergantung pada kondisi dan pendampingan yang tersedia. Sesekali, suara radio menjadi hiburan yang menemani hari-harinya. Di tengah ruang hidup yang sederhana, radio menjadi salah satu cara Cahyo menikmati suasana di sekitarnya ketika sang nenek harus mengurus pekerjaan rumah atau mencari nafkah.

Di balik rutinitas yang dijalaninya, Mbah Waryanah menyimpan kekhawatiran besar tentang masa depan Cahyo. Usianya semakin bertambah, sementara sang cucu juga semakin dewasa dan masih membutuhkan perawatan. Ia menyadari bahwa suatu saat kemampuan fisiknya mungkin tidak lagi sekuat sekarang. Pikiran tentang siapa yang akan merawat Cahyo ketika dirinya tak mampu lagi menjalankan tanggung jawab tersebut menjadi beban batin yang sulit dihindari.

“Saya ngunduri tuo (semakin tua). Cahyo ngunduri gede (semakin besar),” tuturnya. Kalimat singkat itu mencerminkan kecemasan seorang nenek yang memikirkan masa depan cucunya di tengah keterbatasan. Waktu terus berjalan, tetapi kebutuhan Cahyo akan pendampingan tidak hilang. Mbah Waryanah pun berharap ada jalan agar sang cucu tetap mendapatkan perawatan dan kehidupan yang layak ketika dirinya semakin renta.

Kisah Mbah Waryanah dan Cahyo menjadi pengingat bahwa masih ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar di tengah keterbatasan ekonomi dan minimnya dukungan. Perhatian terhadap lansia yang menjadi pengasuh anggota keluarga penyandang disabilitas sangat penting, termasuk dukungan sosial, akses layanan kesehatan, bantuan kebutuhan sehari-hari, dan kepastian pendampingan jangka panjang. Bagi Mbah Waryanah, harapan terbesarnya bukanlah kehidupan mewah, melainkan memastikan Cahyo tetap terawat dan tidak kehilangan tempat bergantung. Di usia senjanya, ia terus berjuang dengan apa yang dimiliki, sembari menyimpan satu kekhawatiran yang paling dalam: siapa yang akan menjaga sang cucu ketika ia tak lagi mampu.