Getaran Banjir Lahar Semeru Tercatat Selama Enam Jam, Hujan Deras Picu Tanggul Jebol di Lumajang

Memuat berita

Nasional

Getaran Banjir Lahar Semeru Tercatat Selama Enam Jam, Hujan Deras Picu Tanggul Jebol di Lumajang

Fazlur Rahman · 02 November 2026 · 16:57 WIB · 2 dibaca
Getaran Banjir Lahar Semeru Tercatat Selama Enam Jam, Hujan Deras Picu Tanggul Jebol di Lumajang

Foto: Detikcom

Aktivitas banjir lahar hujan Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dilaporkan berlangsung selama enam jam pada Senin (2/11/2026). Getaran yang berkaitan dengan aliran banjir lahar tersebut terekam di tengah hujan berintensitas tinggi yang mengguyur kawasan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Selain getaran banjir, aktivitas kegempaan Gunung Semeru selama periode pengamatan enam jam terakhir juga mencatat sejumlah kejadian vulkanik. Berdasarkan data pengamatan, tercatat satu kali gempa guguran dengan amplitudo 6 milimeter dan durasi 115 detik.

Pada periode yang sama, terekam pula 14 kali gempa letusan atau erupsi. Gempa-gempa tersebut memiliki amplitudo berkisar 10 hingga 25 milimeter, dengan durasi antara 31 sampai 153 detik. Catatan kegempaan ini menunjukkan aktivitas vulkanik Semeru masih berlangsung di tengah meningkatnya potensi bahaya akibat hujan deras.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, menjelaskan bahwa gunung tersebut masih berada pada Status Level III atau Siaga. Dengan status tersebut, masyarakat diminta mematuhi rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Salah satu rekomendasi utama adalah larangan melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Pembatasan ini diberlakukan karena kawasan tersebut merupakan jalur yang berpotensi terdampak aliran material vulkanik dari Gunung Semeru.

Ancaman tidak hanya berasal dari aktivitas erupsi, tetapi juga banjir lahar hujan yang dapat terjadi ketika curah hujan tinggi mengguyur kawasan lereng dan daerah hulu sungai. Material vulkanik yang menumpuk di sekitar alur sungai dapat terbawa air hujan, kemudian mengalir dengan deras menuju wilayah yang lebih rendah.

Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, hujan berintensitas tinggi selama enam jam menyebabkan debit air di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) yang berhulu di kawasan Semeru meningkat. Besarnya aliran air tersebut dilaporkan membuat tanggul jebol di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang.

Jebolnya tanggul menambah kekhawatiran terhadap potensi luapan air dan material vulkanik ke kawasan sekitar. Banjir lahar hujan memiliki karakteristik berbeda dari banjir biasa karena dapat membawa pasir, lumpur, batu, hingga bongkahan material vulkanik yang berpotensi merusak bangunan dan infrastruktur.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai dan kawasan rawan bencana. Debit air dapat meningkat dengan cepat ketika hujan deras kembali mengguyur wilayah hulu, sehingga ancaman banjir lahar bisa muncul meskipun hujan di kawasan permukiman telah mereda.

Masyarakat di sekitar Gunung Semeru diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan, tidak beraktivitas di sepanjang aliran sungai yang berhulu di kawasan gunung, serta mengikuti arahan petugas dan rekomendasi PVMBG. Warga juga diminta tidak mendekati lokasi banjir lahar untuk menyaksikan aliran material karena perubahan debit air dapat terjadi sewaktu-waktu.

Dengan status Semeru yang masih berada pada Level III atau Siaga, kepatuhan terhadap zona larangan dan perkembangan informasi resmi menjadi hal penting untuk mengurangi risiko jatuhnya korban. Kombinasi aktivitas vulkanik dan hujan berintensitas tinggi membuat potensi bahaya di kawasan Semeru perlu terus diwaspadai.