Gubernur Bank of England Wanti-Wanti Gelembung AI: Inggris Diminta Bersiap Hadapi Guncangan Pasar

Memuat berita

Berita International

Gubernur Bank of England Wanti-Wanti Gelembung AI: Inggris Diminta Bersiap Hadapi Guncangan Pasar

Fazlur Rahman · 02 Oktober 2026 · 18:38 WIB · 2 dibaca
Gubernur Bank of England Wanti-Wanti Gelembung AI: Inggris Diminta Bersiap Hadapi Guncangan Pasar

Foto: Chosunbiz

Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey memperingatkan Inggris agar bersiap menghadapi kemungkinan guncangan di pasar keuangan apabila lonjakan investasi dan valuasi perusahaan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengalami koreksi tajam.

Bailey mengatakan bank sentral Inggris memantau dengan sangat cermat derasnya aliran dana menuju sektor AI. Lonjakan investasi tersebut telah mendorong kenaikan harga sejumlah aset dan menciptakan ekspektasi sangat tinggi terhadap kemampuan teknologi AI dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan keuntungan bagi perusahaan.

Dalam wawancara dengan BBC yang disiarkan Kamis, Bailey mengingatkan bahwa pasar saat ini seolah menganggap hampir seluruh perusahaan yang berada dalam ekosistem AI sebagai pemenang. Padahal, sejarah perkembangan teknologi menunjukkan bahwa ketika sebuah sektor mengalami ledakan investasi, tidak semua perusahaan pada akhirnya mampu mempertahankan posisinya.

“Semua pihak dinilai sebagai pemenang saat ini. Jika kita melihat ke masa lalu, tidak semua pihak menjadi pemenang,” kata Bailey.

Peringatan tersebut muncul ketika investasi global terhadap AI terus meningkat dan valuasi sejumlah perusahaan teknologi mencapai level yang sangat tinggi. Bank of England menilai perkembangan tersebut membawa peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi pada saat yang sama menciptakan kerentanan baru apabila ekspektasi investor tidak sesuai dengan perkembangan bisnis sebenarnya.

Dalam catatan Financial Policy Committee (FPC) yang diterbitkan 30 September 2026, BoE menyebut peningkatan penerbitan utang terkait AI telah memperluas keterpaparan pasar modal terhadap perkembangan sektor tersebut. Bank sentral juga mencatat risiko yang muncul dari kombinasi valuasi aset berisiko, pasar kredit, dan kondisi keuangan global yang lebih ketat.

BoE menilai sistem keuangan Inggris sejauh ini masih memiliki ketahanan. Namun, lembaga tersebut memperingatkan bahwa perubahan ekspektasi terhadap kecepatan perkembangan atau adopsi AI dapat memicu penilaian ulang harga aset secara lebih tajam.

Artinya, persoalannya bukan semata-mata apakah AI akan berkembang atau tidak. Risiko yang menjadi perhatian bank sentral adalah seberapa besar ekspektasi pasar telah dibangun berdasarkan asumsi bahwa pertumbuhan AI akan berlangsung sangat cepat dan terus menghasilkan keuntungan besar.

Bailey mengatakan Bank of England harus memastikan sistem keuangan tetap tangguh apabila terjadi guncangan. Ia tidak menyatakan bahwa koreksi besar pasti terjadi, tetapi menekankan pentingnya kesiapan menghadapi kemungkinan perubahan kondisi pasar.

Peringatan tersebut menjadi semakin relevan karena perkembangan AI kini tidak hanya berkaitan dengan perusahaan teknologi. Investasi pada pusat data, semikonduktor, komputasi awan, energi, jaringan listrik hingga pembiayaan proyek AI telah menciptakan hubungan yang semakin luas dengan sektor keuangan.

Dalam catatan terbarunya, BoE juga menyoroti bahwa perkembangan cepat teknologi AI telah meningkatkan risiko terhadap ketahanan siber dan operasional. Model AI generasi terbaru semakin mampu menjalankan tugas kompleks tanpa arahan manusia secara langsung, termasuk mengidentifikasi dan mengeksploitasi kerentanan perangkat lunak dalam lingkungan pengujian.

Bailey sendiri menilai AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kemampuan teknologi tersebut dapat menimbulkan risiko apabila berada di tangan yang salah.

“Kita memiliki cara yang jauh lebih kuat untuk menemukan kerentanan” pada perangkat lunak, kata Bailey, seraya memperingatkan bahwa di tangan yang salah, teknologi tersebut dapat menjadi senjata yang sangat kuat.

Kekhawatiran mengenai aspek keamanan AI semakin mendapat perhatian setelah pemerintah Australia mengungkap insiden pada Juni 2026 ketika sebuah agen AI dari OpenAI memperoleh akses tidak sah ke portal layanan statistik Medicare yang dikelola Services Australia. Pemerintah Australia menyatakan penyelidikan forensik masih dilakukan dan sejauh ini tidak ada indikasi informasi pribadi telah diakses.

Kasus tersebut menjadi bagian dari perdebatan lebih luas mengenai kemampuan agen AI yang dapat melakukan tindakan secara mandiri di internet. Australian Institute of Health and Welfare (AIHW), salah satu situs pemerintah yang berinteraksi dengan agen tersebut, menyatakan tidak menemukan bukti sistem mereka diretas atau terjadi akses tidak sah terhadap informasi nonpublik.

Perkembangan itu turut memperkuat seruan agar pengembangan AI mutakhir dilakukan dengan pengamanan yang lebih ketat. CEO Anthropic Dario Amodei sebelumnya menyerukan agar perusahaan AI memperlambat laju pengembangan model paling canggih dan memperkuat evaluasi keselamatan, termasuk melalui keterlibatan evaluator independen. Seruan tersebut kemudian mendapat dukungan publik dari sejumlah tokoh industri, termasuk CEO OpenAI Sam Altman dan Elon Musk.

Di sisi lain, dorongan untuk memperlambat pengembangan AI muncul ketika nilai ekonomi industri tersebut justru terus meningkat. Kondisi ini menciptakan dilema bagi perusahaan teknologi dan investor: semakin besar investasi yang masuk, semakin tinggi pula tuntutan untuk membuktikan bahwa AI mampu menghasilkan pertumbuhan dan keuntungan yang sebanding.

Bagi Bank of England, ketahanan menjadi kata kunci. Jika ekspektasi terhadap AI berubah secara mendadak, dampaknya dapat merambat dari saham perusahaan teknologi ke pasar kredit dan sektor keuangan yang memiliki keterkaitan dengan pembiayaan AI.

BoE dalam laporan terbarunya juga menilai berbagai risiko keuangan global semakin saling terhubung. Karena itu, guncangan yang pada awalnya berasal dari perubahan ekspektasi terhadap AI berpotensi menjadi lebih luas apabila terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar obligasi, kredit berisiko, atau kondisi ekonomi global.

Peringatan Bailey pada akhirnya bukan berarti Bank of England memandang perkembangan AI sebagai ancaman terhadap ekonomi. Sebaliknya, bank sentral mengakui teknologi tersebut memiliki potensi besar untuk memperkuat pertumbuhan. Namun, semakin besar nilai ekonomi yang dibangun di sekitar AI, semakin penting pula memastikan bahwa sistem keuangan mampu menghadapi kemungkinan koreksi.

Dengan investasi, utang, valuasi perusahaan, dan ekspektasi pertumbuhan yang semakin terhubung dengan masa depan AI, pertanyaan yang kini dihadapi pasar bukan hanya seberapa jauh teknologi tersebut dapat berkembang. Pertanyaan lainnya adalah apakah ekspektasi finansial yang mengiringinya dapat bertahan ketika pertumbuhan tidak berjalan secepat yang diperkirakan.

Bagi Bailey, pengalaman sejarah pasar memberikan satu pelajaran penting: ketika sebuah teknologi mengalami ledakan investasi, tidak semua perusahaan akan menjadi pemenang. Karena itu, Bank of England memilih bersiap menghadapi kemungkinan guncangan sebelum koreksi benar-benar terjadi.