IHSG Anjlok 10,76 Persen, Rosan Roeslani Justru Melihat Peluang Investasi Jangka Panjang
Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi perhatian pelaku pasar. Namun, di tengah tekanan besar yang melanda pasar saham, CEO BPI Danantara Rosan Roeslani justru melihat kondisi tersebut sebagai peluang investasi jangka panjang, terutama ketika valuasi sejumlah perusahaan tercatat dinilai semakin menarik.
Rosan menilai koreksi pasar berpotensi membuka kesempatan bagi investor untuk mengakumulasi saham perusahaan dengan fundamental yang baik pada harga yang lebih rendah. Menurutnya, pendekatan investasi Danantara berorientasi pada pertumbuhan dalam jangka panjang, bukan sekadar membeli saham ketika harga naik dan menjualnya kembali dalam waktu singkat.
Pernyataan tersebut disampaikan Rosan kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026), di tengah gejolak pasar yang membuat IHSG mengalami penurunan signifikan. Ia menegaskan bahwa Danantara memandang investasi dengan perspektif jangka panjang sehingga koreksi pasar tidak serta-merta dilihat sebagai alasan untuk menghindari pasar modal.
“Justru kami melihatnya ini adalah suatu opportunity ke depannya, karena tentunya kami sebagai Danantara selalu melihat investasi itu sebagai long term investment bukan sebagai investor in and out,” ujar Rosan.
Pandangan Rosan muncul setelah IHSG mengalami tekanan tajam pada awal perdagangan Jumat. Indeks sempat merosot hingga 8 persen sehingga perdagangan saham mengalami penghentian sementara atau trading halt
Tekanan pasar berlanjut hingga akhir perdagangan sesi I. IHSG tercatat anjlok 630,78 poin atau 10,76 persen ke level 5.233. Penurunan tersebut mencerminkan kuatnya tekanan jual yang terjadi di pasar saham pada periode tersebut.
Koreksi sebesar itu dapat memengaruhi nilai investasi investor, baik individu maupun institusi. Di sisi lain, penurunan harga saham juga dapat mengubah valuasi perusahaan sehingga sebagian saham terlihat lebih murah dibandingkan sebelum koreksi. Meski demikian, harga yang turun tidak otomatis berarti suatu saham sudah layak dibeli, sebab investor tetap perlu mempertimbangkan kondisi keuangan perusahaan, prospek usaha, dan risiko yang menyertainya.
Rosan secara khusus menyoroti peluang yang mungkin muncul dari penurunan valuasi perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa, termasuk badan usaha milik negara (BUMN). Sebagai lembaga pengelola investasi, Danantara memiliki kepentingan terhadap pengembangan nilai aset dalam jangka panjang. Karena itu, perubahan harga di pasar dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai peluang investasi.
Pendekatan investasi jangka panjang umumnya menitikberatkan pada prospek bisnis, kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan, kualitas pengelolaan, serta potensi pertumbuhan nilai aset dalam beberapa tahun ke depan. Strategi ini berbeda dari perdagangan jangka pendek yang lebih banyak memanfaatkan perubahan harga dalam rentang waktu relatif singkat.
Namun, peluang yang muncul ketika pasar melemah tetap harus disertai penilaian yang cermat. Penurunan indeks secara tajam bisa dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari sentimen investor, perkembangan ekonomi, kondisi likuiditas, hingga perubahan persepsi terhadap risiko investasi. Oleh karena itu, keputusan untuk menambah investasi perlu mempertimbangkan apakah penurunan harga mencerminkan koreksi sementara atau perubahan mendasar pada prospek perusahaan.
Bagi pasar modal Indonesia, pandangan Danantara terhadap koreksi IHSG juga menjadi perhatian karena lembaga tersebut memiliki peran strategis dalam pengelolaan investasi. Ketertarikan investor institusional terhadap saham-saham berharga lebih rendah berpotensi menjadi bagian dari dinamika permintaan di pasar, meskipun tidak dengan sendirinya menjamin indeks akan segera pulih.
Pernyataan Rosan juga menegaskan perbedaan cara pandang terhadap gejolak pasar. Ketika investor jangka pendek cenderung merespons perubahan harga dengan cepat, investor berorientasi jangka panjang biasanya menilai kesempatan berdasarkan prospek aset dan tujuan investasi dalam periode yang lebih luas.
Meski demikian, Rosan tidak menyebutkan secara terperinci saham perusahaan mana yang menjadi sasaran investasi Danantara ataupun berapa besar dana yang akan dialokasikan menyusul penurunan IHSG tersebut. Karena itu, pandangannya lebih tepat dipahami sebagai penilaian terhadap peluang yang mungkin terbuka di tengah koreksi pasar, bukan pengumuman mengenai pembelian saham tertentu.
Pergerakan IHSG selanjutnya akan bergantung pada perkembangan sentimen pasar, respons investor, serta berbagai faktor ekonomi dan kebijakan yang memengaruhi keputusan investasi. Di tengah ketidakpastian tersebut, penilaian terhadap fundamental perusahaan dan pengelolaan risiko tetap menjadi faktor penting bagi investor.
Dengan orientasi investasi jangka panjang, Rosan melihat penurunan IHSG bukan semata-mata sebagai tekanan terhadap nilai aset, tetapi juga sebagai momentum untuk mengevaluasi peluang di pasar modal. Meski begitu, realisasi peluang tersebut akan bergantung pada keputusan investasi yang terukur, kondisi perusahaan yang menjadi sasaran, serta perkembangan pasar ke depan.