Israel Tolak Pendaratan Pesawat Ethiopian Airlines karena Pilot Berkebangsaan Indonesia

Memuat berita

Berita International

Israel Tolak Pendaratan Pesawat Ethiopian Airlines karena Pilot Berkebangsaan Indonesia

Devi Sry Atmaja · 13 Oktober 2026 · 16:04 WIB · 2 dibaca
Israel Tolak Pendaratan Pesawat Ethiopian Airlines karena Pilot Berkebangsaan Indonesia

Foto: Shutterstock

Israel dilaporkan menolak pendaratan pesawat kargo Ethiopian Airlines yang sedang menuju Tel Aviv. Alasan penolakan adalah salah satu pilotnya berkewarganegaraan Indonesia. Insiden tersebut terjadi tidak lama setelah pesawat lepas landas. Peristiwa ini kemudian menjadi perhatian media internasional. Menurut kantor berita Turki, Anadolu, pesawat tersebut baru saja lepas landas dari Addis Ababa, Ethiopia. Saat masih berada di wilayah udara Ethiopia, pesawat menerima perintah untuk kembali. Instruksi tersebut disampaikan sebelum pesawat sempat meninggalkan ruang udara negara asal. Keputusan Israel langsung mengubah jalur penerbangan.

Anadolu mengutip laporan media Israel Channel 12 terkait kronologi kejadian. Pilot berkewarganegaraan Indonesia tersebut telah dipantau oleh intelijen Israel. Otoritas bandara di Israel juga ikut memantau informasi awak pesawat. Berdasarkan pantauan tersebut, petugas keamanan Israel melarang pesawat mendarat di Tel Aviv. Pesawat kargo Ethiopian Airlines akhirnya kembali ke Addis Ababa. Setibanya di bandara asal, pilot berkewarganegaraan Indonesia diganti dengan pilot lain. Pergantian awak dilakukan sebagai syarat agar penerbangan dapat dilanjutkan. Setelah penggantian selesai, pesawat kembali terbang menuju Israel.

Dengan awak yang sudah diganti, pesawat berhasil mendarat di Tel Aviv. Penerbangan kargo tersebut akhirnya sampai di tujuan setelah melalui proses penundaan. Insiden ini menunjukkan ketatnya pemeriksaan keamanan yang diterapkan Israel terhadap penerbangan masuk. Status kewarganegaraan awak menjadi salah satu faktor yang diperiksa. Ethiopian Airlines menyatakan tidak mengetahui bahwa pilot yang bersangkutan dilarang mengoperasikan penerbangan menuju Israel. Maskapai tersebut mengaku tidak mendapat informasi sebelumnya mengenai pembatasan tersebut. Ketidaktahuan ini menjadi catatan dalam koordinasi antara maskapai dan otoritas Israel. Komunikasi yang lebih jelas dinilai diperlukan.

Sejumlah laporan menyebut otoritas Israel telah menginstruksikan maskapai asing. Instruksi tersebut berisi agar maskapai tidak menugaskan awak pesawat dari negara-negara tertentu. Negara-negara yang dimaksud adalah yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Pembatasan ini diterapkan sebagai bagian dari protokol keamanan. Daftar negara yang disebut masuk dalam pembatasan tersebut meliputi sejumlah negara. Afghanistan, Aljazair, Indonesia, Iran, Irak, Kuwait, Niger, Qatar, Arab Saudi, Somalia, dan Venezuela termasuk dalam daftar. Indonesia sebagai salah satu negara yang disebutkan langsung terdampak dalam insiden ini. Pilot asal Indonesia menjadi alasan penolakan pendaratan.

Insiden pesawat kargo Ethiopian Airlines menjadi contoh penerapan kebijakan tersebut. Pesawat yang sudah lepas landas terpaksa kembali hanya karena status kewarganegaraan salah satu pilotnya. Setelah diganti, penerbangan dapat dilanjutkan tanpa hambatan. Prosedur keamanan Israel berjalan sesuai kebijakan internal mereka. Pemantauan oleh intelijen Israel dan otoritas bandara menunjukkan sistem pengawasan yang ketat. Informasi mengenai awak pesawat diperiksa sebelum izin pendaratan diberikan. Ketika ditemukan pilot dari negara yang masuk daftar pembatasan, keputusan penolakan langsung diambil. Pesawat masih di ruang udara Ethiopia saat perintah kembali disampaikan.

Ethiopian Airlines sebagai maskapai yang dioperasikan harus menyesuaikan diri dengan aturan negara tujuan. Ketidaktahuan mengenai larangan terhadap pilot tertentu menjadi pelajaran. Ke depan, maskapai diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam menugaskan awak untuk rute ke Israel. Koordinasi dengan otoritas setempat menjadi semakin penting. Dengan kembalinya pesawat ke Addis Ababa dan dilakukannya pergantian pilot, masalah operasional terselesaikan. Pesawat kemudian berhasil mendarat di Tel Aviv sesuai tujuan awal. Namun, insiden ini menyoroti sensitivitas isu kewarganegaraan dalam penerbangan internasional ke Israel. Kebijakan pembatasan awak dari negara tertentu kembali menjadi perhatian.

Daftar negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel menjadi acuan pembatasan. Indonesia yang termasuk dalam daftar tersebut membuat pilot warganya terdampak. Insiden ini tidak hanya melibatkan satu maskapai, tetapi berpotensi memengaruhi maskapai lain yang beroperasi ke Israel. Protokol keamanan tetap menjadi prioritas pihak Israel. Laporan Anadolu dan Channel 12 Israel menjadi sumber utama informasi mengenai kejadian ini. Kronologi dari lepas landas, perintah kembali, pergantian pilot, hingga pendaratan di Tel Aviv tersusun jelas. Ethiopian Airlines menegaskan ketidaktahuannya atas larangan tersebut. Transparansi informasi antarpihak masih menjadi tantangan.