Jusuf Kalla Percaya Ijazah Jokowi Asli, Namun Heran Belum Ditunjukkan

Memuat berita

Nasional

Jusuf Kalla Percaya Ijazah Jokowi Asli, Namun Heran Belum Ditunjukkan

Devi Sry Atmaja · 30 Oktober 2026 · 17:41 WIB · 2 dibaca
Jusuf Kalla Percaya Ijazah Jokowi Asli, Namun Heran Belum Ditunjukkan

Foto: Getty Images

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, menegaskan bahwa ia percaya ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi adalah asli. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah polemik yang masih berlangsung. JK menilai keaslian ijazah tersebut tidak perlu diragukan. Namun, ia mengungkapkan rasa herannya terkait sikap yang diambil. Hanya saja, Jusuf Kalla heran mengapa sampai saat ini Jokowi tidak menunjukkan ijazahnya kepada publik. Polemik mengenai dokumen pendidikan tersebut terus berlanjut tanpa kejelasan visual. Keberadaan ijazah yang tidak ditampilkan di muka umum menjadi pertanyaan baginya. Sikap tersebut dinilai justru memperpanjang perdebatan.

“Kan saya mengatakan, saya percaya ijazah beliau asli. Karena asli, maka ditunjukkan saja. Apa yang salah dengan statement saya? Kenapa mereka keberatan dengan statement itu?” ujar JK. Pernyataan itu dikutip pada Senin (26/10/2026).

Menurut Jusuf Kalla, jika ijazah tersebut memang asli, maka tidak ada salahnya untuk ditunjukkan. Keterbukaan dinilai sebagai cara paling sederhana untuk mengakhiri polemik. Ia merasa pernyataannya justru mendukung keaslian dokumen tersebut. Namun, respons yang muncul justru berupa keberatan. Jusuf Kalla sebagai tokoh senior yang pernah mendampingi dua periode pemerintahan memiliki pengalaman panjang di panggung nasional. Pandangannya mengenai isu ijazah Jokowi menjadi sorotan publik. Kepercayaan yang ia sampaikan disertai dengan harapan agar dokumen itu ditampilkan. Transparansi menjadi kata kunci dalam pernyataannya.

Polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo telah berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Berbagai pihak menyampaikan pandangan berbeda terkait isu tersebut. Jusuf Kalla memilih posisi percaya pada keaslian, namun menuntut keterbukaan. Sikap ini membedakannya dari pihak yang sepenuhnya menolak atau mendukung tanpa catatan. Pernyataan JK yang dikutip pada Senin tersebut memunculkan kembali perbincangan di ruang publik. Ia menegaskan bahwa seruannya untuk menunjukkan ijazah tidak mengandung niat buruk. Justru, langkah tersebut dinilai dapat mempertegas keyakinan bahwa dokumen itu asli. Keberatan terhadap pernyataannya menjadi hal yang membingungkannya.

Sebagai mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla terbiasa menyampaikan pendapat secara lugas. Dalam isu ini, ia tidak ragu menyatakan kepercayaan sekaligus pertanyaan kritis. Kombinasi antara dukungan dan desakan keterbukaan menjadi inti pesannya. Publik kemudian merespons dengan beragam penafsiran. Ijazah sebagai dokumen resmi pendidikan biasanya dapat diverifikasi melalui institusi terkait. Namun, dalam konteks polemik ini, tampilan fisik atau salinan resmi di muka umum menjadi tuntutan sebagian pihak. Jusuf Kalla termasuk yang mendorong langkah tersebut. Ia beralasan bahwa keaslian seharusnya tidak perlu disembunyikan.

Keberatan yang muncul terhadap pernyataan JK menjadi catatan tersendiri. Ia mempertanyakan alasan di balik keberatan tersebut. Bagi JK, seruan untuk menunjukkan ijazah justru sejalan dengan keyakinan bahwa dokumen itu asli. Logika sederhana ini yang ia sampaikan kepada publik. Polemik yang terus berlanjut tanpa penutupan dinilai tidak produktif oleh sejumlah kalangan. Jusuf Kalla melalui pernyataannya mencoba menawarkan jalan keluar berupa keterbukaan. Menunjukkan ijazah dianggap sebagai solusi paling praktis. Jika sudah ditampilkan, perdebatan diharapkan mereda.

Jokowi sebagai Presiden ke-7 RI telah menyelesaikan masa jabatannya. Namun, isu terkait dokumen pendidikannya masih menjadi bahan perbincangan. Jusuf Kalla yang pernah menjadi mitra kerja di kabinet sebelumnya memberikan pandangan personal. Kepercayaan yang ia sampaikan disertai catatan kritis. Pernyataan JK yang menegaskan kepercayaan sekaligus heran terhadap ketidakhadiran tampilan ijazah menjadi berita yang menarik perhatian. Ia tidak hanya menyatakan percaya, tetapi juga mendorong langkah konkret. Transparansi dokumen resmi dinilai sebagai hak publik dalam konteks polemik yang berkepanjangan. Sikap ini konsisten dengan gaya komunikasinya yang terbuka.

Dalam kutipan yang beredar, JK secara eksplisit mempertanyakan keberatan atas pernyataannya. Ia merasa tidak ada yang salah dengan seruan untuk menunjukkan ijazah jika memang asli. Logika tersebut menjadi landasan argumennya. Publik dibiarkan menilai sendiri maksud di balik pernyataannya.