Kapal Pinisi KM Feronia Terbalik di Labuan Bajo, Satu Penumpang Masih Hilang
LABUAN BAJO - Kapal Pinisi KM Feronia terbalik di perairan Batu Bolong, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Kejadian berlangsung pada Selasa (13/10/2026) sekitar pukul 15.02 WITA. Kapal tersebut sedang berlayar dari Labuan Bajo menuju Pulau Rinca. Insiden ini langsung memicu operasi pencarian dan penyelamatan. Saat kejadian, KM Feronia mengangkut total 30 orang. Rinciannya terdiri atas 25 penumpang dan 5 awak kapal. Seluruh penumpang dan kru berada di atas kapal ketika oleng dan terbalik. Kondisi perairan saat itu menjadi faktor yang memperburuk situasi.
Berdasarkan informasi awal, kapal sebelumnya mengangkut penumpang yang baru menyelesaikan aktivitas menyelam. Lokasi menyelam berada di perairan Manta. Setelah aktivitas tersebut, kapal melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya. Rute yang dilalui melewati perairan sekitar Tatawa Besar. Saat melintasi perairan sekitar Tatawa Besar, kapal dihantam arus kuat. Hantaman arus tersebut membuat KM Feronia oleng hingga akhirnya terbalik. Kekuatan arus laut di kawasan tersebut memang dikenal cukup tinggi. Situasi semakin sulit saat kapal kehilangan keseimbangan.
Kejadian diduga berkaitan dengan keterlambatan antisipasi nakhoda. Arus kuat terjadi saat kondisi air pasang tertinggi. Nakhoda dinilai terlambat mengambil langkah antisipatif terhadap perubahan kondisi laut. Namun, dugaan ini masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Penyebab pasti terbaliknya KM Feronia masih dalam proses investigasi. Pihak terkait terus mengumpulkan data dan keterangan saksi. Analisis terhadap kondisi kapal, cuaca, dan keputusan navigasi akan dilakukan secara mendalam. Hasil investigasi akan menentukan temuan resmi.
Tim KSOP Kelas III Labuan Bajo segera bergerak melakukan evakuasi. Mereka berhasil mengevakuasi 29 orang dari lokasi kejadian. Rinciannya meliputi 5 awak kapal dan 24 penumpang. Seluruhnya dibawa ke Dermaga Marina Waterfront untuk penanganan lebih lanjut. Di Dermaga Marina Waterfront, para korban mendapatkan pemeriksaan dan penanganan awal. Kondisi masing-masing penumpang dan awak kapal dipastikan. Beberapa di antaranya mungkin membutuhkan perawatan medis lanjutan. Proses pendataan identitas juga dilakukan di lokasi tersebut.
Satu penumpang lainnya masih dilaporkan hilang. Orang tersebut diduga terjebak di dalam badan kapal yang terbalik. Kondisi ini membuat proses pencarian menjadi lebih kompleks. Tim penyelamat harus berhati-hati agar tidak membahayakan keselamatan petugas. Proses pencarian dan evakuasi terhadap penumpang yang hilang terus berlangsung. Tim mengutamakan keselamatan korban dan petugas dalam setiap langkah. Peralatan pendukung dikerahkan untuk membantu operasi di dalam badan kapal. Waktu menjadi faktor penting dalam upaya penyelamatan.
Perairan Batu Bolong dan sekitar Tatawa Besar memiliki karakteristik arus yang dinamis. Kondisi air pasang tertinggi menambah tantangan navigasi. Kapal pinisi yang biasa digunakan untuk wisata selam harus menghadapi situasi tersebut. Kewaspadaan terhadap kondisi laut sangat diperlukan. Dengan 29 orang berhasil dievakuasi, fokus operasi beralih pada satu penumpang yang masih hilang. Dugaan terjebak di dalam kapal membuat penyelam dan tim SAR bekerja ekstra. Koordinasi antarinstansi di Labuan Bajo terus diperkuat. Informasi terkini selalu diperbarui untuk keluarga korban.
Investigasi terhadap dugaan keterlambatan antisipasi nakhoda akan menjadi bagian penting. Faktor arus kuat saat pasang tertinggi menjadi salah satu hipotesis awal. Pemeriksaan terhadap log kapal dan keterangan awak akan dilakukan. Hasilnya akan menjadi dasar evaluasi keselamatan pelayaran wisata. KSOP Kelas III Labuan Bajo berperan sentral dalam evakuasi awal. Keberhasilan mengevakuasi 29 orang menunjukkan respons yang cepat. Penanganan di Dermaga Marina Waterfront menjadi tahap lanjutan yang krusial. Seluruh pihak berharap penumpang terakhir segera ditemukan dalam kondisi selamat.