Komentar soal Mao Zedong Picu Kontroversi, Mbappé Kehilangan Sponsor China hingga Siaran La Liga Dihentikan

Memuat berita

Football

Komentar soal Mao Zedong Picu Kontroversi, Mbappé Kehilangan Sponsor China hingga Siaran La Liga Dihentikan

Fazlur Rahman · 30 Oktober 2026 · 17:37 WIB · 2 dibaca
Komentar soal Mao Zedong Picu Kontroversi, Mbappé Kehilangan Sponsor China hingga Siaran La Liga Dihentikan

Foto: Detikcom

Kontroversi bermula dari sebuah video acara bincang-bincang The Bridge yang beredar di media sosial. Dalam video tersebut, Kylian Mbappé membicarakan meme internet yang menampilkan wajahnya ditempelkan pada sosok yang ia sebut sebagai seorang diktator China. Komentar itu kemudian dikaitkan dengan Mao Zedong, tokoh pendiri Republik Rakyat China yang hingga kini memiliki posisi penting dalam sejarah dan identitas nasional negara tersebut.

Dalam potongan video yang beredar, penyerang Real Madrid itu menyebut meme tersebut sebagai salah satu gambar yang dianggapnya lucu. Namun, komentar tersebut memicu reaksi keras dari sebagian masyarakat China karena dinilai menyinggung tokoh sejarah yang sensitif bagi publik setempat.

Gelombang kritik dengan cepat meluas di media sosial China. Persoalan yang awalnya muncul dari komentar dalam sebuah wawancara kemudian merembet ke hubungan komersial Mbappé dengan sejumlah perusahaan besar, sekaligus memengaruhi dunia penyiaran sepak bola Spanyol di negara tersebut.

Sedikitnya tiga perusahaan China mengakhiri kerja sama dengan kapten tim nasional Prancis itu. Perusahaan minuman Dongpeng, kelompok usaha produk susu Mengniu, serta produsen keju Milkground termasuk di antara merek yang memutuskan menghentikan kemitraan mereka dengan Mbappé. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa kontroversi itu tidak hanya berdampak pada reputasi pribadi sang pemain, tetapi juga hubungan bisnisnya dengan pasar China.

Dampak lainnya datang dari China Media Group (CMG), kelompok media milik negara yang menaungi penyiar televisi CCTV. CMG mengumumkan penangguhan siaran pertandingan La Liga di China, termasuk penayangan iklan yang menampilkan Mbappé. Keputusan tersebut membuat kontroversi ini meluas dari ranah personal menjadi persoalan yang turut memengaruhi eksposur kompetisi sepak bola Spanyol di salah satu pasar internasionalnya.

La Liga kemudian menyampaikan penyesalan atas komentar Mbappé yang telah menyinggung para penggemar sepak bola China. Pihak liga menegaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan komentar pribadi sang pemain dan bukan sikap resmi organisasi. Meski demikian, dampak terhadap siaran pertandingan menunjukkan bahwa persoalan tersebut telah melampaui hubungan antara seorang pemain dan para penggemarnya.

Real Madrid juga ikut terseret dalam kontroversi tersebut karena Mbappé merupakan salah satu pemain andalan klub. Desakan agar klub memberikan tanggapan turut mengemuka di China. Dalam perkembangan terbaru pada Rabu (28/10/2026), Real Madrid menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat China, menyatakan penghormatan terhadap sejarah, budaya, dan warga negara tersebut.

Di tengah tekanan yang meningkat, Mbappé akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui pernyataan dalam bahasa Prancis, Mandarin, dan Inggris. Ia mengakui bahwa komentarnya tidak dipertimbangkan dengan baik dan memahami bahwa perkataannya telah melukai perasaan banyak orang di China maupun komunitas Tionghoa di berbagai belahan dunia.

Mbappé juga menyampaikan penyesalan kepada semua pihak yang merasa tersinggung. Pernyataan tersebut menjadi upayanya untuk merespons kritik sekaligus menegaskan rasa hormat terhadap masyarakat China dan sejarah mereka. Pemerintah China melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun menyatakan pada Rabu bahwa pihaknya menanggapi permintaan maaf tersebut dengan serius.

Meski permintaan maaf telah disampaikan, dampak komersial dan penyiaran dari kontroversi ini masih menjadi perhatian. Penghentian kerja sama sponsor dan penangguhan siaran La Liga memperlihatkan besarnya konsekuensi yang dapat muncul ketika pernyataan seorang figur publik dianggap menyinggung nilai sejarah dan sentimen masyarakat di pasar internasional.

Kasus Mbappé juga menyoroti tantangan yang dihadapi atlet kelas dunia ketika berinteraksi dengan audiens lintas negara dan budaya. Popularitas global membuat ucapan dalam sebuah wawancara dapat menyebar dengan cepat, ditafsirkan dalam konteks berbeda, dan memengaruhi hubungan dengan sponsor maupun organisasi olahraga.

Bagi klub dan kompetisi yang memiliki penggemar di berbagai negara, persoalan semacam ini juga menuntut perhatian terhadap komunikasi publik dan pengelolaan reputasi. Namun, pemulihan kepercayaan tidak selalu selesai hanya dengan satu pernyataan, karena setiap pihak yang terdampak dapat memiliki pertimbangan tersendiri dalam menentukan langkah berikutnya.

Kini, permintaan maaf Mbappé menjadi bagian penting dari upaya meredakan kontroversi tersebut. Akan tetapi, apakah langkah itu cukup untuk memulihkan seluruh hubungan komersial dan membuka kembali akses siaran La Liga di China masih bergantung pada perkembangan selanjutnya. Untuk saat ini, insiden tersebut menjadi pengingat bahwa komentar yang dianggap ringan dalam satu konteks dapat membawa konsekuensi luas ketika menyentuh persoalan sejarah dan identitas di negara lain.