Nurisa Dian Ashrifah Ukir Sejarah, Emas Asian Games Pertama Panahan Indonesia Lahir dari Nomor Compound
Takdir baik itu akhirnya datang untuk Nurisa Dian Ashrifah. Pemanah Indonesia yang akrab disapa Hani tersebut sebelumnya mungkin tidak banyak diperhitungkan untuk menjadi penyumbang medali emas di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Namun, ketika anak panah terakhirnya menancap di angka 10, sejarah baru panahan Indonesia resmi tercipta.
Nurisa berhasil merebut medali emas nomor compound individu putri Asian Games 2026 setelah mengalahkan wakil Filipina, Amaya Amparo Cojuangco, dengan skor 139-137 di Okazaki Chuo Sogo Park Multipurpose Square, Aichi, Jepang, Kamis (1/10/2026). Kemenangan tersebut menjadi emas pertama Indonesia dalam sejarah keikutsertaan cabang panahan di Asian Games sekaligus emas pertama Indonesia dari nomor compound.
Momen penentuan itu berlangsung begitu menegangkan. Setelah empat sesi atau end, kedua pemanah sama-sama mengoleksi 110 poin. Pertandingan yang sejak awal berlangsung ketat akhirnya ditentukan oleh lima anak panah terakhir.
Nurisa mampu menjaga ketenangannya ketika tekanan berada di titik tertinggi. Pada end kelima, ia mencatat 9, X, dan 10, sementara Cojuangco menutup penampilannya dengan tiga angka 9. Nurisa pun mengamankan tambahan 29 poin, sedangkan lawannya hanya 27 poin. Selisih dua angka tersebut menjadi pembeda yang mengantarkan pemanah Indonesia itu ke podium tertinggi.
Begitu anak panah terakhir memastikan kemenangan, Nurisa tampak memegang kepalanya dengan senyum lebar. Rekan-rekan satu tim langsung memberikan tepuk tangan dan sorakan. Perayaan itu menjadi gambaran betapa bersejarahnya pencapaian tersebut bagi kontingen Merah Putih.
Bagi Indonesia, emas Nurisa bukan sekadar tambahan medali dalam perolehan Asian Games. Prestasi tersebut memutus penantian panjang panahan Indonesia untuk meraih emas di ajang olahraga terbesar di Asia. Sejak debut pada Asian Games 1978, Indonesia belum pernah membawa pulang medali emas dari cabang panahan. Pencapaian terbaik sebelumnya antara lain medali perak Diananda Choirunisa pada nomor recurve individu putri di Asian Games 2018, serta sejumlah medali perunggu.
Yang membuat keberhasilan Nurisa semakin menarik adalah perjalanan yang dilaluinya sejak babak awal. Ia tidak datang dengan status unggulan utama. Dalam babak kualifikasi, pemanah asal Semarang itu berada di peringkat kedelapan dengan raihan 701 poin.
Alih-alih terbebani oleh posisi tersebut, Nurisa justru memilih menjalani setiap pertandingan secara bertahap. Ia bahkan mengaku tidak memasang ekspektasi tinggi sejak awal dan lebih memilih berkonsentrasi pada proses menembak. Pendekatan tersebut kemudian membawanya melewati satu demi satu lawan hingga akhirnya mencapai final.
Di perempat final, Nurisa menghadapi unggulan India, Chikitha Taniparthi. Pertandingan berlangsung sangat ketat dan berakhir dengan kemenangan tipis Nurisa 144-143. Ia kemudian melanjutkan langkah ke semifinal dan berhadapan dengan pemanah muda Korea Selatan, Kang Yeonseo.
Nurisa tampil lebih konsisten dalam semifinal dan menang 147-143. Hasil tersebut memastikan tiket ke partai puncak sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk mencatat sejarah baru di nomor compound.
Di final, Nurisa kembali menunjukkan kemampuannya menghadapi tekanan. Cojuangco memberikan perlawanan kuat dan membuat skor tetap berimbang hingga empat end. Bahkan setelah empat sesi, keduanya masih sama-sama mengumpulkan 110 poin.
Situasi berubah pada end terakhir. Nurisa berhasil mempertahankan konsentrasi ketika pertandingan memasuki fase paling menentukan. Anak panahnya menghasilkan rangkaian 9, X, dan 10, sementara tiga tembakan terakhir Cojuangco semuanya menghasilkan angka 9.
Total 139 poin akhirnya menjadi milik Nurisa. Cojuangco harus puas dengan 137 poin dan membawa pulang medali perak. Bagi Filipina, hasil tersebut juga bersejarah karena menjadi medali perak pertama negara itu dari cabang panahan di Asian Games.
Keberhasilan Nurisa sekaligus menunjukkan bahwa nomor compound mampu memberikan kejutan besar bagi Indonesia. Sebelumnya, Indonesia belum pernah meraih medali emas compound di Asian Games, baik dari nomor individu, beregu putra maupun putri, maupun nomor campuran.
Kini, nama Nurisa Dian Ashrifah tercatat sebagai pemanah pertama Indonesia yang berhasil berdiri di podium tertinggi Asian Games. Ia juga menjadi atlet pertama yang mempersembahkan emas panahan untuk Merah Putih sejak cabang olahraga tersebut mulai dipertandingkan dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di Asian Games.
Lebih dari sekadar sebuah kemenangan 139-137, emas tersebut menjadi bukti bahwa perjalanan menuju prestasi besar tidak selalu dimulai dari posisi terdepan. Nurisa datang tanpa ekspektasi tinggi, berada di posisi kedelapan pada kualifikasi, lalu perlahan melewati lawan-lawannya hingga berdiri sebagai juara.
Pada akhirnya, justru ketika perhatian tertuju pada nomor-nomor lain, compound Indonesia melesat melalui Nurisa. Satu anak panah terakhir yang menancap di angka 10 menjadi penutup sempurna dari perjalanan tersebut sekaligus membuka lembaran baru sejarah panahan Indonesia di pentas Asia.
Emas Nurisa juga menjadi emas kelima Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Namun bagi cabang panahan, nilainya jauh lebih besar daripada sekadar angka dalam tabel perolehan medali. Untuk pertama kalinya, panahan Indonesia memiliki juara Asian Games. Dan nama yang akan selalu melekat pada sejarah tersebut adalah Nurisa Dian Ashrifah, atau Hani.