Pengunjuk Rasa Naik ke Tugu Tani Bentangkan Spanduk Tuntutan

Memuat berita

Nasional

Pengunjuk Rasa Naik ke Tugu Tani Bentangkan Spanduk Tuntutan

Devi Sry Atmaja · 22 Oktober 2026 · 17:22 WIB · 2 dibaca
Pengunjuk Rasa Naik ke Tugu Tani Bentangkan Spanduk Tuntutan

Foto: Polindo

JAKARTA - Sejumlah pengunjuk rasa naik ke Tugu Tani di Jakarta Pusat untuk menyampaikan aspirasi. Mereka membentangkan spanduk berisi berbagai tuntutan rakyat di monumen tersebut. Aksi berlangsung pada Selasa (20/10/2026) dan menarik perhatian warga yang melintas. Suasana di kawasan Tugu Tani sempat menjadi pusat perhatian publik. Salah satu tuntutan utama yang disuarakan adalah desakan agar pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla sebagai bencana nasional. Para pengunjuk rasa menilai status bencana nasional diperlukan untuk mempercepat penanganan secara terpadu. Isu kabut asap dan dampak kesehatan akibat karhutla menjadi latar belakang tuntutan tersebut. Aksi ini menjadi salah satu bentuk penyampaian keprihatinan publik.

Selain isu karhutla, pengunjuk rasa juga menuntut perbaikan kebijakan ekonomi. Mereka menilai sejumlah kebijakan yang ada masih perlu ditinjau ulang demi kesejahteraan masyarakat. Spanduk yang dibentangkan di Tugu Tani memuat pesan-pesan terkait tuntutan tersebut. Orasi dan yel-yel turut mengiringi aksi di lokasi. Unjuk rasa ini bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Momentum peringatan tersebut dimanfaatkan para demonstran untuk menyampaikan evaluasi terhadap kinerja pemerintah. Tugu Tani dipilih sebagai lokasi strategis karena posisinya yang ikonik di pusat ibu kota. Kehadiran massa di monumen tersebut menjadi sorotan.

Tugu Tani yang biasanya menjadi landmark kawasan Thamrin-Merdeka sempat didominasi aktivitas pengunjuk rasa. Mereka naik ke struktur monumen untuk memastikan spanduk tuntutan terlihat jelas dari berbagai arah. Langkah tersebut dilakukan agar pesan yang disampaikan dapat menjangkau publik lebih luas. Pengamanan di sekitar lokasi tetap dilakukan aparat. Desakan penetapan karhutla sebagai bencana nasional menjadi salah satu poin yang paling menonjol. Para pengunjuk rasa menilai kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah telah menimbulkan dampak luas. Kabut asap yang menyebar hingga lintas daerah dan negara menjadi alasan mengapa status bencana nasional dinilai mendesak. Penanganan terkoordinasi diharapkan segera terwujud.

Tuntutan perbaikan kebijakan ekonomi juga menjadi bagian penting dari aksi tersebut. Spanduk yang dibentangkan memuat pesan agar pemerintah lebih memperhatikan kondisi masyarakat. Evaluasi terhadap kebijakan yang dinilai belum berpihak kepada rakyat menjadi salah satu isu yang diangkat. Aksi damai menjadi pilihan yang diambil para demonstran. Momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi latar waktu yang sengaja dipilih. Pengunjuk rasa ingin menyampaikan catatan kritis di tengah peringatan tersebut. Tugu Tani sebagai simbol perjuangan petani dipilih untuk memperkuat pesan aspirasi rakyat. Kehadiran massa di lokasi tersebut menjadi bagian dari dinamika demokrasi.

Aparat kepolisian terlihat bersiaga di sekitar kawasan Tugu Tani selama aksi berlangsung. Pengamanan dilakukan untuk menjaga ketertiban dan mencegah potensi gangguan. Situasi relatif terkendali meski pengunjuk rasa naik ke monumen. Koordinasi di lapangan menjadi kunci kelancaran aksi. Pembentangan spanduk di ketinggian Tugu Tani membuat pesan tuntutan mudah terbaca oleh pengendara dan pejalan kaki. Visualisasi aksi tersebut kemudian tersebar melalui media sosial dan pemberitaan. Publik dapat melihat langsung isu-isu yang disuarakan para demonstran. Keterbukaan ruang publik menjadi bagian dari penyampaian aspirasi.

Isu karhutla yang diangkat dalam aksi ini sejalan dengan kondisi sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan yang masih berjuang menghadapi kebakaran. Dampak asap terhadap kesehatan masyarakat menjadi perhatian serius. Desakan status bencana nasional diharapkan mendorong respons yang lebih cepat dan menyeluruh. Pemerintah menjadi pihak yang dituju dalam tuntutan tersebut. Perbaikan kebijakan ekonomi yang dituntut pengunjuk rasa mencakup harapan akan kondisi yang lebih baik bagi masyarakat luas. Evaluasi terhadap kebijakan yang ada menjadi catatan yang ingin disampaikan. Aksi di Tugu Tani menjadi salah satu saluran bagi warga untuk bersuara. Demokrasi memberikan ruang bagi penyampaian pendapat secara damai.

Pemilihan Tugu Tani sebagai lokasi aksi memiliki makna tersendiri. Monumen yang menggambarkan semangat petani dan rakyat kecil menjadi latar yang relevan dengan tuntutan yang dibawa. Pengunjuk rasa memanfaatkan simbol tersebut untuk memperkuat pesan. Visual aksi di monumen menjadi bagian dari strategi penyampaian aspirasi. Aksi yang berlangsung pada Selasa tersebut menjadi salah satu catatan dalam dinamika politik dan sosial di ibu kota. Momentum dua tahun pemerintahan dimanfaatkan untuk menyampaikan kritik dan harapan. Spanduk tuntutan yang dibentangkan menjadi dokumen visual dari aspirasi yang disuarakan. Publik menyaksikan perkembangan aksi melalui berbagai saluran informasi.