Pertalite Eceran di Denpasar Tembus Rp100 Ribu per 1,5 Liter, Warga Rela Beli demi Hindari Antrean SPBU

Memuat berita

Nasional

Pertalite Eceran di Denpasar Tembus Rp100 Ribu per 1,5 Liter, Warga Rela Beli demi Hindari Antrean SPBU

Fazlur Rahman · 15 Oktober 2026 · 18:34 WIB · 2 dibaca
Pertalite Eceran di Denpasar Tembus Rp100 Ribu per 1,5 Liter, Warga Rela Beli demi Hindari Antrean SPBU

Foto: IntangMedia.com

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali dimanfaatkan sebagian warga untuk menjual Pertalite secara eceran dengan harga tinggi. Di Denpasar, harga Pertalite eceran dilaporkan mencapai Rp70 ribu hingga Rp100 ribu untuk 1,5 liter, jauh di atas harga normal di SPBU yang berkisar Rp10 ribu per liter.

Situasi tersebut terjadi di tengah antrean kendaraan yang terlihat di sejumlah wilayah, termasuk Denpasar, Badung, dan Tabanan. Warga yang membutuhkan BBM untuk menunjang aktivitas sehari-hari dihadapkan pada pilihan antara mengantre selama berjam-jam atau membeli bahan bakar eceran dengan harga jauh lebih mahal.

Salah seorang penjual berinisial FH mengaku menjual Pertalite dengan harga Rp70 ribu hingga Rp100 ribu per 1,5 liter. Kepada wartawan pada Rabu (14/10/2026), FH menjelaskan bahwa dirinya memperoleh BBM dengan cara mengantre di SPBU menggunakan mobil.

Ia menyebut pembelian dilakukan hingga batas 30 liter, kemudian BBM dipindahkan ke botol air mineral untuk dijual kembali kepada warga yang membutuhkan. Praktik tersebut membuat Pertalite tersedia di luar SPBU, tetapi dengan harga yang melonjak tajam dibandingkan harga pembelian normal.

Jika dibandingkan dengan harga sekitar Rp10 ribu per liter di SPBU, pembeli harus mengeluarkan biaya berlipat untuk mendapatkan jumlah BBM yang sama melalui penjual eceran tersebut. Kondisi ini tentu menambah beban pengeluaran masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja dan menjalankan usaha.

Meski harganya tinggi, sebagian warga tetap memilih membeli Pertalite eceran. Salah satu alasannya adalah antrean di SPBU yang dapat berlangsung selama tiga hingga lima jam. Waktu tunggu yang panjang membuat warga kesulitan membagi waktu antara memenuhi kebutuhan BBM dan menyelesaikan pekerjaan.

Anis, salah seorang pembeli, mengaku memilih membeli Pertalite eceran karena sudah dua hari tidak bekerja dan tidak ingin kembali kehilangan waktu untuk mengantre. Bagi warga yang mengandalkan kendaraan untuk mencari penghasilan, keterbatasan akses BBM dapat berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi sehari-hari.

Situasi tersebut semakin menyulitkan warga karena mereka harus menunggu di tengah cuaca panas Bali yang dilaporkan mencapai 33 derajat Celsius. Antrean panjang dan suhu tinggi menambah ketidaknyamanan masyarakat yang berusaha mendapatkan bahan bakar.

Hingga berita ini ditulis, antrean kendaraan masih terlihat di SPBU Kreneng, Jalan Kamboja, Denpasar. Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan ketersediaan BBM masih dirasakan masyarakat di lokasi tersebut.

Lonjakan harga Pertalite eceran di tengah kelangkaan juga menyoroti pentingnya pengawasan distribusi dan penjualan BBM. Di satu sisi, warga membutuhkan akses bahan bakar untuk beraktivitas; di sisi lain, penjualan dengan harga jauh di atas harga SPBU berpotensi menambah beban masyarakat yang sedang menghadapi keterbatasan pasokan.

Kondisi di Denpasar, Badung, dan Tabanan kini menjadi perhatian karena kelancaran pasokan BBM sangat berpengaruh terhadap mobilitas warga. Masyarakat berharap ketersediaan bahan bakar segera kembali normal sehingga antrean panjang berkurang dan kebutuhan BBM dapat dipenuhi tanpa harus membayar harga eceran yang melambung tinggi.