Rocky Gerung Buka Suara soal Isu Gaji Wantimpres Rp76,5 Juta: “Itu Uang Receh, Ambil Aja!”
Pengamat politik Rocky Gerung akhirnya angkat bicara menanggapi rumor mengenai besaran gaji yang disebut-sebut akan diterimanya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Di tengah kabar mengenai nominal penghasilan pejabat tersebut, Rocky menegaskan bahwa bekerja dalam jabatan formal dan memiliki uang merupakan dua hal yang berbeda.
Pernyataan itu disampaikan Rocky saat menjadi narasumber dalam dialog di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored. Dalam perbincangan tersebut, isu mengenai gaji Wantimpres menjadi salah satu topik yang dibahas, termasuk anggapan bahwa seseorang dapat tertarik masuk ke lingkungan pemerintahan karena mengincar penghasilan tetap.
Akbar Faizal secara langsung menyinggung rumor angka Rp76,5 juta yang beredar di publik dan disebut-sebut sebagai besaran gaji bersih pejabat Wantimpres setelah pelantikan oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara. Namun, angka tersebut perlu dipahami sebagai informasi yang menjadi bahan pembicaraan dalam dialog, bukan sebagai nominal yang telah dipastikan diterima Rocky.
Menanggapi berbagai anggapan tersebut, Rocky menyampaikan pandangannya dengan gaya khas yang santai dan lugas. Ia menolak anggapan bahwa seseorang yang tidak memiliki pekerjaan formal otomatis berada dalam kondisi ekonomi sulit. Menurutnya, status pekerjaan tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai keadaan finansial seseorang.
“Bagi saya, tidak memiliki pekerjaan tetap itu berbeda dengan tidak punya uang. Saya tidak pernah merasa miskin,” tegas Rocky dalam perbincangan tersebut.
Pernyataan itu sekaligus menjadi respons terhadap sebutan “pengangguran” yang kerap dilekatkan kepadanya. Rocky ingin menegaskan bahwa tidak terikat pada pekerjaan formal bukan berarti seseorang tidak memiliki aktivitas, penghasilan, ataupun kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Selama ini, Rocky dikenal sebagai akademisi dan pengamat politik yang kerap menyampaikan pandangan kritis terhadap berbagai persoalan sosial dan pemerintahan. Ia juga sering tampil dalam diskusi publik, wawancara, serta podcast untuk membahas dinamika politik nasional. Karena itu, menurut pandangan yang disampaikannya, ukuran pekerjaan formal tidak serta-merta dapat menggambarkan seluruh aktivitas maupun kondisi ekonomi seseorang.
Isu mengenai penghasilan pejabat publik sendiri kerap menarik perhatian masyarakat, terutama ketika dikaitkan dengan penunjukan seseorang ke dalam lingkaran pemerintahan. Besaran gaji, tunjangan, dan fasilitas jabatan sering menjadi bahan perbincangan karena menyangkut penggunaan anggaran negara serta ekspektasi publik terhadap pejabat yang menerima amanah.
Dalam konteks tersebut, rumor mengenai gaji Wantimpres turut memunculkan spekulasi tentang alasan seseorang bersedia masuk ke struktur pemerintahan. Sebagian anggapan mengaitkan jabatan dengan jaminan penghasilan bulanan, sementara pernyataan Rocky menyoroti bahwa persoalan pekerjaan dan uang tidak dapat disederhanakan menjadi hubungan yang sama.
Meski demikian, pernyataan Rocky mengenai pandangan pribadinya tidak dengan sendirinya membuktikan ataupun membantah besaran gaji yang beredar. Kepastian mengenai penghasilan pejabat perlu merujuk pada ketentuan resmi yang mengatur hak keuangan jabatan terkait, bukan hanya pada angka yang ramai diperbincangkan.
Pernyataan Rocky pun kembali menyoroti perdebatan yang lebih luas mengenai cara masyarakat menilai pekerjaan, penghasilan, dan status sosial seseorang. Baginya, tidak memiliki pekerjaan tetap tidak otomatis berarti tidak memiliki uang atau berada dalam kemiskinan.
Melalui pernyataan tersebut, Rocky menegaskan sikapnya terhadap label “pengangguran” sekaligus menanggapi spekulasi yang menghubungkan jabatan pemerintahan dengan kepentingan materi. Adapun kebenaran mengenai angka gaji Rp76,5 juta yang disebut dalam dialog tetap perlu dipastikan melalui sumber resmi agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.