Rumah Sakit Rusak Diterjang Gempa NTT, Pasien Dirawat di Tenda Darurat
NTT — Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya merusak rumah warga dan fasilitas umum, tetapi juga menghantam fasilitas kesehatan yang menjadi tumpuan masyarakat. Di tengah kerusakan bangunan, tenaga medis kini berpacu dengan waktu untuk memastikan pasien tetap mendapatkan perawatan. Salah satu fasilitas kesehatan yang terdampak cukup parah adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, Kabupaten Manggarai. Sejumlah bagian bangunan rumah sakit mengalami kerusakan sehingga pelayanan medis di beberapa ruangan tidak dapat berjalan seperti biasa. Pegawai kehumasan RSUD Ruteng, Rista Mari, mengatakan dampak gempa terasa cukup berat terhadap kondisi bangunan rumah sakit.
“Atap serta tembok bangunan roboh,” kata Rista.
Kerusakan tersebut membuat sejumlah ruangan kehilangan fungsinya. Beberapa fasilitas penting, mulai dari ruang operasi, ruang persalinan, farmasi hingga laboratorium, terdampak dan tidak dapat digunakan secara normal. Situasi ini membuat pihak rumah sakit harus mengambil langkah cepat agar pelayanan terhadap pasien tetap berlangsung.
Dengan kondisi bangunan yang tidak sepenuhnya aman, rumah sakit mendirikan tenda darurat sebagai tempat perawatan sementara bagi pasien. Tenda tersebut menjadi ruang alternatif di tengah keterbatasan fasilitas. Pasien yang sebelumnya dirawat di dalam gedung dipindahkan ke area yang dianggap lebih aman. Per Minggu (16/8/2026) siang, sebanyak 32 pasien masih menjalani perawatan di tenda darurat. Dari jumlah tersebut, empat orang merupakan korban gempa. Pemindahan pasien bukan perkara sederhana. Tenaga kesehatan harus memastikan pasien tetap mendapatkan obat, pemantauan kondisi, serta tindakan medis yang dibutuhkan meski fasilitas yang tersedia jauh dari kondisi normal.
Selain mendirikan tenda, pihak RSUD Ruteng juga menyiapkan ruang medis pengganti untuk menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan. Langkah tersebut menjadi solusi sementara sembari menunggu kondisi bangunan dapat diperiksa dan dinyatakan aman untuk digunakan kembali. Bagi rumah sakit, waktu menjadi faktor penting. Pasien tetap membutuhkan layanan kesehatan setiap saat, sementara kerusakan fasilitas membuat ruang gerak tenaga medis semakin terbatas. Kondisi menjadi semakin berat apabila pasien membutuhkan layanan yang biasanya dilakukan di ruang khusus seperti operasi, persalinan, laboratorium, maupun layanan farmasi.
Situasi serupa juga terjadi di sejumlah fasilitas kesehatan lain di wilayah terdampak gempa NTT. Pasien harus dipindahkan ke tenda darurat atau ruang sementara akibat kerusakan bangunan. Di sisi lain, tenaga kesehatan juga menghadapi keterbatasan obat-obatan, peralatan medis, dan jumlah personel. Padahal, kebutuhan pelayanan kesehatan justru meningkat setelah bencana. Selain pasien yang telah menjalani perawatan sebelum gempa, fasilitas kesehatan juga harus menangani korban yang mengalami luka akibat guncangan maupun runtuhan bangunan. Kondisi tersebut menempatkan tenaga medis dalam situasi yang penuh tekanan. Mereka harus memberikan pelayanan dalam ruang yang terbatas, dengan fasilitas yang tidak selengkap kondisi normal.
Bencana membuat fasilitas kesehatan berada dalam posisi yang sangat penting sekaligus rentan. Ketika rumah sakit mengalami kerusakan, masyarakat kehilangan salah satu tempat utama untuk memperoleh pertolongan medis. Karena itu, keberadaan tenda darurat dan ruang medis sementara menjadi sangat penting untuk memastikan pelayanan tidak berhenti total. Para tenaga kesehatan pun terus bekerja di tengah situasi darurat. Mereka harus menjaga pasien tetap mendapatkan perawatan sambil menyesuaikan diri dengan kondisi fasilitas yang berubah secara drastis. Gempa telah merusak dinding, atap, dan ruang-ruang pelayanan. Namun, pelayanan kesehatan tidak boleh ikut berhenti. Di tengah tenda darurat, keterbatasan obat, serta fasilitas yang belum pulih, para petugas medis tetap berusaha menjaga satu hal yang paling penting: keselamatan dan kesehatan pasien.