Tiga Tim Dikerahkan Padamkan Karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting, Akses 1,8 Kilometer Berhasil Dibuka

Memuat berita

Nasional

Tiga Tim Dikerahkan Padamkan Karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting, Akses 1,8 Kilometer Berhasil Dibuka

Fazlur Rahman · 19 Oktober 2026 · 11:26 WIB · 2 dibaca
Tiga Tim Dikerahkan Padamkan Karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting, Akses 1,8 Kilometer Berhasil Dibuka

Foto: Bsinews.id

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, ditangani melalui pengerahan tiga tim dengan tugas berbeda. Upaya penanganan difokuskan pada pemadaman api, pembukaan akses menuju lokasi kebakaran, serta pembangunan sumur bor dan penyediaan sumber air untuk mendukung operasi di lapangan.

Pembagian tugas tersebut dilakukan untuk mempercepat penanganan karhutla di kawasan konservasi yang memiliki tantangan akses dan kebutuhan logistik. Ketiga tim terdiri atas tim pembuka jalan, tim sumur bor, dan tim pemadaman. Masing-masing menjalankan fungsi yang saling mendukung agar personel dapat menjangkau titik kebakaran dan memperoleh pasokan air secara lebih efektif.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, tim pembuka jalan telah berhasil membuka akses berupa jalan setapak sepanjang sekitar 1,8 kilometer menuju Shelter Pesalat. Jalur tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung mobilisasi petugas, pengangkutan peralatan pemadaman, serta distribusi air ke lokasi yang terdampak kebakaran.

Pembukaan akses menjadi salah satu pekerjaan krusial dalam penanganan karhutla, terutama ketika titik api berada jauh dari jalur yang dapat dilalui kendaraan atau peralatan berat. Dengan adanya jalur setapak tersebut, petugas diharapkan dapat bergerak lebih mudah menuju lokasi yang membutuhkan penanganan, meskipun kondisi medan dan vegetasi tetap menjadi tantangan tersendiri.

Raja Juli bersama jajaran terkait juga turun langsung menelusuri jalan setapak yang baru dibuka dari kawasan Tanjung Harapan menuju Shelter Pesalat. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan pekerjaan di lapangan sekaligus meninjau langkah-langkah yang disiapkan guna mendukung pemadaman.

Di lokasi tersebut, Menteri Kehutanan turut meninjau pembuatan embung yang dirancang untuk menampung air. Air yang tersedia nantinya akan dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pemadaman di titik api. Keberadaan sumber air di sekitar lokasi menjadi faktor penting karena operasi pemadaman membutuhkan pasokan yang memadai dan dapat dijangkau secara berkelanjutan.

Selain pembangunan embung, tim sumur bor bertugas mendukung penyediaan sumber air untuk kebutuhan operasi. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi kendala logistik yang muncul ketika petugas harus membawa air dari lokasi yang jauh. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi sumber air, akses menuju titik kebakaran, serta kebutuhan pemadaman di masing-masing lokasi.

Sementara itu, tim pemadaman berfokus menangani api di area terdampak. Pelaksanaan tugas tersebut perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medan, arah angin, potensi penyebaran api, dan keselamatan personel. Koordinasi antara tim pemadaman, pembuka jalan, dan penyedia sumber air menjadi penting agar upaya penanganan dapat berjalan secara terpadu.

Karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian karena lokasi tersebut merupakan kawasan konservasi yang memiliki nilai penting bagi kelestarian hutan dan habitat satwa liar. Kebakaran yang meluas berpotensi merusak vegetasi, mengganggu ekosistem, serta mengancam satwa yang bergantung pada habitat hutan untuk mencari makan dan berkembang biak.

Dalam situasi seperti ini, penanganan tidak hanya ditujukan untuk memadamkan api yang terlihat di permukaan. Petugas juga perlu mewaspadai kemungkinan bara yang masih tersimpan di dalam bahan organik atau lapisan tanah, karena dapat memicu munculnya kembali titik api apabila kondisi mendukung. Pemantauan lanjutan setelah pemadaman menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.

Pembukaan akses sepanjang sekitar 1,8 kilometer dan pembangunan fasilitas penyediaan air menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan dukungan infrastruktur sekaligus operasi pemadaman langsung. Tanpa akses yang memadai dan pasokan air yang cukup, pergerakan personel serta pengendalian api dapat menghadapi hambatan, khususnya di wilayah hutan dengan medan yang sulit dijangkau.

Melalui pengerahan tiga tim tersebut, upaya penanganan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting diharapkan dapat berlangsung lebih terarah. Koordinasi antartim, ketersediaan air, akses menuju titik api, dan pemantauan kondisi kawasan akan menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas penanganan.

Meski berbagai langkah telah dilakukan, perkembangan situasi kebakaran tetap perlu dipantau hingga seluruh titik api berhasil dikendalikan dan tidak lagi ditemukan potensi penyalaan kembali. Informasi mengenai luas area terdampak, jumlah titik api yang berhasil dipadamkan, serta kondisi terkini kawasan diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai perkembangan penanganan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting.