Tito Karnavian Ungkap Sulitnya Padamkan Karhutla di Lahan Gambut, Butuh Air dalam Jumlah Besar

Memuat berita

Nasional

Tito Karnavian Ungkap Sulitnya Padamkan Karhutla di Lahan Gambut, Butuh Air dalam Jumlah Besar

Fazlur Rahman · 22 Oktober 2026 · 17:27 WIB · 2 dibaca
Tito Karnavian Ungkap Sulitnya Padamkan Karhutla di Lahan Gambut, Butuh Air dalam Jumlah Besar

Foto: Kompas.com

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkap salah satu tantangan utama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Menurut Tito, kebakaran di lahan gambut jauh lebih sulit dipadamkan dibandingkan kebakaran di tanah mineral karena api dapat merambat hingga ke lapisan bawah permukaan tanah.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dengan menyiram bagian permukaan yang terlihat terbakar. Api yang telah menjalar ke dalam lapisan gambut dapat tetap menyala meskipun kobaran di permukaan mulai berkurang. Karena itu, penanganan kebakaran gambut membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar agar panas dan bara di lapisan bawah dapat ditangani secara efektif.

Tito menjelaskan, karakteristik tanah mineral dan lahan gambut menjadi salah satu faktor yang menentukan tingkat kesulitan pemadaman. Pada tanah mineral, kebakaran relatif lebih mudah ditangani karena api umumnya tidak merambat dengan cara yang sama hingga jauh ke bawah permukaan tanah. Sementara itu, material organik pada lahan gambut dapat terbakar di bawah permukaan sehingga proses pemadaman memerlukan upaya lebih intensif.

Menurut Tito, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk mengatasi kebakaran di lahan gambut. Air harus mampu menjangkau area yang terbakar, termasuk bagian bawah tanah yang menyimpan bara. Jika pasokan air tidak mencukupi atau tidak menjangkau titik api, kebakaran berisiko bertahan dan kembali muncul di permukaan.

Salah satu cara untuk menyediakan air dalam jumlah besar adalah melalui hujan. Tito menyebut dua sumber hujan yang dapat dimanfaatkan dalam upaya penanganan karhutla, yakni hujan alami dan hujan buatan melalui teknologi modifikasi cuaca atau cloud seeding

“Ini pertama harus ada air dari udara, yaitu bentuk hujan. Hujan ini ada dua: hujan alami dan hujan buatan, cloud seeding, modifikasi cuaca,” kata Tito.

Hujan alami dapat membantu meningkatkan kelembapan lahan dan mengurangi kondisi kering yang mendukung penyebaran api. Sementara itu, modifikasi cuaca dilakukan melalui upaya memicu pertumbuhan awan hujan pada kondisi atmosfer yang memungkinkan. Meski demikian, keberhasilan hujan buatan bergantung pada ketersediaan awan dan kondisi cuaca, sehingga pelaksanaannya tidak selalu menghasilkan hujan di lokasi yang ditargetkan.

Selain mengandalkan hujan, Tito menjelaskan bahwa air juga dapat dialirkan dari sumber-sumber yang berada di sekitar lokasi kebakaran. Upaya ini dapat dilakukan untuk memasok kebutuhan pemadaman, terutama ketika lahan yang terbakar berada jauh dari sumber air atau mengalami kekeringan berkepanjangan.

Penanganan kebakaran gambut membutuhkan perencanaan distribusi air yang tepat karena luasnya area terdampak dan karakteristik lahan dapat menyulitkan petugas menjangkau titik api. Ketersediaan sumber air, akses menuju lokasi, serta kemampuan peralatan pemadaman menjadi bagian penting dalam menentukan efektivitas penanganan.

Tito juga mencontohkan penggunaan bahan kimia untuk membantu proses pemadaman karhutla di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Salah satu bahan yang disebut adalah surfaktan, yakni senyawa yang dapat menurunkan tegangan permukaan atau tegangan antarmuka antara zat-zat tertentu.

Dalam proses pemadaman, formulasi surfaktan tertentu dapat membantu air membasahi material yang terbakar dengan lebih baik. Dengan kemampuan pembasahan yang meningkat, air berpotensi menjangkau permukaan bahan bakar yang sebelumnya lebih sulit ditembus, sehingga proses pemadaman dapat menjadi lebih efektif.

Menurut Tito, penggunaan bahan tersebut memungkinkan proses pemadaman dilakukan dengan volume air yang lebih sedikit. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada jenis bahan yang digunakan, kondisi lahan, metode aplikasi, dan karakteristik kebakaran. Penggunaan bahan kimia juga perlu mengikuti prosedur teknis dan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla, khususnya di lahan gambut, tidak hanya bergantung pada besarnya upaya pemadaman, tetapi juga pada pemahaman terhadap karakteristik lahan yang terbakar. Metode yang efektif untuk kebakaran di tanah mineral belum tentu memberikan hasil yang sama ketika diterapkan pada gambut.

Di wilayah Sumatera dan Kalimantan, karakteristik lahan gambut menjadi tantangan tersendiri ketika kondisi kering memicu kebakaran. Api yang menjalar di bawah permukaan dapat sulit dideteksi secara visual dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan. Karena itu, pemantauan titik panas, penanganan dini, dan ketersediaan air menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan kebakaran.

Selain pemadaman, pencegahan juga memiliki peran penting untuk menekan risiko karhutla. Pengawasan terhadap area rawan, pengelolaan tata air gambut, serta kesiapan petugas dan peralatan dapat membantu mengurangi kemungkinan kebakaran meluas. Langkah pencegahan menjadi semakin penting ketika cuaca kering berlangsung lama dan sumber air semakin terbatas.

Pemaparan Tito Karnavian menegaskan bahwa penanganan kebakaran di lahan gambut membutuhkan pendekatan khusus, mulai dari penyediaan air melalui hujan atau sumber di sekitar lokasi hingga penggunaan bahan pendukung pemadaman. Kombinasi metode yang sesuai dengan kondisi lapangan diharapkan dapat membantu petugas mengendalikan api secara lebih efektif sekaligus mengurangi risiko kebakaran kembali meluas.