Tragis! Bocah 7 Tahun Tenggelam di Sungai Kelay Berau, Ditemukan Meninggal Setelah Pencarian hingga Malam

Memuat berita

Nasional

Tragis! Bocah 7 Tahun Tenggelam di Sungai Kelay Berau, Ditemukan Meninggal Setelah Pencarian hingga Malam

Fazlur Rahman · 13 Oktober 2026 · 16:06 WIB · 3 dibaca
Tragis! Bocah 7 Tahun Tenggelam di Sungai Kelay Berau, Ditemukan Meninggal Setelah Pencarian hingga Malam

Foto: Berau Terkini

Kabar duka menyelimuti warga Kampung Tumbit Melayu, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Seorang anak laki-laki berinisial BL, berusia 7 tahun, ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di Sungai Kelay, Kecamatan Sambaliung, pada Senin (12/10/2026) malam. Peristiwa tragis ini terjadi ketika korban berenang bersama delapan rekannya setelah pulang mengaji.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian bermula sekitar pukul 15.30 WITA. Saat itu, korban bersama delapan temannya pergi ke Sungai Kelay untuk berenang. Aktivitas tersebut diduga berlangsung seperti kegiatan bermain anak-anak pada umumnya, sebelum akhirnya berubah menjadi peristiwa yang berujung duka.

Di tengah aktivitas berenang, korban diduga terseret arus sungai yang cukup deras. Kondisi tersebut membuat BL tidak lagi terlihat di permukaan air. Teman-temannya pun menghadapi situasi yang membahayakan, sementara keberadaan korban menjadi perhatian warga di sekitar lokasi.

Setelah korban dilaporkan tenggelam, upaya pencarian dilakukan untuk menemukan keberadaannya. Warga berusaha menyisir kawasan sungai hingga malam hari. Pencarian yang berlangsung selama beberapa jam itu akhirnya membuahkan hasil ketika jasad korban ditemukan.

Namun, harapan keluarga agar korban dapat ditemukan dalam keadaan selamat tidak terwujud. BL ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Peristiwa ini meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga serta masyarakat Kampung Tumbit Melayu yang turut mengikuti proses pencarian.

Sungai Kelay merupakan bagian dari bentang alam yang menjadi keseharian masyarakat di Kabupaten Berau. Meski demikian, kondisi sungai dapat berubah dan menyimpan bahaya, terutama ketika arus mengalir deras. Bagi anak-anak yang belum mampu memperkirakan kekuatan arus dan kedalaman air, berenang tanpa pengawasan orang dewasa dapat meningkatkan risiko kecelakaan.

Dalam kejadian ini, dugaan bahwa korban terseret arus menjadi salah satu informasi utama yang beredar. Meski begitu, rincian mengenai bagaimana korban mulai tenggelam, kondisi kedalaman air di titik kejadian, serta upaya pertolongan pertama yang dilakukan masih belum diketahui secara lengkap.

Informasi mengenai proses evakuasi setelah korban ditemukan dan penanganan lebih lanjut terhadap jenazah juga belum dijelaskan secara terperinci. Karena itu, kronologi lengkap peristiwa tersebut masih memerlukan keterangan tambahan dari pihak terkait.

Tragedi ini kembali menjadi pengingat penting bagi orang tua dan masyarakat agar meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak yang bermain di sekitar sungai. Anak-anak sebaiknya tidak berenang tanpa pendampingan orang dewasa, terlebih di lokasi yang memiliki arus deras atau kedalaman yang tidak diketahui secara pasti.

Selain pengawasan, masyarakat juga perlu membiasakan anak-anak mengenali bahaya di lingkungan perairan. Bermain di sungai tidak boleh dianggap sebagai aktivitas yang sepenuhnya aman, karena kondisi arus dapat berubah dan membuat seseorang kesulitan menyelamatkan diri.

Peristiwa yang menimpa BL menjadi duka bagi keluarga dan warga Berau. Kejadian ini sekaligus mengingatkan bahwa kewaspadaan saat beraktivitas di sekitar sungai sangat penting untuk mencegah kecelakaan serupa terulang. Di tengah suasana kehilangan, keselamatan anak-anak perlu menjadi perhatian bersama, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.