Viral! Raja Charles III Fasih Kutip Hadis Nabi Muhammad dalam Bahasa Arab saat Jamuan Sultan Oman

Memuat berita

Berita International

Viral! Raja Charles III Fasih Kutip Hadis Nabi Muhammad dalam Bahasa Arab saat Jamuan Sultan Oman

Fazlur Rahman · 26 Oktober 2026 · 14:20 WIB · 2 dibaca
Viral! Raja Charles III Fasih Kutip Hadis Nabi Muhammad dalam Bahasa Arab saat Jamuan Sultan Oman

Foto: Suara Independent News

Raja Inggris Charles III menjadi sorotan publik internasional setelah melafalkan hadis Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Arab saat menjamu Sultan Oman Haitham bin Tariq di Kastil Windsor, Inggris. Momen tersebut berlangsung dalam jamuan makan malam kenegaraan pada 20 Oktober 2026, sebagai bagian dari kunjungan resmi Sultan Oman yang menjadi kunjungan kenegaraan pertama seorang sultan Oman ke Inggris dalam 44 tahun. 

Kutipan hadis yang disampaikan Charles bukan sekadar bagian dari pidato diplomatik. Raja Inggris itu menggunakannya untuk memberikan penghormatan kepada masyarakat Oman, khususnya tradisi keramahan, kesantunan, dan sikap mereka terhadap orang lain. Rekaman ketika Charles melafalkan hadis tersebut dalam bahasa Arab kemudian menyebar luas di media sosial dan menarik perhatian warganet dari berbagai negara.

Dalam pidatonya, Charles mengutip perkataan Nabi Muhammad SAW yang maknanya, “Jika engkau datang kepada penduduk Oman, mereka tidak akan mencelamu maupun memukulmu.” Hadis tersebut tercantum dalam Sahih Muslim

Penggunaan bahasa Arab dalam momen resmi kerajaan Inggris tersebut menjadi salah satu hal yang membuat pidato Charles mendapat perhatian luas. Ia tidak hanya menyampaikan sambutan formal kepada kepala negara yang berkunjung, tetapi juga menggunakan referensi keagamaan yang dekat dengan identitas dan sejarah masyarakat Oman. Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana pemahaman terhadap tradisi dan budaya dapat menjadi bagian dari komunikasi diplomatik.

Jamuan kenegaraan itu digelar dalam rangka kunjungan Sultan Haitham ke Inggris selama tiga hari. Raja Charles dan Ratu Camilla menyambut sang sultan di Kastil Windsor sebelum menggelar rangkaian acara resmi, termasuk jamuan makan malam yang dihadiri sekitar 160 tamu. Kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan bilateral yang telah terjalin selama beberapa generasi. 

Selain memuji masyarakat Oman melalui kutipan hadis, Charles menyoroti peran negara Teluk tersebut dalam upaya membangun perdamaian di tengah konflik regional. Ia memberikan apresiasi terhadap komitmen Oman dalam menjaga komunikasi dengan berbagai pihak dan menjalankan peran sebagai penghubung diplomatik ketika ketegangan politik maupun keamanan meningkat.

Charles menilai posisi Oman sebagai mitra dialog yang dipercaya berbagai pihak memiliki arti penting, terutama ketika konflik kembali menimbulkan penderitaan di kawasan Timur Tengah. Ia juga menyinggung upaya Oman dalam membantu membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang berperan besar dalam perdagangan internasional dan distribusi energi dunia.

Oman selama ini dikenal menjalankan pendekatan diplomasi yang relatif independen dalam menghadapi ketegangan regional. Hubungan dengan berbagai pihak memungkinkan negara tersebut mengambil peran sebagai mediator dalam pembicaraan yang melibatkan kepentingan berbeda. Di tengah situasi konflik, jalur komunikasi semacam itu dinilai penting untuk membuka ruang dialog dan mengurangi risiko eskalasi.

Dalam kesempatan yang sama, Sultan Haitham menegaskan pilihan negaranya untuk mengutamakan diplomasi. Ia menggambarkan Oman sebagai negara yang memilih jalan independen di kawasan yang telah lama dilanda konflik, seraya mengapresiasi dukungan Inggris terhadap pendekatan tersebut. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa kunjungan kenegaraan tersebut tidak hanya berorientasi pada hubungan seremonial, tetapi juga menyangkut kerja sama dan kepentingan strategis kedua negara. 

Hubungan Inggris dan Oman mencakup sejumlah bidang, termasuk keamanan, perdagangan, investasi, dan kerja sama regional. Kunjungan Sultan Haitham juga membuka kesempatan bagi kedua negara untuk membahas kepentingan bersama serta memperkuat kemitraan di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah.

Di luar agenda politik dan keamanan, momen Charles mengutip hadis Nabi Muhammad SAW memberikan dimensi budaya dan kemanusiaan pada kunjungan tersebut. Pesan tentang keramahan dan perlakuan baik terhadap sesama menjadi jembatan untuk menunjukkan penghormatan terhadap tradisi masyarakat Oman, sekaligus menegaskan bahwa hubungan antarnegara dapat dibangun melalui pemahaman terhadap sejarah, nilai, dan identitas masing-masing.

Viralnya rekaman tersebut menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap gestur yang dianggap melampaui protokol diplomatik biasa. Meski sebuah kutipan tidak serta-merta menyelesaikan persoalan politik atau konflik, penggunaan referensi budaya dan keagamaan yang tepat dapat menjadi simbol penghormatan dan membuka ruang pemahaman lintas masyarakat.

Melalui pidato tersebut, Raja Charles III menyoroti dua hal sekaligus: karakter masyarakat Oman yang ia puji melalui hadis Nabi Muhammad SAW dan peran diplomatik negara itu dalam mendorong dialog di tengah konflik. Momen di Kastil Windsor pun menjadi salah satu bagian paling menarik dari kunjungan Sultan Haitham, sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi, agama, dan diplomasi dapat bertemu dalam sebuah acara kenegaraan.