Akses Bantuan Sulit, Warga Desa Nitung Palue Harus Berjalan Kaki Berkilometer dan Bertahan dengan Ubi

Memuat berita

Nasional

Akses Bantuan Sulit, Warga Desa Nitung Palue Harus Berjalan Kaki Berkilometer dan Bertahan dengan Ubi

Fazlur Rahman · 23 Agustus 2026 · 02:49 WIB · 3 dibaca
Akses Bantuan Sulit, Warga Desa Nitung Palue Harus Berjalan Kaki Berkilometer dan Bertahan dengan Ubi

Foto: BBC

SIKKA, NTT — Kondisi warga terdampak gempa di Desa Nitung, Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih memprihatinkan. Keterbatasan akses membuat sejumlah warga harus berjalan kaki berkilo-kilometer menuju desa tetangga untuk mencari bantuan berupa terpal dan sembako.

Perjalanan menuju lokasi bantuan bukan perkara mudah. Warga harus melewati jalan setapak berbatu yang dipenuhi material longsor setelah gempa mengguncang wilayah tersebut. Medan yang sulit membuat perjalanan menjadi lebih berat, terutama bagi warga yang harus membawa kembali kebutuhan pokok untuk keluarga.

Harapan mendapatkan bantuan pun tidak selalu berujung sesuai harapan. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, sebagian warga justru mendapati persediaan terpal yang mereka cari telah habis.

Situasi tersebut menggambarkan tantangan distribusi bantuan ke wilayah yang aksesnya terputus atau sulit dilalui. Bagi warga Desa Nitung, jarak dan kondisi medan menjadi persoalan serius untuk mendapatkan kebutuhan dasar setelah bencana.

Keterbatasan pasokan membuat masyarakat harus menghemat bahan makanan yang masih tersedia. Warga memilih menyimpan persediaan untuk kebutuhan beberapa hari ke depan karena belum mengetahui kapan bantuan berikutnya dapat mencapai desa mereka.

Dalam kondisi tersebut, ubi dan hasil kebun yang masih tersisa menjadi salah satu sumber pangan yang diandalkan warga. Bahan makanan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari menunggu distribusi bantuan dapat menjangkau wilayah mereka.

Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa penanganan bencana tidak hanya membutuhkan ketersediaan bantuan, tetapi juga akses untuk mengantarkannya hingga ke masyarakat yang berada di wilayah terpencil. Bantuan yang telah tersedia di suatu titik belum tentu dapat langsung dirasakan warga apabila jalur menuju lokasi terdampak masih sulit dilalui.

Bagi masyarakat yang kehilangan atau mengalami kerusakan tempat tinggal, terpal menjadi kebutuhan penting untuk menyediakan tempat berlindung sementara. Sementara itu, sembako diperlukan untuk memastikan kebutuhan pangan keluarga tetap terpenuhi selama aktivitas masyarakat belum kembali normal.

Karena itu, percepatan distribusi menjadi sangat penting, terutama bagi desa-desa yang menghadapi kendala akses akibat longsor maupun kerusakan infrastruktur pascagempa. Pemetaan jalur alternatif dan pengiriman bantuan melalui moda transportasi yang sesuai dengan kondisi medan dapat menjadi bagian dari upaya menjangkau wilayah yang terisolasi.

Di tengah keterbatasan tersebut, warga Desa Nitung masih berupaya bertahan dengan sumber daya yang mereka miliki. Hasil kebun yang tersisa menjadi penopang sementara, sementara masyarakat terus berharap bantuan dapat segera menjangkau desa mereka.

Perjalanan warga yang harus berjalan kaki berkilo-kilometer hanya untuk mencari terpal dan sembako menunjukkan bahwa tantangan penanganan gempa di Palue bukan semata soal ketersediaan bantuan, tetapi juga bagaimana bantuan tersebut bisa benar-benar sampai kepada warga yang paling membutuhkan.